Konten dari Pengguna

Self-Diagnosis di Kalangan Gen Z: Tren atau Masalah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agita Ayu Ciptiyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.magnific.com/free-photo/application-pointing-worker-digital-stressed_1078140.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=89aa9748-f973-458d-aaa9-659b2fb33a4a&query=overthinking
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.magnific.com/free-photo/application-pointing-worker-digital-stressed_1078140.htm#fromView=search&page=1&position=2&uuid=89aa9748-f973-458d-aaa9-659b2fb33a4a&query=overthinking

Pernahkah kalian merasa “Ih kok aku banget ya?” saat melihat konten di Tiktok/ Instagram yang membahas tentang ciri - ciri gangguan mental? Nah, fenomena ini disebut sebagai self-diagnosis! Apa itu? Kondisi dimana seseorang menyimpulkan kondisi mentalnya berdasarkan informasi dari media sosial, tanpa ada pemeriksaan dari tenaga profesional Annury, dkk., dalam (Yanti & Rahmawati, 2024). Hal ini semakin marak terjadi pada generasi Z, karena mereka banyak mencari informasi melalui media sosial. Konten yang dikemas secara singkat, relatable, dan gampang dipahami membuat orang dengan mudah men-cocokologikan gejala yang disampaikan dengan kondisi dirinya.

Walau self-diagnosis terlihat sebagai salah satu hal yang dapat meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental, fenomena ini juga dapat membawa berbagai dampak negatif jika dilakukan tanpa pemahaman yang tepat. Mari kita bahas dampak - dampaknya berdasarkan penelitian yang kredibel!

Dampak pada Pola Pikir Kita!

Self-diagnosis bisa membuat seseorang ragu dengan keadaan mental diri yang sebenarnya. Dimana, seseorang akan sering melihat dirinya sebagai individu yang “tidak normal.” Kemudian, dapat menimbulkan turunnya rasa kepercayaan diri hingga membuat cepat putus asa dalam melakukan aktivitasnya. Selain itu, hal ini juga dapat menyebabkan penanganan yang kurang tepat, karena hanya berpatok pada gejala dari media sosial.

Merubah Cara Kita Memahami Emosi

Penelitian juga menunjukkan kalau self-diagnosis ini bisa mempengaruhi suasana hati seseorang. Ini terjadi ketika individu terlalu sering mengaitkan perasaan emosionalnya pada salah satu gejala gangguan. Padahal, emosi seperti cemas, takut, sedih, atau lelah tidak selamanya menandakan hal buruk terjadi pada diri, melainkan salah satu mekanisme pertahanan dari tubuh yang normal, dengan catatan tidak mengganggu aktivitas sehari - hari. Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih mudah overthinking dan merasa khawatir secara berlebihan terhadap kondisi dirinya sendiri.

Membuat Kita Bertindak Tanpa Sadar

Dari self-diagnosis individu menjadi lebih sering khawatir, berpikiran negatif, dan mudah percaya dengan informasi - informasi yang beredar luas tanpa tahu kebenaran mutlaknya. Akibatnya, seseorang bisa mulai mengubah perilakunya karena merasa dirinya memiliki gangguan mental tertentu. Beberapa orang bahkan menjadi lebih sensitif, mudah curiga terhadap respons orang lain, hingga menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa ada yang “salah” dengan dirinya. Selain itu, hasil self-diagnosis yang tidak sesuai dengan harapan juga dapat membuat individu semakin takut dan cemas terhadap kondisi dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

Pertanyaan yang mungkin muncul kalau sudah membahas topik ini, “sebenarnya apa yang membuat banyak Gen Z begitu mudah percaya dengan hasil self-diagnosis di media sosial?

Penelitian yang dilakukan oleh Normansyah, dkk. (2024) menemukan kalau banyak gen Z yang menggunakan kalkulator kesehatan mental dengan salah kaprah. Tes yang seharusnya dijadikan screening awal untuk penanganan lebih lanjut, malah dijadikan ajang untuk memvalidasi kondisi dirinya sendiri tanpa pemeriksaan dari tenaga profesional. Banyak individu akhirnya langsung percaya pada hasil tes online dan menyimpulkan bahwa dirinya memiliki gangguan mental tertentu hanya karena merasa cocok dengan gejala yang muncul. Selain itu, media sosial juga membuat banyak orang mencari pengakuan dan dukungan dari pengguna lain, sehingga fenomena self-diagnosis semakin mudah berkembang di kalangan Generasi Z.

Pada akhirnya, meningkatnya pembahasan kesehatan mental di media sosial memang membawa dampak positif karena membuat masyarakat, khususnya gen Z, menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kondisi psikologis. Namun, kemudahan mengakses informasi juga perlu diimbangi dengan kemampuan untuk menyaring dan memahami informasi tersebut secara bijak. Jangan sampai konten singkat di FYP justru membuat seseorang terlalu cepat menyimpulkan kondisi dirinya sendiri tanpa pemahaman yang tepat.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjadikan media sosial sebagai sarana edukasi awal, bukan sebagai tempat untuk menentukan diagnosis kesehatan mental secara mandiri. Jika merasa mengalami kondisi yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan dan berkonsultasi langsung dengan psikolog atau tenaga profesional agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Oleh Agita Ayu Ciptiyani, Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.