Kerja Kelompok dan Seni “Nrimo”: Ketika Rukun dan Sungkan Jadi Alasan Untuk Diam

Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UGM
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Adyatma Dimitri Widyadhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Aduh, kerja kelompok lagi…..” begitulah kira-kira keluh kesah yang disampaikan oleh teman sebangku perkuliahan saya di saat membuka notifikasi dari Web Kampus. Keluhannya adalah sesuatu yang bisa dipahami. Beberapa minggu yang lalu, untuk tugas yang berbeda, teman sekelompoknya menghilang bak ditelan bumi. Alhasil, pekerjaan temannya mau tidak mau harus ia kerjakan sendiri. Layaknya jatuh tertimpa tangga, sang pemberi tugas tidak menyediakan form evaluasi penilaian antaranggota kelompok. Alhasil, nilai sang free rider pun sama dengan nilainya.
Bagi beberapa teman kuliah atau bahkan mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar, asalkan pernah merasakan kerja kelompok, pasti setidaknya pernah satu kali menemui rekan kerja yang “anomali”. Beberapa mungkin pernah memprotes atas hilangnya rekannya, tapi banyak juga yang memilih untuk kemudian “Nrimo” atau menerima saja.
Tentu menjadi sebuah pertanyaan mengenai alasan mengapa mereka menerima perlakuan temannya. Jika diukur dengan variabel ekonomi atau logika sederhana saja, perhitungannya tidak masuk. Rekan-rekan yang mengerjakan tugas kelompok harus mengorbankan waktu yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk kegiatan produktif. Sementara rekan-rekan yang menjadi free rider, hanya ongkang-ongkang kaki saja dan terima beres. Nilai yang didapat pun serupa dengan temannya yang begadang. Sebuah praktik yang mungkin, jika dilihat oleh Donald Trump, membuatnya berteriak “Unfair Deal!”
Usut demi usut, rekan-rekan yang ditanyai memberikan beberapa macam jawaban. Jawaban yang paling umum berputar di antara “Ya, daripada ribut” dan “Teman sendiri, jadi gak enak”. Kedua alasan tersebut memperlihatkan kecenderungan untuk menghindari keributan untuk urusan yang, setidaknya bagi mereka, remeh. Di sisi lain lewat alasan kedua, tampaknya toleransi terhadap perilaku free rider seringkali meningkat ketika antaranggota kelompok memiliki kedekatan personal.
Fenomena semacam ini sebenarnya tidak hanya muncul dalam kerja kelompok perkuliahan saja. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali muncul sikap toleran terhadap perilaku tidak adil yang dilakukan oleh orang dekatnya sendiri. Mulai dari teman tongkrongan yang kerap kali berhutang saat makan bersama dan tidak pernah membayar hutangnya, teman organisasi yang diajak untuk masuk kepanitiaan meski perannya minim, hingga kerabat yang kerap meminta bantuan finansial tanpa mengembalikan bantuan tersebut. Tindakan-tindakan itu pasti menimbulkan rasa kesal. Bahkan, tidak jarang apabila yang melakukan itu orang asing, mereka akan diseret ke jalur hukum. Namun, hanya karena “alasan kedekatan”, orang tetap memilih memaklumi demi menjaga hubungan sosial.
Rukun, Sungkan, Harmoni, dan Hubungan Sosial
Fenomena tidak enakan, hingga toleransi dalam bidang profesional tanpa batas yang jelas, dapat dijelaskan melalui konsep kekeluargaan dalam kultur sosial masyarakat, yang salah satunya dipengaruhi oleh nilai dan budaya masyarakat Jawa.
Hermawan dan Loo (2019) menyebutkan adanya indikasi kuat bahwa nilai masyarakat Jawa membentuk interaksi sosial dan menjadi jiwa dari modern Indonesian business. Dalam kultur tersebut, terdapat penekanan mengenai kehidupan sosial masyarakat, yakni manusia tidak hidup sendiri dan selalu dapat mengandalkan bantuan dari orang lain, terutama dari keluarga, yang tentu saja berharap hal yang sama darinya. Sebagai konsekuensinya, ia harus peduli dan memiliki hubungan yang baik dengan mereka. Dengan demikian, hubungan sosial tidak dapat disederhanakan menjadi hubungan transaksional semata.
Salah satu bentuk dari paradigma tersebut adalah munculnya nilai rukun dan juga sikap sungkan. Nilai rukun secara sederhananya adalah prinsip menjaga harmoni sosial dan upaya untuk menghindari konflik sosial. Rukun merupakan upaya untuk memelihara keharmonisan sosial sehingga, apabila terjadi ketidaksetujuan, individu tidak menyampaikan di depan umum. Pasalnya, hal tersebut dapat berakibat pada hilangnya keharmonisan sosial dan gesekan dengan orang lain.
Akibatnya dalam kerja kelompok, seringkali mahasiswa memilih untuk diam saja dibandingkan menegur temannya baik secara pribadi maupun di depan publik. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir konflik ataupun gesekan dengan orang lain. Dengan begitu, keharmonisan dan hubungan “kekerabatan” dapat terjaga.
