Konten Media Partner

Kisah Eks GAM: Tak Hanya Bertempur dengan TNI, tapi Juga Malaria (3)

ACEHKINIverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Konflik panjang berakhir di Aceh setelah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia sepakat damai di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 silam, dikenal dengan “Memorandum of Understanding” (MoU) Helsinki. Memperingati 14 tahun perdamaian Aceh, sepanjang Agustus 2019, redaksi acehkini menurunkan laporan kilas balik konflik. Tentang korban, penyintas, dan kenangan para pihak bertikai. Bukan untuk mengungkit luka lama, tapi untuk belajar agar perang tak terulang.

Irwansyah alias Muchsalmina (kedua kiri) saat Aceh masih dilanda konflik. Foto repro: acehkini/Dok. Irwansyah
zoom-in-whitePerbesar
Irwansyah alias Muchsalmina (kedua kiri) saat Aceh masih dilanda konflik. Foto repro: acehkini/Dok. Irwansyah

Markas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Kawasan Siron dan Cot Keueng, Aceh Besar, digempur habis-habisan oleh pasukan TNI, pertengahan Oktober 2003. Saat itu, Aceh berstatus Darurat Militer. Akibat pengepungan, stok makanan minim, pasukan banyak yang sakit malaria dan luka-luka.

Dalam konsep perang gerilya, mati karena sakit adalah konyol. Mereka harus diobati agar pulih, caranya diturunkan dari perbukitan ke perkampungan, diserahkan ke warga-warga. Kisah menurunkan anggota GAM yang sakit, di tengah kepungan TNI, bukan perkara mudah. Mantan Juru Bicara GAM Aceh Rayeuk, Irwansyah, alias Tgk Muchsalmina, menceritakan detail pengalamannya kepada acehkini, dalam beberapa kesempatan setelah damai hadir di bumi Serambi Makkah.

Hari ketiga pengepungan besar-besaran, Irwansyah memutuskan mengeluarkan 17 pasukan yang sakit malaria dan luka-luka. Bersama Ramli alias Pak Ca dan satu orang lainnya berbekal tiga pucuk senapan M-16 mulai memandu pesakitan sambil merayap. Pasukan TNI di selatan dan utara hanya berjarak satu kilometer saja. “Masih dalam jarak tembak sniper jika kami terlihat,” kisahnya.

Untuk menghindari sniper, Irwansyah meminta rombongan yang sakit untuk terus merayap dan bergerak, tidak ada kata lelah. Kalau tidak dipaksa, apabila terjadi kontak tembak dalam jarak dekat, mereka tak akan selamat.

Mengeluarkan mereka butuh waktu yang lama. Bergerak hanya malam dan kala siang mereka berlindung sambil istirahat. Sebagian malah harus dipapah rekannya. Pada malam keempat, lelah semakin dirasakan.

Tapi Irwansyah terus memberi semangat untuk terus bergerak, walaupun dalam gelap gulita, meraba-raba dan tersandung batu yang ada di alur-alur sungai kering. Tiada makanan dan kekurangan air menjadi penderitaan besar bagi pesakitan untuk keluar dari pengepungan.

kumparan post embed

Sebuah laporan yang diterima membuat mentalnya turun. Telah meninggal beberapa anggotanya di markas dalam satu kontak tembak saat pengepungan yang terus terjadi. Biasanya kontak selalu terjadi siang hari, malamnya kedua pihak beristirahat. TNI tak meninggalkan lokasi yang telah dikuasainya, sambil terus bergerak sedikit demi sedikit ke dalam hutan untuk menyisir tempat GAM bertahan sambil mencari jalur keluar. Kepergok, maka pecahlah pertempuran.

Irwansyah berpikir harus secepatnya mengeluarkan pesakitan agar tak terlacak dan menambah korban meninggal. “Kami terus menghindar dari kepungan ke arah barat, mencari perkampungan terdekat.”

Pasukan yang sakit semakin kepayahan. Pagi hari mereka selalu menggigil, obat diberikan untuk meringankan demam, tapi bukan obat sepertinya umumnya dijual di apotek. Hanya sesendok bubuk kopi, sesendok garam yang langsung ditelan tanpa air.

