Di Balik Keteguhan Tamin: Makna Kepulangan dan Perubahan Diri dalam Novel Pulang

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Adiba Nayla Hasna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Pulang karya Toha Mohtar bukan hanya menceritakan seseorang yang kembali ke kampung halaman setelah bertahun-tahun pergi, tetapi juga memperlihatkan perubahan yang terjadi dalam diri seseorang setelah melewati berbagai pengalaman hidup. Tokoh Tamin menjadi bagian penting dalam novel ini karena kepulangannya tidak sekadar mengakhiri perjalanan panjangnya, tetapi juga mempertemukannya kembali dengan keluarga, kenangan, dan tanggung jawab yang sempat ditinggalkan. Melalui tokoh Tamin, pembaca dapat melihat bagaimana pengalaman hidup dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Hal yang menarik dari tokoh Tamin adalah bahwa ia tidak digambarkan sebagai seseorang yang sepenuhnya kuat ataupun selalu mampu menghadapi keadaan. Ia memiliki keteguhan, tetapi juga menyimpan kesedihan dan kekecewaan. Pengalaman selama berada jauh dari kampung halaman membuatnya berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan harapannya. Oleh karena itu, penokohan Tamin menarik untuk dikaji melalui teori penokohan dan perwatakan yang dijelaskan oleh Herman J. Waluyo dalam buku Pengkajian dan Apresiasi Prosa Fiksi.
Penokohan Tamin sebagai Gambaran Perubahan Diri
Dalam membahas penokohan, Waluyo menjelaskan bahwa, “Bagian cerita fiksi ini membicarakan tokoh-tokoh cerita (penokohan) dan watak tokoh-tokoh itu (perwatakan). Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Tokoh-tokoh itu memiliki watak yang menyebabkan terjadi konflik dan konflik itulah yang kemudian menghasilkan cerita”. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa tokoh dalam cerita tidak hanya hadir untuk menjalankan peristiwa, tetapi juga memiliki watak yang ikut membentuk perkembangan cerita. Dengan demikian, karakter Tamin dapat dipahami melalui tindakan, perkataan, dan keputusannya ketika menghadapi berbagai persoalan.
Pada awal kepulangannya, Tamin diperlihatkan sebagai sosok yang memiliki ikatan kuat dengan kampung halaman. Ia kembali setelah bertahun-tahun pergi dan harus menerima kenyataan bahwa keadaan di sekitarnya sudah berubah. Keluarganya mengalami kesulitan, ayahnya jatuh sakit, dan sawah yang menjadi sumber kehidupan keluarga tidak lagi berada dalam kepemilikan mereka. Keadaan tersebut membuat kepulangannya tidak langsung membawa kebahagiaan seperti yang mungkin dibayangkannya selama berada jauh dari rumah.
Perubahan keadaan itu juga memperlihatkan bahwa Tamin tidak dapat kembali menjadi dirinya yang dahulu begitu saja. Ia harus memahami berbagai persoalan yang terjadi selama kepergiannya dan menentukan sikap terhadap keadaan keluarganya. Dalam novel, Mohtar menuliskan,
“Namun ada sesuatu jang telah berobah, dan ia tahu itu terletak didasar hati”
Kalimat tersebut memperlihatkan adanya perubahan yang dirasakan Tamin setelah kembali. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan keadaan kampung atau keluarganya, tetapi juga dengan perasaan yang ada dalam dirinya.
Melalui bagian tersebut, Tamin dapat dipahami sebagai tokoh yang mengalami perubahan batin. Ia pulang dengan membawa pengalaman dari tempat yang jauh, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi kenyataan yang berbeda dari kenangan masa lalunya. Menurut saya, bagian ini menjadi penting karena perubahan karakter tidak selalu ditunjukkan melalui tindakan besar. Perubahan juga dapat terlihat dari cara tokoh merasakan keadaan, memahami persoalan, dan menyadari bahwa kehidupan tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Keteguhan Tamin dalam Menghadapi Kesulitan Keluarga
Salah satu watak Tamin yang menonjol adalah keteguhannya dalam menghadapi kesulitan. Setelah mengetahui keadaan keluarganya, ia tidak hanya berdiam diri atau menyerahkan seluruh persoalan kepada orang tuanya. Ia mulai mengambil tanggung jawab sebagai anak, terutama untuk membantu memulihkan keadaan keluarga. Keputusannya untuk berusaha mendapatkan kembali sawah keluarga menunjukkan bahwa kepulangannya memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar kembali ke tempat asal.
