Kisah Abdul Hadi Usai Konflik Aceh: Dari Senjata ke Kamera (3)
Konflik panjang berakhir di Aceh setelah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia sepakat damai di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 silam, dikenal dengan “Memorandum of Understanding” (MoU) Helsinki. Memperingati 14 tahun damai Aceh, sepanjang Agustus 2019, redaksi acehkini menurunkan laporan kilas balik konflik. Tentang korban, penyintas, dan kenangan para pihak bertikai. Bukan untuk mengungkit luka lama, tapi untuk belajar agar perang tak terulang.

Perang selama tiga dekade antara GAM dan Republik Indonesia berakhir di meja perundingan di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005. Begitu damai, senjata GAM kemudian dipotong. Tetapi, pemotongan senjata tidak berlaku bagi ‘senjata’ Abdul Hadi. "Sekarang pengganti senjata ya dengan kamera," ujar dia.
Usai konflik, Abdul Hadi lebih serius menekuni bidang fotografi dan pilot drone. Kini, sehari-hari ia bekerja sebagai tim dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemerintah Aceh. Saat Mualem terpilih sebagai Wakil Gubernur Aceh (2012-2017), Abdul Hadi menjadi fotografer pribadi sang Panglima.
Tetapi, atas karya-karya fotografinya, Abdul Hadi tak mau ditulis dengan nama sandi Dek Cut, melainkan Adi Gondrong atau Abdul Hadi. Menjadi pengendali kamera bukanlah hal baru bagi dirinya. Selama bergerilya, ia juga telah melakoni tugas memotret. Namun, kali ini, karyanya mulai menghiasi media lokal Aceh dan nasional di Indonesia.
Menjadi fotografer, Abdul Hadi punya motivasi yang besar dari William Nessen. Sosok jurnalis lepas asal Amerika Serikat itu pernah bertahan selama tiga pekan bersama pasukan GAM di hutan Aceh Utara.
"Kami sering memanggilnya Billy. Karena saat itu sulit sekali mengucapkan William, nama aslinya. Dan dia pun saat dipanggil Billy menyahut," cerita Hadi, sambil tertawa.
Pernah pada suatu malam saat pasukan GAM berkumpul di rumah warga di Dusun Alue Ie Mudek, Gampong Teupin Rusep, Sawang, Aceh Utara, William Nessen juga ikut dalam rapat membahas taktik untuk keluar dari kawasan Alue Ie Mudek yang sudah tercium keberadaan GAM oleh TNI.
Ketika rapat usai, William Nessen tidak percaya dengan hasil yang disampaikan oleh pasukan GAM. Kala itu, pasukan GAM menyebut, TNI sudah mengepung keliling mendekati Gampong Teupin Rusep seperti obat nyamuk.
William Nessen yang tak percaya, malah bertanya kepada masyarakat di sekitar. Namun, masyarakat menjawab dengan hal yang sama seperti disampaikan pasukan GAM sebelumnya. Mendengar jawaban dari pasukan GAM dan masyarakat tersebut, ia merasa gelisah.
"Saat saya melihat wajah dia gelisah, saya panggil dia. Saya bilang, 'Hei Billy, kamu suruh jemput sama Rambo," ujar Hadi kepada William Nessen saat itu.
"Kamu pikir ini film?" jawab William Nessen, yang disambut tawa pasukan GAM yang mendengar itu. Rambo yang dimaksud adalah aktor dalam film yang menceritakan perang Vietnam.
Pernah pada suatu hari saat Billy hendak turun dari gunung, dia ingin melihat hasil video yang direkam Abdul Hadi. Rekaman video itu ternyata tidak bagus menurut William, karena arah kamera tidak fokus dan sering ganti posisi ke kiri atau ke kanan.
"Saat itu dia bilang, kalau kamu ingin meneruskan pekerjaan jurnalistik ini, kamu harus merekam ke satu arah selama 10 detik, baru geser ke arah lain. Biar jelas apa yang kamu rekam," ujar Hadi.
Ilmu dari Billy itu hingga kini masih terus diingat Hadi. Setelah bertemu di hutan, hingga kini Hadi tak pernah berjumpa lagi dengan sosok pembuat film dokumenter konflik Aceh The Black Road itu. Saat William membuat film dokumenter itu, dia pernah meminta hasil rekaman dari kamera Abdul Hadi melalui komandannya, Ableh.
Ternyata, hasil rekaman itu tidak ada lagi karena sudah hilang pada sebuah pengepungan TNI terhadap pasukan GAM. "Melalui Ableh, Billy bilang lebih baik hilang nyawa daripada hilang dokumen rekaman video itu," cerita Hadi.
Ucapan Billy tersebut, menjadi ilmu penting bagi Abdul Hadi untuk menyimpan semua dokumen fotografi dan videografinya. Kini selain jago fotografi, kini Abdul Hadi mulai menjajal mengendalikan pesawat kamera drone.
Saat disinggung andai terjadi konflik lagi, apakah fotografer ini mau kembali angkat senjata? "Mau. Tapi senjata saya sekarang kan kamera. Saya siap untuk menjadi fotografer perang," ucapnya sembari tersenyum. [tamat]
Reporter: Habil Razali
