Tiga Hari Pacu Waktu, Mahasiswa UNTAG Ciptakan Alat Press Botol untuk SLB Sidayu

Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Teknik Industri, Mahasiswa.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Akram Detia Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suasana SLB Muhammadiyah Sidayu, Desa Golokan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, tampak berbeda dari hari-hari biasanya pada Senin, 13 Juli 2026. Hari itu bertepatan dengan hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sehingga halaman sekolah dipadati siswa baru maupun siswa lama yang naik jenjang, mulai dari tingkat SDLB, SMPLB, hingga SMALB, lengkap dengan para guru yang mendampingi. Di tengah keramaian itulah, tim mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya resmi menyerahkan Alat Pengepres Botol Plastik dan Bank Sampah Pilah, hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dipersiapkan sejak pertengahan Juni 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja Sub Kelompok 2, salah satu kelompok kecil di bawah naungan kelompok besar R23, yang berfokus pada isu pengelolaan sampah plastik di lingkungan sekolah berkebutuhan khusus. Selama hampir sebulan, tim yang beranggotakan mahasiswa lintas jurusan ini melakukan pendekatan bertahap kepada pihak sekolah, sebelum akhirnya sampai pada momen penyerahan yang berlangsung meriah dan penuh kehangatan tersebut.
Dua Kali Observasi, Satu Kali Wawancara Mendalam
Sebelum sampai pada tahap penyerahan, tim lebih dulu melakukan dua kali observasi lapangan. Observasi pertama dilaksanakan pada 16 Juni 2026, disusul observasi kedua pada 10 Juli 2026. Pada dua kesempatan tersebut, tim secara khusus menemui dan berdiskusi langsung dengan Kepala SLB Muhammadiyah Sidayu, Bapak Mat Wahib, S.Pd., untuk memahami kondisi pengelolaan sampah di sekolah sekaligus menggali kebutuhan riil yang dihadapi pihak sekolah.
Dari dua pertemuan itu, tim mendapati bahwa pengelolaan sampah di sekolah masih dilakukan secara konvensional: seluruh jenis sampah dibuang dalam satu wadah tanpa pemilahan, sementara botol plastik bekas dibiarkan menumpuk dalam kondisi utuh sehingga cepat memenuhi ruang penyimpanan. Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi tim untuk merancang Alat Pengepres Botol Plastik dan Bank Sampah Pilah, yang dikerjakan secara intensif selama tiga hari menjelang jadwal penyerahan.
Penyerahan yang Meriah, Bertepatan dengan Hari Pertama MPLS
Momen penyerahan alat berlangsung tidak lama setelah upacara pembukaan MPLS usai digelar. Suasana yang semula khidmat saat upacara berubah riuh ketika tim memperkenalkan cara kerja alat kepada para guru dan siswa yang hadir. Penyerahan alat kali ini turut bersamaan dengan agenda Sub Kelompok 7, bagian dari kelompok besar R2, yang memperkenalkan program kerja mereka berupa mesin cuci tangan otomatis bersensor untuk mendukung kebersihan siswa, yang didemonstrasikan setelah sesi pengenalan alat pengepres botol.
Antusiasme siswa menjadi pemandangan yang paling mencolok pada hari itu. Setelah dijelaskan cara kerja alat lengkap dengan panduan langkah demi langkah, mulai dari cara memasukkan dan mengepres botol hingga membuang botol yang sudah dipadatkan ke tong pilah sesuai kategorinya, siswa-siswa SLB Muhammadiyah Sidayu silih berganti mencoba alat tersebut. Rasa penasaran mereka bahkan membuat seluruh stok botol plastik yang telah disiapkan tim untuk sesi uji coba habis terpakai, pertanda bahwa alat ini diterima dengan sangat antusias oleh penggunanya.
