Konten Media Partner

Kisah Penjual Apam Aceh: Merawat Kuliner, Melawan Konotasi Negatif

ACEHKINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Menjual Apam Aceh bagi Kasman bukan hanya melestarikan kuliner, tapi juga melawan konotasi negatif yang kerap dikaitkan dengan nama makanan tradisional ini.

Kasman, penjual Apam penganan khas Aceh melayani pembeli di gerobak dagagangnya di Kota Banda Aceh. Foto: Habil Razali/acehkini
zoom-in-whitePerbesar
Kasman, penjual Apam penganan khas Aceh melayani pembeli di gerobak dagagangnya di Kota Banda Aceh. Foto: Habil Razali/acehkini

Kasman sedang bersiap-siap pulang ketika saya menghampirinya menjelang salat Jumat pekan lalu. Menggunakan gerobak yang menyambung dengan sepeda motor, pria 50 tahun ini menjual kuliner khas Aceh: apam. "Hanya tersisa empat lagi," katanya sembari membuka kotak kecil putih tempat apam-apam disimpan.

"Hari Jumat memang cepat habis, karena setiap ada yang beli dua buah saya tambah gratisnya satu. Sedekah," sambungnya dengan bibir yang tampak mengembang.

Saban hari, Kasman memangkalkan gerobaknya di tepi Jalan Teuku Panglima Nyak Makam, Lampineung, Kota Banda Aceh, Aceh. Tulisan "Apam Aceh Original" di sisi gerobak yang cukup mencolok, membuat orang-orang yang melintas begitu mudah menangkap keberadaan Kasman. Terlebih kawasan itu kesohor tempat pedagang kaki lima memarkirkan gerobak-gerobak mereka.

Penjual Apam memangkalkan gerobaknya di pinggir jalan di Kota Banda Aceh menjual kuliner tradisional khas Aceh dengan nama 'Apam Aceh Original'. Foto: Habil Razali/acehkini

Biasanya, Kasman mulai berjualan pukul 09.00 pagi sampai sore. Dalam sehari, selama pandemi COVID-19, ia menghabiskan 3-4 kilogram tepung--bahan dasar membuat apam. Takaran satu kilogram tepung dapat menghasilkan sekitar 35-40 apam. Jumlah ini telah berkurang setengahnya bila dibandingkan dengan penjualan sebelum wabah merebak. "Dulu dalam sehari bisa mencapai 8-10 kilogram tepung," ujarnya.

Kasman menjual satu apam seharga Rp5 ribu, lengkap dengan kuahnya. Pembeli dapat menikmatinya langsung di sana ataupun dibungkus. Kasman mengklaim dialah satu-satunya penjual kuliner khas Pidie itu di Kota Banda Aceh. "Karena banyak pembeli yang bilang cuma di sini menemukan apam (di Banda Aceh), boleh dibilang langkalah yang menjual apam," tutur pria asal Teupin Raya, Kabupaten Pidie, ini.

Lantas, dari mana ide Kasman menjual apam? Pertanyaan ini menarik untuk dijawab. Sebab, apam merupakan kudapan yang cuma ditemukan ketika berlangsung acara penting di Aceh. Karena ini pula, dalam almanak Aceh terdapat bulan Apam. Penanggalan ini bertepatan dengan bulan Rajab bila mengikuti kalender Hijriah. Nah, ketika bulan Apam tiba, masyarakat Aceh menggelar kenduri apam. Ini saat yang tepat buat menikmati apam secara gratis.

kumparan post embed

Di luar bulan Apam, penganan ini sering pula disuguhkan ketika ada orang meninggal. Tatkala pemakaman mayat sudah usai, masyarakat yang datang ke kuburan mencicipi apam secara bersama-sama. Bedanya, apam dalam suasana berdukacita disantap kering dengan kelapa kukur bercampur gula. Tanpa kuah.

Maka ada benarnya bila kuliner Aceh ini sangat sulit dicari pada hari-hari biasa. Istri Kasman pun menangkap peluang ini. Kasman yang mengikuti saran sang istri kemudian mencoba peruntungan dengan menjual apam saat Ramadhan empat tahun lalu. Kala itu, apam dijual sore hari sebagai kudapan berbuka puasa.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Dagangan Kasman laris. Seusai Ramadhan, ia meneruskan menjual apam setiap hari sampai sekarang. Kini, apam Kasman bukan hanya dinikmati masyarakat biasa, tapi juga ada pejabat yang melanggannya.

Apam Aceh saat dimasak. Foto: Suparta/acehkini

"Saya tahu itu pejabat saat mengobrol, dibilang bahwa dia kepala dinas. Pejabat ini bercerita menyukai makanan tanpa campuran bahan pengawet, apam memang tak ada pengawet," Kasman menjelaskan.

Apam memang terbuat dari campuran tepung beras, santan, air kelapa, air putih, dan garam serta gula pasir. Apam secara tradisional dimasak memakai pinggan tanah kecil dengan kayu bakar, saat ini banyak yang memasaknya memakai wajan aluminium dan memakai kompor gas.

Apam umumnya dimakan dengan kuah tuhe (kuah kolak santan) yang manis. Kuah tuhe dibuat terpisah dengan campuran santan, gula, potongan pisang/nangka/ubi, yang dimasak. Dapat juga dimakan dengan kelapa kukur yang telah ditambah gula.

kumparan post embed

Menjual apam bagi Kasman bukan hanya melestarikan kuliner, tapi juga melawan konotasi negatif yang kerap dikaitkan dengan nama apam. Menurut Kasman, banyak anak muda yang menganggap aneh pada saat melihatnya pertama kali berjualan. "Bahasanya dianggap aneh sama anak muda," katanya.

Ini karena dalam obrolan sehari-hari di Aceh, apam sering pula digunakan sebagai kata makian atau istilah halus untuk alat kelamin perempuan. Bahkan, ketika pekerja seks komersial ditangkap polisi di Aceh pada 2018, ada yang menyebut "apam online ditangkap".

Menurut Kasman, ada anak muda mengaku baru tahu bahwa apam adalah makanan tradisional Aceh setelah membeli dagangannya. "Kalau konotasi apam yang macam-macam itu saya anggap biasa saja, lelucon," sebutnya.

"Apam saya juga bisa dipesan online untuk acara-acara khusus," sambungnya sembari tersenyum.[]

kumparan post embed