Tekno & Sains
·
19 Juli 2021 14:41
·
waktu baca 3 menit

Evaluasi PPKM Darurat: Perlukah Peta Darurat Kesehatan?

Konten ini diproduksi oleh Aji Putra Perdana
Rabu, 2 mingguan yang lalu (07/07), seorang kawan di salah satu Grup WhatsApp (WA) tiba-tiba nyeletuk, "Serangan negara api dilawan dengan api!", karena COVID-19 musuh yang tak kelihatan dan berbahaya maka kita harus berani.
ADVERTISEMENT
Betul juga, kalau soal keberanian sepertinya sebagian dari kita memang berani. Namun, keberanian seperti apa ini?

Apakah berani tidak menggunakan masker, berani berkerumun dalam antrian vaksinasi, ataukah berani menerobos lokasi penyekatan PPKM Darurat?

Pastinya bukan keberanian semacam itu yang kita harapkan, berani mencegah diri untuk tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan, berani berkontribusi membantu untuk saling bantu melawan COVID-19.
Evaluasi PPKM Darurat: Perlukah Peta Darurat Kesehatan? (1049662)
searchPerbesar
Mainan mobil ambulan, ilustrasi darurat kesehatan. Photo by Zhen Hu on Unsplash
Gotong Royong Hadapi Pandemi COVID-19
Artinya, butuh keberanian dengan semangat berapi-api dan gotong ruyun, urun daya masyarakat untuk hadapi pandemi COVID-19. Mulai muncul sejumlah kegiatan urun daya atau gotong royong, dari mulai warga bantu warga, kemudian terakhir ada gotong royong oksigen.
Sebelumnya, konsep ini juga telah diusung oleh Lapor COVID-19 melalui kanal laporan warga adalah salah satu bentuk urun daya yang diharapkan dapat melengkapi maupun memperkaya informasi resmi dari pemerintah.
ADVERTISEMENT
Dari kesemua gambaran di atas, saya melihat keberanian dan semangat bahu-membahu seperti inilah yang mesti ditingkatkan terlebih di situasi yang semakin darurat.
Seberapa bahaya dan daruratkah, situasi pandemi COVID-19 di Indonesia, sehingga perlu keberanian (baca: kedisiplinan) untuk melawannya?
Seperti kita ketahui bersama bahwa situasi darurat ini bukan hanya dialami oleh Indonesia, pandemi COVID-19 ini bersifat global dan tak kenal batasan geografis. Kemudian, negeri tercinta ini memiliki kondisi dan karakteristik geografis yang unik.
Keunikan tersebut merupakan peluang dan tangan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kesadaran bersama bahwa pembangunan masih belum merata. Negara ini memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi akibat cepatnya perkembangan kota. Wilayah perkotaan yang tumbuh pesat dan padat penduduknya masih terkonsentrasi di Jawa-Bali.
Wajar sekiranya PPKM Darurat dimulai dari Jawa-Bali, jika melihat peta zonasi risiko dan perkembangan angka kasus positif dan meninggal, maka sesuai tulisan waktu itu PPKM Darurat diperluas juga ke luar Pulau Jawa-Bali.
ADVERTISEMENT
Evaluasi PPKM Darurat dan Peta Darurat Kesehatan
Hasil evaluasi PPKM Darurat hingga kemarin belum juga diumumkan, apakah akan ada perpanjangan atau langkah apa yang akan ditempuh Pemerintah. Kabar terkini (19/07), ditulis sejumlah media berita bahwa PPKM Darurat yang akan selesai besok tanggal 20 Juli 2021 semoga akan segera diputuskan.
Evaluasi PPKM Darurat: Perlukah Peta Darurat Kesehatan? (1049663)
searchPerbesar
ilustrasi petugas mengingatkan penggunaan masker. Photo by Azkha Fahila on Unsplash
Dalam konferensi pers secara daring pada hari Sabtu (17/07), Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa terdapat dua indikator sebagai dasar evaluasi PPKM Darurat. Kedua indikator tersebut adalah penambahan jumlha kasus aktif COVID-19 dan tingkat keterisian tempat tidur (BOR) rumah sakit.
Kemudian, beberapa berita juga melansir bahwa di sejumlah daerah terjadi upaya penambahan shelter atau tempat perawatan, mengubah fungsi wisma maupun bangunan tertentu menjadi Rumah Sakit Darurat atau Rumah Sakit Lapangan.
ADVERTISEMENT
Jika kita mencermati kedua indikator tersebut, ditambah dengan semakin meningkatnya upaya gotong royong penyediaan tabung oksigen, saya melihat bahwa selain Peta Zonasi Risiko COVID-19, perlu adanya Peta Darurat Kesehatan.
Peta yang menyajikan informasi di wilayah Kabupaten/Kota mana saja yang memerlukan peningkatan kapasitas dukungan untuk shelter maupun Rumah Sakit Darurat atau Rumah Sakit Lapangan tadi.
Termasuk tentunya, adakah ketimpangan antara ketersediaan oksigen medis dengan kebutuhannya di lapangan. Selain itu, dapat pula dilengkapi dengan konsep urun daya berupa laporan dari warga agar diperoleh informasi yang lebih terkini sesuai dinamika di lapangan,
Bahkan, saya membayangkan seandainya peta darurat kesehatan itu dapat dengan mudah diakses di gawai. Misal, terintegrasi dengan aplikasi pedulilindungi dimana semua warga negara wajib install dan daftar akun pada aplikasi tersebut.
ADVERTISEMENT
Kemudian kita benar-benar terinfokan kondisi darurat terkini. Gawai kita akan berbunyi saat mendapatkan pesan peringatan, terutama tatkala angka kasus COVID-19 dan jumlah kematian memecahkan rekor, hingga informasi ketersediaan kamar dan oksigen yang menipis di suatu lokasi terdekat kita.
Evaluasi PPKM Darurat: Perlukah Peta Darurat Kesehatan? (1049664)
searchPerbesar
ilustrasi mencari kebutuhan sehari-hari saat pandemi COVID-19. Photo by Viki Mohamad on Unsplash

Kira-kira, semakin membuat kita untuk berani dan siaga atau malah membuat kita kalang kabut dan memantik panic buying produk atau obat-obatan tertentu?

Itu sekedar andai dan angan saya saja melihat situasi sekarang dan urgensi adanya Peta yang dapat menggugah kesadaran kita untuk semakin disiplin menjalankan protokol kesehatan dan himbauan dalam menjalankan PPKM Darurat.
Apa pun keputusan yang akan diambil Pemerintah nanti terkait PPKM Darurat, saya pribadi meyakini telah mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk aspek kajian pandemi COVID-19 melalui pendekatan geografi.
ADVERTISEMENT
Satu Data Satu Peta Satu Nusantara Kuat Bersama Hadapi Pandemi COVID-19.