Konten dari Pengguna

Talas Beneng: Tanaman Liar Penopang Harapan Ekonomi Warga Pandeglang

Aghnia Ramadhani

Aghnia Ramadhani

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik- Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aghnia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Talas beneng, budidaya Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Foto: Dok. Aghnia Ramadhani
zoom-in-whitePerbesar
Talas beneng, budidaya Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Foto: Dok. Aghnia Ramadhani

Talas beneng, varietas talas khas Kabupaten Pandeglang, kini hadir menjadi peluang ekonomi bagi para petani lokal di kawasan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Tanaman ini tumbuh alami di kawasan Gunung Karang dan telah lama dikenal oleh warga setempat sebagai sumber pangan pengganti beras.

Tanaman ini dibudidayakan oleh warga setempat karena dikenal sebagai tanaman yang mampu tumbuh di berbagai kondisi tanah, dan tidak membutuhkan perawatan pertanian yang kompleks. Talas ini dikenal dengan sebutan "beneng", yang berasal dari singkatan besar dan koneng (kuning). Hal ini merujuk pada umbi talas yang berwarna kuning serta memiliki daun yang lebar dengan batang yang dapat tumbuh hingga hampir dua meter.

Dokumentasi bersama ketua kelompok tani mandiri Kampung Cibeunying. Foto: Dok. Aghnia Ramadhani

Hal ini dibuktikan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang menelusuri Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Rabu (28/11). Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, talas beneng hanyalah tumbuhan liar dan hanya dimanfaatkan secara terbatas. Namun, sejak pandemi Covid-19 pada 2021, masyarakat Kampung Cibeunying mulai membudidayakan secara kolektif sebagai komoditas pangan unggulan.

Kesadaran tersebut didorong oleh terbentuknya Kelompok Tani Mandiri Kampung Cibeunying. “Talas beneng ini adalah talas khas Kabupaten Pandeglang, hanya ada di Kabupaten Pandeglang saja, khususnya di kawasan Gunung Karang.” ungkap Oman Arista, Ketua Kelompok Tani Mandiri Kampung Cibeunying. “Sejak dulu talas beneng Pandeglang sudah tumbuh di sini, dan kami ingin menjadikannya produk unggulan yang bisa dikenal hingga ke luar negeri.” jelasnya.

Proses budidaya talas beneng relatif sederhana. Petani membersihkan lahan, menanam bibit, lalu melakukan pemupukan secara bertahap. Talas beneng dipanen sekitar delapan bulan masa tanam, dengan menggunakan pupuk organik dari bahan-bahan alami seperti kotoran hewan.

Bagi masyarakat Cibeunying, talas beneng tidak hanya berfungsi sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai pengganti nasi untuk upaya diversifikasi pangan. Umbinya dikukus dan dikonsumsi langsung oleh warga, terutama sebagai sumber karbohidrat alternatif. Lebih jauh, pengetahuan warga lokal berkembang menjadi sebuah inovasi ekonomi. Talas beneng diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tepung mocaf talas beneng, stik talas, keripik hingga bolu. Bahkan, daun talas beneng dapat dimanfaatkan sebagai campuran tembakau untuk produk rokok.

Distribusi Talas beneng tidak hanya terbatas di Pandeglang saja, tetapi sudah menjangkau luar daerah, seperti Sumatera. Bahkan, umbi talas beneng telah dikirim ke luar negeri, yaitu Belanda untuk diolah menjadi tepung, dengan respons pasar terhadap talas beneng sangat positif. Pembudidayaan ini juga didukung oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan dan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, melalui pendampingan, penyuluhan, serta bantuan pupuk bersubsidi.

Keberlanjutan talas beneng ini tidak hanya dilihat sebagai strategi ekonomi jangka pendek saja, tetapi juga sebagai warisan pengetahuan lokal. “Talas ini tidak bisa kami hilangkan. Ini identitas Pandeglang dan akan kami turunkan hingga anak cucu kami.” jelas Oman Arista, selaku ketua kelompok tani mandiri.