Di sisi lain terdapat konsep sungkan, yakni rasa segan atau tidak enakan terhadap orang lain. Sikap sungkan dianggap membuat seseorang ragu mengungkapkan pendapat atau ketidaksetujuannya secara langsung dan baik-baik. Hal ini, sekali lagi, berhubungan dengan keinginan untuk menghindari konflik. Dalam kerja kelompok, perasaan ini muncul saat seseorang merasa dirugikan dengan perilaku free rider, tetapi memilih untuk diam saja karena merasa “tidak enak” atau takut akan konflik dalam kelompoknya.
Ketika Solidaritas Berubah Menjadi Beban
Hingga titik tertentu, nilai kekeluargaan dan harmoni ini memang mampu untuk menciptakan solidaritas sekaligus mengurangi potensi konflik atas sesuatu yang “remeh”. Di sisi lain, seseorang yang memberikan bantuan dan mengerjakan tugasnya tentu merasa senang. Mereka merasa sudah melakukan apa yang diajarkan, membantu dengan harapan akan dibantu di sisi lainnya. Namun, tentu saja perasaan itu tidak akan bertahan lama.
Layaknya perasaan cinta tak berbalas, rasa memberikan tanpa menerima timbal balik pun mulai terasa. Apa yang dimulai sebagai bentuk pemenuhan nilai ajaran yang mungkin ditanam sejak kecil, menjadi sebuah beban yang memberatkan dan menyiksa batin. Pada awalnya, seseorang mungkin masih merasa wajar untuk membantu satu atau dua kali. Toh, dalam relasi pertemanan, membantu adalah sesuatu yang normal. Tidak jarang pula seseorang merasa bangga dapat diandalkan oleh kelompoknya.
Namun, apabila terus berlanjut, sang pekerja di kelompok pun akhirnya merasa menjadi seseorang yang menggendong seluruh kelompoknya. Mereka menjadi pihak yang paling dicari dan paling memiliki beban berat di saat timer tenggat pengumpulan tugas mendekati angka nol. Sementara anggota lainnya, tidak merasa bahwa bahwa ketergantungan mereka adalah sesuatu yang salah. Akhirnya solidaritas sosial, rasa peduli terhadap kebutuhan teman berubah menjadi ketimpangan kontribusi yang dianggap normal.
Ironisnya rasa lelah dan kekecewaan seringkali tidak dapat diekspresikan secara terbuka. Sikap sungkan dan keinginan untuk menjaga kerukunan membuat seseorang memendam kekesalannya sendiri. Mereka merasa takut akan konflik ataupun retaknya hubungan pertemanan akibat sesuatu yang “remeh”. Akibatnya ketimpangan kontribusi yang telah dinormalisasi pun mengubah paradigma kerja kelompok. Kerja kelompok bukan sebagai sebuah gotong royong, melainkan sebuah pemindahan beban dari sebagian orang ke orang-orang tertentu.
Harmoni yang Kebablasan
Sebagai penutup, terdapat kata-kata dalam bahasa Jawa yang berbunyi “Ngono ya Ngono, ning Ojo Ngono”, sebuah frasa yang menurut Bambang Udoyono dapat dimaknai sebagai ajakan untuk tidak melakukan sesuatu secara berlebihan. Kata-kata ini berlaku untuk kedua belah pihak yang terlibat, baik kepada mereka yang menjadi penggendong kelompok, maupun mereka yang menjadi free rider.
Mereka yang menjadi penggendong kelompok, tentu memiliki tujuan yang mulia untuk mempraktikkan nilai budaya yang sudah ditanam sejak kecil. Rukun, sungkan, adalah sesuatu yang baik pada saat yang tepat, tetapi menjadi sebuah permasalahan jika nilai tersebut dianggap sesuatu yang kaku, dalam artian harus selalu dilakukan tanpa memandang konteks. Jika konteks diabaikan, maka yang terjadi adalah perasaan lelah akibat menggunakan lebih dari porsi tugasnya dan perasaan tersiksa secara batin akibat terus memendam kekesalan.
Di sisi lain, mereka yang menjadi free rider, seharusnya memahami bahwa meminta bantuan dan pertolongan dari teman bukanlah sesuatu yang salah. Namun, apabila bantuan tersebut diberikan terus menerus tanpa adanya timbal balik, tentu hal tersebut menjadi berlebihan. Pada hakikatnya, hubungan antar manusia sendiri seharusnya adalah dua arah. Jika sebuah hubungan tidak dua arah, apa bedanya dengan berbicara dengan patung?
Dengan demikian, nilai-nilai, sikap, dan budaya muncul untuk menjaga keharmonisan sosial. Nilai rukun dan sikap sungkan berperan dalam mencegah konflik terbuka yang mengancam dinamika kelompok. Namun, jika nilai tersebut diaplikasikan tanpa batasan yang jelas, nilai tersebut justru dapat melahirkan kelelahan emosional dan ketimpangan kontribusi yang perlahan merusak esensi dari kerja sama itu sendiri.
Daftar Pustaka
Hermawan, M. S., & Loo, M. K. (2019). The Construction of Kekeluargaan as an Indonesia’s Organizational Culture. Jurnal Humaniora, 31(1), 1. https://doi.org/10.22146/jh.42851
Udoyono, B. (2023). Ngono ya Ngono, ning Aja Ngono. Indonesiana.id. https://www.indonesiana.id/read/165386/ngono-ya-ngono-ning-aja-ngono
