kumparan
KONTEN PUBLISHER
28 Januari 2020 19:55

Kekeringan Ancam Petani di Aceh Utara

image.png
Kondisi kekeringan di persawahan Gampong Seunebok Baro, Cot Girek, Aceh Utara. Foto: Chairul
Jhon Junaidi (39 tahun) tak dapat menahan gundah melihat padi-padi miliknya kering. Padahal padi baru saja ditanam di areal persawahan tadah hujan, kawasan Gampong Seunebok Baro, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara.
ADVERTISEMENT
Kekeringan sejak 3 bulan terakhir membuat Jhon dan para petani di sana berharap hujan segera turun. Mengingat ratusan hektar sawah di Cot Girek dalam kondisi kritis. Sebagian tanaman padi mulai mati, ancaman gagal panen di depan mata.
Kondisi yang terjadi saban tahun membuat masyarakat petani di sana mendesak pemerintah segera menangani persoalan tersebut. “Petani kerap merugi setiap kali sawah dilanda kekeringan, ditambah lagi tidak ada saluran irigasi atau embung,” katanya Senin (27/1).
Menurutnya, persawahan tadah hujan di Seuneubok Baro semuanya dalam kondisi kering. Akibat tidak ada air. “Petani kali ini ada yang gagal panen akibat tanaman padi mulai mati, dan ada pula yang gagal tanam akibat benih yang tumbuh tak sempat dicabut lantaran sawah menjadi kering," katanya Jhon Junaidi.
Jhon Juniaidi_warga.jpeg
Jhon Junaidi (tengah) petani. Foto: Chairul S
Sejauh ini, petani hanya mengupayakan mengaliri air ke sawah mereka dengan cara memakai pompa untuk mengalirkan air dari sumber air. Namun, upaya ini tak membuahkan hasil, mengingat sumber air juga kering di sana.
ADVERTISEMENT
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi IV DPRK Aceh Utara Nasrizal atau Cekbay, turun ke lokasi untuk memantau langsung kondisi lapangan. Dia mengaku prihatin atas kondisi itu, dan telah menerima beberapa masukan dari petani setempat. Pihaknya juga akan membahas persoalan ini.
"Kami akan berupaya lebih serius, karena anggota DPR dan pemerintah ini pasti kerja sama. Maka, kita akan mencoba mengupayakan bagaimana tindak lanjut mengenai masalah persawahan tadah hujan," katanya saat meninjau kawasan persawahan Desa Seuneubok Baro.
Lihat video berikut:
Video
Menurut Nasrizal, pihaknya mencoba untuk memasukkan aspirasi masyarakat setempat ke Musrenbang yang akan berlangsung pada Februari 2020 mendatang. "Sebagian desa memang ada yang menggunakan pompanisasi tetapi kendalanya debit air tidak cukup, bahkan tidak ada sama sekali apalagi di musim kering saat ini. Saya sudah mengkonfirmasikan masalah ini kepada Kadis Pertanian (Aceh Utara) sebagai masukan," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Satu-satunya jalan selain membangun saluran irigasi, maka bisa dibangun embung atau waduk penampungan air. Hal ini juga menjadi salah satu upaya pihaknya dalam menyikapi keluhan petani yang setiap tahun mengalami kerugian akibat dari kekeringan pada sawah mereka. [] Chairul S
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan