Konten dari Pengguna

Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dalam Lingkaran Stigma

Agung Pratama Satria

Agung Pratama Satria

Mahasiswa Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agung Pratama Satria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret Pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) (Sumber: Kemensos.go.id)
zoom-in-whitePerbesar
Potret Pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) (Sumber: Kemensos.go.id)

Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak jarang kita temui di sekitar lingkungan kita. Mereka yang terkadang terlihat lusuh, tidak terurus, bahkan ada beberapa yang dijumpai tidak menggunakan busana. Hal ini juga diperburuk stigma yang masih terbangun di masyarakat, di mana ada cap “seram” kepada pengidap ODGJ ini.

Hal ini muncul karena belum tersedianya cukup informasi seputar ODGJ bagi masyarakat, khususnya pada media-media arus utama. Jadi apa sebenarnya yang terjadi pada ODGJ? Apa benar mereka berbahaya?

Mengenal Lebih Dekat Seputar ODGJ

ODGJ merupakan sebutan bagi orang-orang yang mengidap penyandang gangguan jiwa, jika merujuk pada Undang-Undang Kesehatan No. 18 Tahun 2014.

Anisya Legipermatasari, seorang perawat yang sempat magang di sebuah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Jakarta menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan ODGJ. Legi, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa pasien ODGJ biasanya berawal mengidap skizofrenia. Skizofrenia sendiri merupakan penyakit yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik.

Legi menjelaskan bahwa ODGJ memiliki jenis-jenis yang mereka idap juga dan tidak selamanya mereka dalam kondisi tersebut. Legi mengatakan ada kalanya seorang ODGJ ada dalam “fase” kesadarannya, di mana ia bisa diajak berkomunikasi seperti manusia normal pada umumnya.

“Bahkan pas aku baru dateng di hari pertama magang, itu ruangan aku ada di ujung ruangan perawatan mereka. Nah itu mereka rame, ada juga yang ngomong, "Eh kalian perawat magang ya? Sini sama gue aja, lu mau gue jadi apa? Waham? Halusinasi? Gue udah tau semua nih!” ucap Legi

Ia menambahkan di RSJ tersebut memang ada ODGJ sudah lama ada di sana dan bisa dikatakan “pintar” dan tahu akan apa yang mereka idap. ODGJ sendiri ada yang berbentuk Waham, Halusinasi, Isolasi Mandiri, Risiko Tindakan Kekerasan, dan Harga Diri Rendah.

Di RSJ itu sendiri tidak seperti yang mungkin dibayangkan masyarakat seperti pasiennya dikekang dan menyeramkan. ODGJ yang berada di RSJ juga tetap bersosialisasi dengan pasien lainnya dan dengan perawat, selain menjalani terapi penyembuhannya.

ODGJ Juga Bagian Masyarakat

Terkait terapi penyembuhan bagi ODGJ salah satunya dengan meminum obat rutin. Obat tersebut bertujuan untuk meredam penyakit yang mereka alami kambuh. Namun disisi lain, ada hal yang perlu diperhatikan masyarakat di mana faktor lingkungan juga tidak kalah penting dalam proses penyembuhan ODGJ.

Legi mengatakan dukungan dari keluarga dan lingkungan merupakan salah satu hal yang dapat membantu penyembuhan ODGJ. Karena seperti kita tahu bahwa ODGJ itu sendiri yang terganggu jiwanya, adanya dukungan dari keluarga dan masyarakat dapat membantu pasien ini untuk menjaga kestabilan jiwa mereka.

Namun yang Legi sayangkan, lingkungan sekitar baik keluarga maupun lingkungan masih memberikan cap kepada pasien ini seperti “orang gila.” Padahal orang-orang yang sudah selesai terapi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) tersebut memang sudah bisa mengontrol diri mereka, tetapi jika dukungan dari lingkungan tidak baik akan menimbulkan kemungkinan pasien ini kembali kambuh.

“Disaat mereka lagi sadar, suka sedih denger cerita mereka. Kadang bilang, 'Sus, gue tuh pengin sembuh, kangen anak-anak gue’” tambah Legi. Banyak juga cerita dari Legi seputar cerita-cerita dari pasien disaat sadar, bagaimana mereka juga tidak seperti yang dipikirkan masyarakat, di mana Legi mengatakan bahwa bahkan dia tidak pernah mengalami kontak fisik tidak mengenakan dari pasien.

Bahkan Legi menambahkan bahwa ia banyak mendapatkan hal-hal kesan positif selama berinteraksi dengan pasien ODGJ. Legi jadi dapat memahami mereka, apa permasalahan yang membuat mereka depresi lalu mengalami gangguan jiwa, sampai meningkatkan keawasannya terhadap kesehatan mental orang di sekitarnya.

Legi juga mengatakan bahwa ODGJ sendiri tidak akan bereaksi jika kita tidak memancing mereka. Selain itu ada kalanya juga mereka sadar dan dapat diajak berkomunikasi. Hal ini juga perlu diketahui oleh masyarakat untuk menghilangkan cap tersebut baik kepada pasien maupun penyintas ODGJ.

Membangun Kesadaran Masyarakat Akan ODGJ

Legi juga bercerita seputar bagaimana penerimaan lingkungan keluarga dan masyarakat yang masih kurang baik. Ia menceritakan ada beberapa pasien yang memang “dititipkan” oleh keluarganya di RSJ tersebut, walaupun sudah selesai masa terapinya tapi keluarga hanya mengurus administrasinya saja. Pasien-pasien ODGJ ini dibiarkan tetap di RSJ walaupun sudah bisa dinyatakan sembuh walau dengan syarat minum obat rutin.

Disaat sadar pula, pasien itu sadar bahwa lingkungan keluarganya tidak menginginkan mereka. Hal ini juga muncul karena stigma di masyarakat terhadap pasien ODGJ, padahal stigma yang tubuh tersebut tidak sepenuhnya benar.

Pasien ODGJ dapat sembuh walaupun dengan dibantu oleh obat ucap Legi, namun tidak kalah penting dukungan keluarga serta lingkungan untuk menjaga kestabilan jiwa mereka. Sudah seharusnya lingkungan membantu pemulihan mereka serta dapat saling menjaga kesehatan jiwa satu sama lain. Kesadaran akan kesehatan jiwa juga perlu ditanamkan, karena ODGJ juga dapat bersumber dari depresi ringan yang dibiarkan dan tidak diberi penanganan ahli.

Oleh karenanya, kita harus bisa lebih memahami tentang isu ODGJ ini secara lebih bijak, karena mereka juga merupakan bagian dari masyarakat. Hal ini supaya mereka yang sudah menjadi penyintas dapat kembali beraktivitas normal, tanpa harus takut akan pandangan miring masyarakat. Dengan mengetahui seputar isu ODGJ juga, kita juga dapat meningkatkan minimal kesadaran kita untuk menjaga kesehatan mental kita dan lingkungan sekitar kita.