Sikap tersebut terlihat ketika Tamin menyampaikan pemahamannya kepada ayahnya mengenai penderitaan yang dialami keluarga akibat perang. Ia mengatakan,
“Adalah perang jang telah meminta sampi2 kita dan ia pula jang telah merebut tanah kita dengan paksa. Aku tahu, pak! Itu adalah sesuatu diluar kekuatan kita, dan kita harus menerima. Kita tak punja pilihan lain. Dan bila perang telah lewat, tjuma satu harapanku: pulang. Dan kini aku berdiri dihadapannja, pak! Aku sedia melakukan kewadjibanku sebagai seorang anak!”
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa Tamin mulai memahami persoalan keluarganya sebagai bagian dari penderitaan yang lebih luas akibat perang. Ia tidak hanya melihat hilangnya sawah sebagai kerugian materi, tetapi juga memahami bahwa keadaan tersebut berkaitan dengan peristiwa yang berada di luar kendali keluarganya. Pada bagian akhir ucapannya, Tamin menegaskan kesediaannya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang anak. Pernyataan ini memperlihatkan adanya kesadaran dan tanggung jawab yang menjadi bagian penting dari karakternya.
Menurut saya, keteguhan Tamin bukan berarti ia tidak merasakan kesedihan. Sebaliknya, ia tetap menghadapi keadaan yang berat, tetapi memilih untuk melakukan sesuatu bagi keluarganya. Sikap tersebut membuat karakter Tamin terasa lebih manusiawi karena keberaniannya tidak muncul dari keadaan yang mudah. Ia justru harus bertindak ketika keluarganya sedang berada dalam kesulitan. Dengan begitu, watak Tamin dapat dilihat melalui keputusannya untuk bertanggung jawab, bukan hanya melalui gambaran fisiknya yang kuat.
Tamin sebagai Sosok yang Peduli terhadap Keluarga
Selain memiliki keteguhan, Tamin juga digambarkan sebagai sosok yang peduli terhadap keluarganya. Kepedulian tersebut terlihat dari usahanya untuk mengembalikan sawah yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan keluarga. Sawah dalam cerita bukan sekadar tanah yang memiliki nilai ekonomi, melainkan juga berkaitan dengan harapan keluarga untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Ketika membicarakan rencana untuk mendapatkan kembali sawah, Tamin mengatakan,
“Kalung itu sudah kudjual, mak. Dengan tambahan uang persediaan membeli sampi sawah kita harus kembali. Semoga pak Djais tidak membuat sulit. Itu sudah tjukup, berapa musim ia mengerdjakan sawah kita?”
Kutipan ini memperlihatkan bahwa Tamin bersedia menggunakan harta yang dimilikinya demi kepentingan keluarga. Ia tidak hanya menyampaikan keinginan agar keadaan membaik, tetapi juga melakukan tindakan nyata untuk mewujudkannya.
Keputusan menjual kalung tersebut memiliki arti penting dalam penokohan Tamin. Ia rela melepaskan sesuatu yang berharga untuk membantu mengembalikan sawah keluarganya. Tindakan ini memperlihatkan bahwa kepeduliannya tidak berhenti pada perasaan, tetapi diwujudkan melalui pengorbanan. Dari sini, pembaca dapat memahami bahwa Tamin menempatkan kebutuhan keluarga sebagai hal yang perlu diperjuangkan.
Namun, menurut saya, kepedulian Tamin juga memperlihatkan bahwa ia tidak dapat menghapus seluruh kehilangan yang dialaminya hanya dengan kembali ke kampung halaman. Ia tetap membawa pengalaman dan kenangan yang menyakitkan. Hal itu terlihat ketika ia menceritakan kehilangan istri dan anaknya. Dalam cerita tersebut, ia mengungkapkan,
“Tapi, tidaklah seperti kehendak Tuhan djika itu harus berlaku. Aku tak pernah dapat memandangi wadjah anak sendiri dan djuga tak dapat memberi pelukan terachir kepada isteriku. Mereka meninggal dirumah bersalin!”
Kutipan tersebut menunjukkan sisi lain Tamin yang tidak selalu terlihat melalui tindakan-tindakannya. Di balik sosok yang berusaha tegar untuk keluarganya, terdapat kesedihan mendalam karena kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ia tidak hanya mengalami kesulitan akibat perang dan keadaan keluarga, tetapi juga harus menerima kehilangan dalam kehidupan pribadinya. Dengan demikian, karakter Tamin tidak dibangun hanya melalui keteguhan, melainkan juga melalui pengalaman emosional yang membuatnya menjadi tokoh dengan perasaan yang kompleks.
