Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Lalu Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Tulisan dari Aldisa dis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertumbuhan ekonomi bukan hanya soal angka PDB. Yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan tersebut terasa dalam kehidupan masyarakat.
Ketika mendengar ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen, sebagian masyarakat mungkin bertanya-tanya, sebenarnya apa hubungannya dengan kehidupan sehari-hari? Angka pertumbuhan ekonomi sering muncul dalam berita, tetapi tidak semua orang memahami apa arti angka tersebut bagi pendapatan, pekerjaan, konsumsi, dan kondisi ekonomi masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara triwulanan, ekonomi juga tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masih berjalan. Dalam teori ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi biasanya berkaitan dengan meningkatnya produksi barang dan jasa dalam suatu negara. Semakin banyak kegiatan produksi, semakin besar pula nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti seluruh masyarakat langsung merasakan peningkatan kesejahteraan. Ada banyak faktor yang menentukan apakah pertumbuhan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah kesempatan kerja.
Jika pertumbuhan ekonomi terjadi karena meningkatnya aktivitas perusahaan dan produksi, kebutuhan terhadap tenaga kerja juga dapat meningkat. Masyarakat yang memperoleh pekerjaan dan pendapatan tentu memiliki kemampuan konsumsi yang lebih besar. Konsumsi masyarakat sendiri merupakan salah satu komponen penting dalam perekonomian.
Pada triwulan II 2026, BPS mencatat konsumsi pemerintah menjadi komponen pengeluaran yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi, yaitu 15,97 persen secara tahunan. Dari sisi produksi, sektor pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81 persen. Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga tumbuh 11,83 persen pada semester I 2026.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berasal dari berbagai aktivitas ekonomi. Namun, masyarakat tetap perlu melihat indikator lainnya, terutama inflasi dan daya beli. Sebab, pendapatan yang meningkat belum tentu membuat kemampuan membeli barang dan jasa meningkat apabila harga-harga juga mengalami kenaikan.
BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan, sedangkan inflasi bulanan berada di angka 0,21 persen. Inflasi inti tercatat 2,92 persen secara tahunan.
Artinya, ketika membicarakan kondisi ekonomi, angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi perlu dilihat secara bersamaan. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan perkembangan aktivitas produksi, sedangkan inflasi memberikan gambaran mengenai perubahan tingkat harga. Keduanya dapat memengaruhi kondisi masyarakat dengan cara yang berbeda.
Selain itu, kebijakan moneter juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi. Pada September 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen. Bank Indonesia menyatakan keputusan tersebut berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Bagi masyarakat, perubahan suku bunga dapat terasa melalui berbagai aktivitas ekonomi. Misalnya, suku bunga dapat memengaruhi biaya pinjaman, keputusan masyarakat untuk mengambil kredit, serta keputusan perusahaan dalam melakukan investasi. Karena itu, kebijakan moneter tidak hanya berkaitan dengan dunia perbankan, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi sehari-hari.
Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen merupakan salah satu indikator penting untuk melihat kondisi perekonomian Indonesia. Namun, angka tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran dalam melihat kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi perlu dilihat bersama dengan inflasi, kesempatan kerja, pendapatan, daya beli, dan pemerataan hasil pembangunan.
Bagi masyarakat, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “seberapa tinggi ekonomi tumbuh?”, tetapi juga “sejauh mana pertumbuhan tersebut menciptakan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan menjaga daya beli?” Dari sinilah data ekonomi makro menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

