Konten Media Partner

Suka Duka Relawan Bersama Rohingya: Saling Mengisi Tak Saling Sikut (7)

ACEHKINIverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Dalam membantu para pengungsi Rohingya saat mendarat maupun di kamp penampungan sementara, lembaga-lembaga kemanusiaan di Aceh saling mengisi dan berbagi peran, tak saling sikut. Meraka mendapatkan banyak pengalaman unik, dan berharga.

Warga menolong pengungsi Rohingya yang terdampar di kawasan Aceh Utara. Foto: Yayasan Geutanyoe
zoom-in-whitePerbesar
Warga menolong pengungsi Rohingya yang terdampar di kawasan Aceh Utara. Foto: Yayasan Geutanyoe

Suatu momentum medio 2020 tidak akan lekang dari ingatan Iskandar Dewantara. Tarikh tersebut jadi titik mula kelahiran solidaritas lintas lembaga yang menangani pengungsi Rohingya di Aceh. Mereka tergabung dalam satu grup koordinasi sehingga tiap lembaga berbagi peran mencegah ada tumpang-tindih di lapangan.

"Kami membangun sistem koordinasi lebih konkret," kata Iskandar Dewantara, Coordinator Monitoring and Evaluation Yayasan Geutanyoe. "Lembaga saat itu mulai berbagi peran dalam menangani pengungsi, di mana ada gap di situ saling mengisi." Peran tersebut tidak termasuk sektor keamanan yang jadi kewajiban pemerintah.

kumparan post embed

Sejak itu, menurut Iskandar, semangat yang tumbuh bukan lagi kepentingan masing-masing, tapi bersama. Perasaan solider ini lahir karena belajar dari cara penanganan pengungsi sebelumnya.

Ketika koordinasi lintas lembaga belum terjalin tidak ada pembagian peran di lapangan. Karena itu ada tugas-tugas yang dilakukan suatu lembaga juga dilaksanakan lembaga lain. "Dari sana kami mengevaluasi apa kendala kerja di lapangan," tutur Iskandar.

Setelah ada koordinasi, tiap lembaga fokus bergerak pada bagian masing-masing saat menangani pengungsi. Yayasan Geutanyoe misalnya ikut andil dalam bidang advokasi, edukasi, Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS), dan community development (pengembangan masyarakat).

Anak-anak pengungsi Rohingya bermain di kamp BLK Kandang, Lhokseumawe. Foto: Yayasan Geutanyoe

Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia (YKMI) bergerak bagian edukasi, MHPSS, dan sanitasi. Menurut Koordinator Wilayah Lhokseumawe YKMI, Faisal Rahman, koordinasi terjadi ketika ada kasus pengungsi Rohingya terdampar ke Aceh. Ia menyarankan koordinasi terus lanjut meski pengungsi Rohingya tidak ada di Aceh. "Tetap berkomunikasi untuk mencari solusi seandainya ada," katanya.

Sedangkan Human Initiative lebih fokus menangani pengungsi di bagian sanitasi hingga penyediaan minuman dan makanan ringan. Mereka juga mengisi celah bila ada tugas yang tidak bisa dikerjakan lembaga lain.

Koordinator Wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara Human Initiative, Irza Ismail berharap komunikasi begitu tidak hilang. Koordinasi membuat suatu lembaga tahu harus berbuat apa. "Kehadiran Yayasan Geutanyoe dalam membangun sistem koordinasi ini menjadi semangat dan pencerahan bagi lembaga lain ke depannya," katanya.

Bagian edukasi, MHPSS, dan sanitasi, juga dilaksanakan Palang Merah Indonesia (PMI). Organisasi ini punya peran lain; bidang kesehatan. "Saya rasa setiap penanganan pengungsi atau bencana butuh model penanganan demikian sehingga lebih terarah," kata Muhammad Wali, kepala markas PMI Lhokseumawe.

Adapun lembaga lain yang turut terlibat yakni Global Initiative yang menangani advokasi tindak pidana perdagangan orang hingga penguatan nelayan. Berkaitan dengan nelayan juga melibatkan Panglima Laot. Sementara Aksi Cepat Tanggap berperan pada distribusi makanan, edukasi, dan MHPSS. Lembaga Peduli Dhuafa juga menangani edukasi atau pendidikan.

kumparan post embed

Harapan Iskandar dan para relawan, kehadiran sistem koordinasi akan membuat lintas lembaga saling mendukung atas tujuan yang hendak dicapai saat menangani pengungsi Rohingya. Bukti kuatnya koordinasi yaitu ketika merenovasi BLK Kandang sehingga layak ditempati pengungsi Rohingya pada 2020.

"BLK Kandang 100 persen diperbaiki oleh lembaga sampai bagus. Tidak memakai uang dari pemerintah," kata Iskandar.

Lembaga yang terlibat merehabnya adalah Yayasan Geutanyoe, PMI, UNHCR, IOM, dan YKMI. "Awalnya hanya dua gedung bekas BLK Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Kemudian diperbaiki dan layak menjadi tempat penampungan." [bersambung]

Note: Sebagian materi tulisan telah dibukukan dengan judul ‘Aceh Muliakan Rohingya’ ditulis oleh jurnalis acehkini difasilitasi Yayasan Geutanyoe.