Keluarga Pasien Suspek Corona Mengamuk di Ruang Pinere RS Meulaboh, Aceh

Keluarga pasien suspek corona atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mengamuk di ruang pinere Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Aceh. Mereka memprotes paramedis yang dinilai lamban dan lalai saat menangani pasien.
Amukan tersebut terekam dalam sebuah video berdurasi 3 menit 51 detik yang beredar luas di media sosial. Dalam video itu, keluarga pasien tampak memaki paramedis yang sedang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Mereka juga turut melempar sejumlah barang ke arah tenaga kesehatan.
Rekaman video tersebut diambil oleh Irham Wahyudi, anak kandung pasien berinisial BR warga Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. BR yang berstatus PDP dirawat di ruang pinere RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh. Ia meninggal dunia sesaat setelah video tersebut direkam pada Rabu (26/8) malam.
Irham mengaku merekam video tersebut karena kesal terhadap paramedis yang dinilai lamban menangani pasien. Apalagi selama dirawat di sana, ayahnya hanya boleh dijaga oleh satu orang. Sedangkan anggota keluarga yang lain tidak diperbolehkan masuk ke ruang perawatan.
Menurut Irham, paramedis yang bertugas di ruang pinere sudah seharusnya selalu mengenakan APD, sehingga bila ada pasien yang tiba-tiba kritis langsung bergegas mengambil tindakan tanpa harus menunggu mengenakan APD.
Saat BR tiba-tiba kritis, menurut Irham, petugas lamban menanganinya karena harus mengenakan APD terlebih dahulu. "Alasannya pakai APD butuh waktu, kami terima. Kurang lebih setengah jam baru ditangani,” kata Irham kepada jurnalis Kamis (27/8).
Sementara itu, Direktur RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, dr. Putri Fathiya, mengatakan paramedis yang bertugas di ruang pinere sedang memakai APD ketika BR tiba-tiba kritis. Saat itu juga disebut sedang masa pergantian jam jaga, sehingga petugas yang baru masuk terlebih dahulu mengenakan APD.
“Petugas kami ada, tapi kan sedang pakai APD. Kalau pakai APD tunggu dulu, butuh waktu beberapa waktu,” katanya, Kamis (27/8).
Menurut Putri, saat kejadian itu paramedis yang bertugas di ruang pinere terdiri dari seorang dokter dan dua perawat. Tiga tenaga kesehatan ini harus menangani enam pasien yang ketika itu dirawat di sana.
"Jadi bayangkan saja bagaimana, kalau dibilang pelayanannya jelek, ya mereka mau pelayanan yang bagaimana, ya sabar," ujarnya.
Putri menambahkan, pasien BR memang bergejala corona sesuai pernyataan dokter spesialis paru. Namun, pihak rumah sakit belum bisa mengambil sampel swab karena semua petugas pengambil sampel tengah kosong karena menjalani isolasi mandiri setelah seorang pengambil sampel positif corona.
"Kalau rapid test kan memang tidak perlu lagi sekarang," ujarnya.[] Siti Aisyah
