Kisah Anak Durhaka, Amat Rhang Manyang di Balik Pesona Bukit Lamreh Aceh Besar

Bukit Lamreh di kawasan Kecamatan Krueng Raya, Aceh Besar tak hanya menyimpan pesona alam yang mengagumkan. Lokasi ini dikenal menyimpan sejumlah bukti sejarah Aceh masa silam, pada makam-makam kuno yang terhampar di atas bukit. Juga menyimpan catatan sejarah perang Aceh melawan Belanda.
Di balik keindahan alam yang kerap dikunjungi para wisatawan, kawasan yang berbatas hamparan lautan punya legenda anak durhaka. Mirip kisah Malin Kundang di Sumatera Barat. Cerita rakyat itu disebut Amat Rhang Manyang.
Sebuah batu karang yang muncul di laut tak jaut dari Bukit Lamreh, mirip kapal. Dalam cerita legenda, diyakini sebagai kapal milik Amat Rhang Manyang yang menjadi batu, setelah ibunya berdoa kepada Yang Maha Kuasa karena tindakannya yang durhaka.
Kisah durhakanya Amat sama dengan Malin Kundang. Amat yang terlahir dari keluarga miskin, meminta izin ibunya untuk merantau menjadi kuli kapal yang kerap singgah di sana sejak dahulu kala. Setelah melalui berbagai kemelut, ibunya mengizinkan Si Amat merantau.
Puluhan tahun kemudian, Si Amat menjadi saudara dan telah berkeluarga di Pulau Pinang (Malaysia). Dia pulang menjenguk negerinya, ibu dan rekan-rekan-rekannya semasa kecil.
Saat kapalnya mendarat di kawasan Krueng Raya, seluruh warga kampung menyambut termasuk ibu dan pamannya. Pamannya memanggil Amat, mengatakan perempuan tua di sampingnya adalah Ibu Amat. Penampilannya miskin, ubanan, keriput, bungkuk dan compang-camping.
Amat menolak mengakui itu ibunya karena malu pada istri dan awak kapalnya yang megah. Anak durhaka itu menendang ibunya sampai jatuh. Lalu dia mengajak seluruh anak buahnya kembali ke kapal, ingin meninggalkan kawasan itu. Kapal perlahan berlayar meninggalkan pantai.
Ibunya berdoa kepada Tuhan, memohon keadilan dan kesadaran anaknya. Petaka datang, hujan, badai, kabut dan gemuruh. Tak lama cuaca membaik, di kejauhan terlihat kapal Amat Rhang Manyang beserta seluruh isinya menjadi batu karang.
Begitulah kisahnya, kemudian dikisahkan turun-temurun di lingkungan masyarakat Aceh Besar sebagai dongeng pengantar tidur, pelajaran bagi anak-anak untuk tidak durhaka kepada orangtuanya. Batu karang itu, masih terlihat sekarang, orang-orang menyebutnya sebagai Batee Kapai Amat Rhang Manyang. []