Bagian ini membuat saya melihat bahwa kekuatan Tamin tidak dapat diartikan sebagai kemampuan untuk selalu baik-baik saja. Ia tetap mengalami kesedihan dan harus menerima kenyataan yang tidak dapat diubah. Akan tetapi, kesedihan tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan kepeduliannya terhadap keluarga yang masih ada. Justru melalui tindakannya, pembaca dapat melihat bagaimana ia berusaha menjalankan tanggung jawabnya di tengah pengalaman hidup yang berat.
Perubahan Tamin dan Makna Kepulangannya
Penokohan Tamin menjadi semakin menarik ketika ia tidak hanya dipahami sebagai seseorang yang kembali secara fisik, tetapi juga sebagai tokoh yang perlahan-lahan menerima tanggung jawab dan tempatnya di tengah keluarga serta masyarakat. Kepulangannya membuka kesempatan untuk memperbaiki keadaan, tetapi pada saat yang sama mengharuskannya menghadapi perubahan yang tidak dapat dihindari. Ia tidak mungkin mengembalikan waktu atau menghapus seluruh pengalaman buruk yang telah terjadi.
Dalam pandangan Waluyo, hubungan antara tokoh dan wataknya berkaitan erat dengan konflik yang membangun cerita. Hal tersebut sesuai dengan perjalanan Tamin. Berbagai persoalan yang dihadapinya membantu memperlihatkan wataknya secara bertahap. Ketika keluarganya mengalami kesulitan, muncul sisi tanggung jawabnya. Ketika harus menentukan cara mengembalikan sawah, terlihat pengorbanannya. Sementara itu, ketika menceritakan kehilangan istri dan anaknya, terlihat sisi rapuh yang selama ini tidak selalu muncul melalui tindakannya.
Perubahan Tamin juga tidak berarti bahwa ia berubah menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Ada nilai-nilai yang tetap melekat pada dirinya, terutama ikatan dengan keluarga dan kampung halaman. Hal yang berubah adalah cara ia memahami kepulangannya. Pada awalnya, pulang dapat dipahami sebagai keinginan untuk kembali ke tempat yang dirindukan. Setelah berhadapan dengan kenyataan, kepulangan tersebut menjadi kesempatan untuk mengambil tanggung jawab dan menghadapi keadaan yang selama ini tertinggal.
Menurut saya, inilah bagian yang membuat Tamin menarik untuk diapresiasi. Ia tidak digambarkan sebagai tokoh sempurna yang selalu memiliki jawaban atas persoalan hidupnya. Ia juga tidak langsung terbebas dari kesedihan setelah kembali. Namun, ia tetap berusaha melakukan sesuatu bagi orang-orang yang berarti dalam hidupnya. Karakter seperti ini terasa dekat dengan kehidupan manusia karena seseorang dapat memiliki keteguhan sekaligus menyimpan luka yang tidak mudah disembuhkan.
Dengan menggunakan teori penokohan dan perwatakan Herman J. Waluyo, karakter Tamin dapat dipahami melalui hubungan antara watak, tindakan, dan konflik yang dialaminya. Keteguhan, kepedulian, rasa kehilangan, dan tanggung jawab menjadi bagian yang saling berkaitan dalam membentuk dirinya. Oleh karena itu, Pulang tidak hanya menghadirkan kisah tentang seseorang yang kembali ke tempat asal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup membentuk cara seseorang menghadapi masa kini.
Pada akhirnya, bagi saya, kepulangan Tamin bukanlah tanda bahwa seluruh persoalannya telah selesai. Ia tetap membawa kehilangan yang tidak dapat dikembalikan, tetapi ia juga menemukan kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi keluarganya. Melalui tokoh Tamin, Toha Mohtar memperlihatkan bahwa pulang bukan hanya soal kembali ke tempat yang dikenal, melainkan juga keberanian untuk menghadapi kenyataan dan menerima tanggung jawab yang menyertainya. Inilah yang membuat penokohan Tamin menjadi pusat daya tarik novel Pulang: ia kuat bukan karena tidak pernah terluka, tetapi karena tetap berusaha menjalani hidup meskipun harus menerima banyak kehilangan.
Daftar Pustaka
Mohtar, T. (1958). Pulang. Kacabenggala Editions.
Waluyo, H. J. (2017). Pengkajian dan apresiasi prosa fiksi. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
