Mengenal Al-Zahrawi: Dokter Muslim yang Temuannya Masih Dipakai di Bedah Modern

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Syariah dan Hukum Program Studi Perbandingan Mazhab.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aghni Itsna Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia medis modern sebenarnya berutang besar pada masa keemasan Islam. Jika kita bicara tentang ilmu bedah, satu nama yang wajib muncul adalah Abu al-Qasim al-Zahrawi.
Di dunia Barat, sosok jenius ini lebih dikenal dengan nama Albucasis. Ia lahir pada tahun 936 M di El-Zahra, dekat Kordoba, Spanyol.
Al-Zahrawi bukan sekadar dokter biasa pada zamannya. Ia adalah pionir yang meletakkan dasar-dasar ilmu bedah yang kita gunakan hingga hari ini.
Kitab Al-Tasrif: Ensiklopedia Medis Legendaris
Karya monumental Al-Zahrawi yang paling berpengaruh adalah Al-Tasrif li-man 'ajiza 'an al-ta'lif. Kitab ini terdiri dari 30 volume yang mencakup berbagai aspek medis.
Menariknya, volume terakhir yang khusus membahas tentang bedah menjadi rujukan utama di Eropa selama lebih dari lima abad. Ia tidak hanya menulis teori, tetapi juga menyertakan ilustrasi alat-alat bedah ciptaannya.
"Ilmu bedah adalah tangan kedokteran. Tanpa pemahaman anatomi yang kuat, seorang dokter hanya akan melakukan kesalahan yang membahayakan pasien," tulis Al-Zahrawi dalam salah satu babnya.
Temuan yang Mengubah Dunia Kedokteran
Beberapa kontribusi nyata Al-Zahrawi yang masih sangat relevan hingga kini antara lain:
Penemuan Benang Catgut: Ia adalah orang pertama yang menggunakan jaringan usus hewan untuk menjahit luka bagian dalam. Benang ini dapat diserap tubuh secara alami, sehingga pasien tidak perlu operasi tambahan untuk melepas jahitan.
Instrumen Bedah Orisinal: Al-Zahrawi merancang lebih dari 200 alat bedah, termasuk scalpel (pisau bedah), jarum bedah, hingga alat pemeriksaan saluran telinga.
Teknik Menghentikan Pendarahan: Ia memperkenalkan teknik ligasi atau mengikat pembuluh darah untuk menghentikan pendarahan hebat. Prosedur ini sangat krusial dalam operasi besar hingga sekarang.
Fun Fact: Tahukah Kamu?
Kosmetik juga Medis: Dalam Al-Tasrif, ia juga membahas tentang deodoran, lotion rambut, dan pewarna bibir (lipstick) padat sebagai bagian dari kesehatan.
Bapak Bedah: Berkat dedikasinya, para sejarawan medis menjuluki Al-Zahrawi sebagai "The Father of Modern Surgery" atau Bapak Bedah Modern.
Etika Kedokteran: Ia selalu menekankan agar dokter tidak membeda-bedakan status sosial pasien. Baginya, etika adalah prinsip utama dalam profesi medis.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Hingga saat ini, jejak Al-Zahrawi dapat ditemukan di setiap ruang operasi di seluruh dunia. Tanpa ketelitiannya dalam mendokumentasikan prosedur, dunia bedah mungkin tidak akan secanggih sekarang.
Mengenal Al-Zahrawi adalah cara kita menghargai bahwa ilmu pengetahuan adalah estafet peradaban. Ia membuktikan bahwa ilmuwan Muslim pernah menjadi mercusuar bagi kemajuan medis dunia.