Cuci Tangan, Makan Bergizi Gratis, dan Keakraban Bersama Adik-Adik SLB
Usai sesi pengenalan kedua alat tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan sesi cuci tangan menggunakan mesin cuci tangan otomatis dari Sub Kelompok 7, sebelum siswa-siswa menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama di Kantin Mentari, kantin sekolah yang pagi itu turut dipadati siswa dari berbagai jenjang. Rangkaian ini menjadi penutup manis dari kegiatan hari itu, dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara tim mahasiswa, para guru, dan puluhan siswa SLB Muhammadiyah Sidayu.
Momen foto bersama ini menjadi salah satu bagian paling hangat dari keseluruhan rangkaian acara. Siswa-siswa dari berbagai jenjang dan latar belakang disabilitas duduk berbaur bersama para guru dan tim mahasiswa, saling melempar senyum dan tanda jempol ke arah kamera. Kebersamaan yang terjalin sejak sesi pengenalan alat hingga acara makan bersama ini menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian tidak hanya menyisakan alat fisik, tetapi juga kedekatan emosional antara tim dan warga sekolah.
Sebagai bentuk ucapan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan, Akram Detia Putra, salah satu anggota tim, turut membelikan es krim untuk adik-adik SLB Muhammadiyah Sidayu, yang disambut gembira sebagai penutup rangkaian acara pengenalan alat pada hari itu. Suasana semakin akrab ketika tim berbincang santai bersama para siswa, memperkenalkan diri sebagai "kakak kelas baru" bagi siswa-siswa yang hari itu resmi menjadi bagian dari lingkungan SLB Muhammadiyah Sidayu.
Dokumentasi Penutup dan Berita Acara Serah Terima
Menjelang waktu pulang, tim menyempatkan diri berfoto bersama para guru dan Kepala SLB Muhammadiyah Sidayu, Bapak Mat Wahib, S.Pd., sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan hari itu. Sesi dokumentasi ditutup dengan foto bersama sambil membawa Berita Acara Serah Terima (BAST), buku panduan penggunaan alat, serta poster deskripsi alat, dengan latar belakang Alat Pengepres Botol Plastik dan Bank Sampah Pilah yang telah dibubuhi stempel resmi sekolah, sebagai bukti sah bahwa alat telah diterima oleh pihak SLB Muhammadiyah Sidayu.
Selain dokumentasi foto, tim turut merekam video kesan dan pesan bersama Kepala Sekolah dan tiga siswa SLB dengan latar belakang ragam disabilitas berbeda, termasuk tuna netra dan tuna grahita, sebagai bagian dari dokumentasi film kegiatan pengabdian kelompok. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, tim kembali menuju posko untuk melanjutkan agenda pengabdian lainnya.
Harapan Keberlanjutan
Naufal Abdillah, S.Kom., M.Kom., dosen Program Studi Teknik Informatika yang menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) tim, berharap momentum yang bertepatan dengan hari pertama MPLS ini dapat menjadi awal yang baik bagi keberlanjutan penggunaan alat.
"Bertepatan dengan MPLS artinya alat ini langsung dikenalkan kepada seluruh warga sekolah, baik yang baru maupun yang lama. Harapannya kebiasaan memilah dan memadatkan sampah ini bisa langsung tertanam sejak awal tahun ajaran," ujarnya.
Dengan diserahkannya alat ini, SLB Muhammadiyah Sidayu kini memiliki sarana baru untuk mengelola sampah botol plastik secara lebih tertata, sekaligus menjadi media edukasi lingkungan yang inklusif dan menyenangkan bagi siswa berkebutuhan khusus.
Bagi tim Sub Kelompok 2, momen penyerahan yang bertepatan dengan hari pertama MPLS ini menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Selain menuntaskan program kerja pengabdian, mereka juga sempat menjadi bagian dari kegembiraan hari pertama sekolah bagi puluhan siswa SLB Muhammadiyah Sidayu, sebuah momen yang menegaskan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak melulu soal alat dan teknologi, tetapi juga tentang kehadiran dan kepedulian yang dirasakan langsung oleh masyarakat yang didampingi.
