Konten dari Pengguna

Liburan, Makanan, dan Kebutuhan

Ade Tuti Turistiati

Ade Tuti Turistiati

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Anggota ICA, APJIKI, ASPIKOM. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Liburan hampir usai. Namun, tempat makan dan minum, mulai sekelas restoran, café dan angkringan seperti tak surut dari pelanggan. Harga-harga yang beranjak perlahan hanya sekadar menimbulkan kejut di depan. Toch, membayar lebih tinggi jadi tak terasa karena ini musim liburan. Maklum.

Tak sedikit para pengunjung restoran rela antri panjang demi makan dan minum di tempat yang diharapkan. “Kapan lagi makan bersama keluarga, saudara, teman atau handai taulan” menjadi alasan segala macam menu makanan dipesan. Tidak mengapa, yang disayangkan adalah ketika orang makan tidak menakar kebutuhan. Akibatnya, panganan yang dipesan tak termakan, tersisa, kemudian terbuang sia-sia.

Ilustrasi makanan tak habis kemudin dibuang ke tempat sampah. Sumber: Istockphoto.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makanan tak habis kemudin dibuang ke tempat sampah. Sumber: Istockphoto.com

Untuk menghindari makanan juga minuman bersisa apalagi bermuara di tempat sampah, maka:

1. Lebih baik makanan dan minuman yang dipesan sedikit kurang (pas tentunya lebih baik) daripada pesan makanan kebanyakan kemudian terbuang. Jangan sampai ada keluhan “aduh! kenyang banget nih … gak kuat ngabisin”, “Gila … di perut sudah tidak muat, bega, resleting celana harus dibuka ….”, atau “Nyesel banget kebanyakan makan, menurunkan berat badan susahnya minta ampun!”

2. Penjual kadang-kadang tidak menyediakan porsi setengah apalagi seperempat. Kalau begitu, berbagi bersama anggota keluarga/teman yang bareng makan merupakan salah satu pilihan. Jika terlanjur dipesan, sebelum makanan disantap, sebaiknya minta piring kosong untuk disisihkan. Siapa tahu ada yang mau mencoba. Jika tidak, boleh juga setengahnya minta dibungkus kemudian.

3. Jangan ragu untuk menanyakan harga makanan kalau harganya tidak tercantum dalam daftar menu. Jangan sampai sesudah makan enak, berakhir dengan perasaan kesal gegara harga jauh lebih mahal atau dibandrol dengan dalih “harga akhir tahun, harga tahun baru, atau harga sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan”.

4. Bawa plastik atau tempat makanan dan minuman tertutup untuk mengantisipasi makanan dan minuman berlebih terbuang percuma.

Ingat : banyak orang yang masih berpikir “apa makan?” tidak sekadar “makan apa?”

Selamat tahun baru, mari lebih bijak mengonsumsi makanan yang kita butuhkan bukan sekadar enak dalam pandangan.