Malam keenam menyelamatkan si sakit, perkampungan terlihat dengan lampu-lampu yang kelap-kelip di bawah sana. Hanya satu bukit lagi yang harus dilalui. Aparat TNI membangun kamp di perbukitan itu maupun dekat kampung. Si sakit ditinggalkan sementara, Irwansyah dan dua kawannya yang sehat turun mengamati situasi di sekeliling. Sebuah pos TNI terlihat jelas di pinggiran hutan, berdekatan dengan rumah-rumah warga.

Sinyal telepon seluler didapat. Irwansyah melakukan komunikasi dengan warga dan anggota di perkampungan, untuk memperoleh informasi keberadaan TNI di sana. Kabar lain juga didapat, ada pasukan setingkat kompi GAM yang belum berhasil keluar dari hutan, sekitar dua tim dengan jumlah 70 orang. Juga ada kabar mereka yang meninggal dalam pengepungan, sebanyak sembilan orang. Irwansyah berniat mengabarkan kepada keluarga korban saat berada di desa nantinya.

Senjata GAM dikumpulkan untuk dimusnahkan setelah perdamaian Aceh. Dok. Adi Warsidi

Setelah mendapatkan informasi seperlunya, anggota yang sakit istirahat penuh untuk persiapan tenaga. Mereka berunding, bagaimana menembus penjagaan ketat aparat TNI. Makanan juga disiapkan dari sisa beras yang dibawa, dimasak memakai kaleng bekas susu dengan ranting-ranting kecil, agar tak banyak asap keluar guna mengindari terdeteksi musuh. Dari siang, mereka memasak enam kali untuk makan 20 orang. “Sampai sore, barulah seluruh pasukan kebagian nasi,” kenang Irwansyah.

Dua malam mereka rehat di sana sambil melihat peluang turun. Persediaan makanan sudah habis, hanya tersedia roti Unibis. Malam kedelapan, beberapa anggota kehausan. Irwansyah merayap mencari sumber air dan menemukannya tak jauh, dipenuhi tahi lembu dan kerbau, bekas kubangan.

“Mereka tetap meminumnya karena kehausan, menjadi kisah tersendiri untuk dikenang,” kisah Pak Ca sambil menebar senyum.

Pak Ca berpostur tinggi besar. Dia pernah menggotong Budi yang sakit parah di pundaknya sambil menenteng senjata. Budi hampir mati diserang malaria, sama seperti Mak Usuh yang selalu mengigau. “Mak Usuh pernah memakan sandal saat turun, karena malarianya parah,” kisahnya.

Malam kesembilan jelang Magrib, semua sudah siap untuk bergerak turun. Dari 17 orang sakit hanya lima orang lagi dalam kondisi parah. Bagi yang lumayan sehat, bergiliran memapah pesakitan. Untuk sampai ke kampung di kawasan pergunungan Blang Bintang, mereka harus melewati satu celah bukit. Di baliknya terpacak Pos TNI.

kumparan post embed

Hampir subuh saat mereka sepelemparan batu dari bibir celah, mereka merayap karena semakin sedikit pepohonan yang di sekitarnya. Sinar matahari masih belum terang benar, saat sekawanan kerbau menerobos celah melewati penjagaan. “Ayo ikuti kerbau,” Irwansyah memberi perintah.

Dan mereka lari beriringan dengan hewan ternak itu, mereka semuanya selamat. Selanjutnya keberadaan mereka dialihkan ke rumah warga diobati maupun dibawa ke daerah lain yang lebih aman. Pengalaman itu kerap diceritakan oleh mereka sampai kini, setelah damai hadir di Aceh.

“Saat saya berjumpa dengan salah-satu mereka, kisah kerap mengundang tawa mengingat kesulitan keluar dari pengepungan. Saya sering tersenyum mengenangnya,” papar Irwansyah.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Irwansyah naik lagi ke hutan bersama dua rekannya. Tak lupa logistik dikumpulkan, dibawa serta untuk persediaan perang. [bersambung]

Reporter: Adi Warsidi