Rektor Tiga Kampus Bersejarah di Aceh Bertemu: Singgung Kemiskinan dan Stunting
ยทwaktu baca 3 menit

Tiga kampus bersejarah di Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Islam Negeri Ar-Raniry dan Yayasan Tgk Chik Pante Kulu melaksanakan 'Silaturahmi Darussalam', dalam rangka memperkuat sinergisitas. Kegiatan berlangsung di Fakultas Hukum USK, Banda Aceh, Selasa (31/5/2022).
Kampus-kampus yang terletak berdekatan di Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, berperan penting dalam perkembangan pendidikan dan pembangunan Aceh. Kopelma Darussalam lahir 62 tahun lalu, saat Aceh masih dilanda konflik DI/TII, ditandai dengan peresmian Tugu Darussalam oleh Presiden Indonesia, Soekarno pada 2 September 1959, sebagai cikal bakal lahirnya pusat pendidikan kebanggaan masyarakat Aceh.
Ketua Yayasan Tgk Chik Pante Kulu, Fachrurrazi Zamzami, mengatakan pertemuan tersebut sangatlah penting. Ia berharap, adanya kolaborasi dari USK dan UIN Ar-Raniry dapat memajukan dua kampus di bawah yayasannya: STAI dan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan.
"USK dan UIN Ar-Raniry sudah maju dengan cepat. Sedangkan kami jauh sekali tertinggal, baik fasilitas dan lainnya. Sebagai adik bungsu, harusnya bisa sama-sama maju," ucap Fachrurrazi.
Ia meyakini, dengan terbangunnya sinergisitas, kampus di bawah Yayasan Tgk Chik Pante Kulu akan berkibar. Hal ini menjadi tugas bersama, agar tiga kampus di Darussalam bisa memberikan manfaat lebih untuk Aceh.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Warul Walidin, mengapresiasi kegiatan yang mempertemukan semua unsur di Darussalam. Menurutnya, Darussalam adalah rumah bersama, tanpa sekat sesuatu apapun. Keberadaan Darussalam merupakan sejarah monumental bagi perjalanan Aceh, khususnya bidang pendidikan.
"Halal bihalal ini adalah wujud sinergisitas. Semoga ke depan kebersamaan ini semakin hangat, dan ketiga kampus bisa melaksanakan kegiatan secara bersama-sama, misalnya peringatan Hari Pendidikan Daerah, maupun Maulid Raya," tutur Prof Warul.
Ia mengaku siap membantu percepatan kemajuan Yayasan Tgk Chik Pante Kulu. Salah satu yang bisa didorong adalah pendirian Ma'had Ali. Namun, syaratnya harus ada minimal 1.000 santri.
Sementara itu, Rektor USK, Prof. Ir. Marwan, menuturkan sejarah Darussalam harus diisi dengan capaian-capaian membanggakan hari ini dan masa mendatang. Saat ini, pihaknya sedang berupaya menjadikan masyarakat Darussalam sebagai role model masyarakat modern dan agamis.
"Ketiga kampus di Darussalam punya ide, memiliki sumber daya, pemerintah Aceh bisa memanfaatkannya untuk mengejar ketertinggalan," sebut Rektor USK.
Ia menekankan, Darussalam harus menjadi solusi untuk dua persoalan Aceh yang paling mengemuka; kemiskinan tertinggi di Sumatera dan stunting yang menempatkan Aceh menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia.
"Unsur Darussalam senantiasa harus bersinergi dan harmonis, karena jika tidak, akan berdampak tidak baik bagi pembangunan Aceh. Tiga kampus di Darussalam seyogyanya bahu membahu menjawab setiap persoalan, yang paling dekat adalah bagaimana menurunkan angka kemiskinan serta stunting," jelas Prof. Marwan.
Terakhir, dalam rangka mendukung percepatan kegemilangan Tgk Chik Pante Kulu, Rektor USK punya wacana membatu setengah dan setengah lagi dibantu UIN Ar-Raniry. Menurutnya, kepedulian antar sesama Darussalam amatlah penting, mengingat keberadaan ketiganya merupakan amanah sejarah dari 'Ikrar Lamteh'.
Ikrar Lamteh adalah perjanjian gencatan senjata antara DI/TII Aceh dengan Pemerintah Indonesia pada 8 April 1957.
Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia (PYM) Tgk Malik Mahmud Al-Haythar turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ia mengajak semua pihak untuk mempelajari sejarah Darussalam, serta meneruskan nilai-nilai luhur demi kemajuan Aceh di masa hadapan.
"Sejak berdirinya kampus di Darussalam, pendidikan Aceh telah mengalami pasang surut. Semoga universitas di Darussalam dapat melahirkan generasi bertaraf internasional," pesannya. []
