Konten dari Pengguna

Namaku Alam: Trauma dan Stigma Anak Eks Tapol dalam Perspektif Psikologi Sastra

Gusti Manda

Gusti Manda

Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang, sedang mengikuti Kegiatan Program Pertukaran Mahasiswa Angkatan 3 Tahun 2023.

·waktu baca 4 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gusti Manda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Namaku Alam (Sumber: dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Novel Namaku Alam (Sumber: dokumen pribadi)

Setelah meraup sukses dengan novel Pulang dan Laut Bercerita, Leila S. Chudori kembali menghadirkan sebuah novel terbaru sebagai spin-off dari novel Pulang yang berjudul Namaku Alam. Terbit pada September 2023 dibawah naungan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), novel tersebut terhitung sudah cetak ulang yang ke-3. Tentu hal tersebut tak lepas dari antusiasme para penggemar dan bukti bahwa novel karangan penulis kelahiran Jakarta, 12 Desember 1962 itu memang selalu laris.

Saya ingat, pertama kalinya membaca karya milik Bu Leila adalah Laut Bercerita. Pada saat itu, sebelum Twitter berganti nama menjadi X, saya seringkali melihat di akun menfess (mention confess), cuitan yang seringkali bermunculan adalah ulasan singkat novel Laut Bercerita. Komentar yang dipenuhi pada cuitan tersebut merekomendasikan untuk membaca novel itu. Saking seringnya saya melihat cuitan serupa, tergugahlah rasa penasaran saya. Berbekal rasa penasaran yang sudah meluap, saya memutuskan untuk membeli novel Laut Bercerita melalui aplikasi belanja online.

Leila S. Chudori, penulis novel Pulang, Laut Bercerita, dan Namaku Alam. (Sumber: Instagram/leilachudori.

Ketika saya membaca novel Laut Bercerita, saya jadi paham mengapa banyak cuitan di X merekomendasikan novel itu. Berangkat dari peristiwa penculikan aktivis 1997-1998, sang penulis mengaku bahwa untuk menulis novel tersebut, ia melakukan riset selama bertahun-tahun, terutama dengan keluarga korban maupun ex-aktivis yang ‘kembali’. Salah satu narasumbernya adalah Nezar Patria, ex-aktivis 1998 yang pada saat diculik sedang berada di rusun tempat tinggalnya di Klender, Jakarta Timur.

Nezar Patria, mantan aktivis korban penculikan 1998. (Sumber: Instagram/nezarpatria

Dari pengalaman membaca Laut Bercerita itulah, saya mulai berkenalan dengan karya Leila yang lain, salah satunya yang terbaru yakni novel Namaku Alam. Novel tersebut menghadirkan tema yang sebetulnya tidak jauh berbeda dengan novel Pulang, hanya saja fokus Namaku Alam ada pada keluarga Hananto Prawiro, terutama pada anak bungsunya yang bernama Segara Alam.

Novel Laut Bercerita. (Sumber: dokumen pribadi)

Alam, panggilan akrabnya, sebetulnya memiliki keistimewaan yang pada saat itu (juga di masa sekarang) begitu keren. Ia memiliki ingatan fotografi yang membuatnya mengingat segala sesuatu dengan detail hanya dengan sekali lihat atau mengamatinya. Namun baginya, ingatan fotografi adalah kutukan. Sebab, ia tidak bisa melupakan peristiwa saat ditodong pistol oleh gerombolan yang mencari Bapaknya ketika ia masih berusia 3 tahun.

Mana anak pengkhianat negara itu?

Ibu yang sudah menyusul ke ruang tengah, begitu melihat salah satu tamu itu mengangkat pistol sembari mencari "putra pengkhianat negara", langsung menjerit sekuat tenaga. Ibu berseru-seru agar mereka tidak mengganggu anak-anaknya. Dia menunjuk ke arahku, dan dengan suara meninggi mengatakan, anak bungsu Hananto baru menginjak usianya yang ketiga.

Demi melihatku, aku ingat, bagaimana wajah lelaki besar itu menjadi pucat. Dia tertegun menyadari aku tengah berjongkok bermain kelereng. Perlahan, dengan tangan gemetar dia mengembalikan pistolnya ke sarung. Akhirnya, mereka berlalu tanpa mengatakan apa-apa. Ibu masih terisak-isak menghampiri dan memelukku. Yu Kenanga dan Yu Bulan, yang entah bagaimana sudah berada di sisiku, juga ikut memelukku. Dan barulah aku menyadari bahwa seluruh tubuhku basah oleh keringat dan kencing. Gemetar dan dingin. Hanya beberapa detik kemudian, segalanya gelap.

Itulah kali pertama aku berkenalan dengan kelam. (Hal. 20-21)

Selain kutipan di atas, juga terdapat kutipan lain yang mendukung stigma negatif kepada sang tokoh utama, Segara Alam.

"Pa, Pa, Mbakyu Irma nggak percaya kalau bapaknya Alam itu pengkhianat negara." (Hal. 39)

"Terus, kenapa Pakde Yahya bilang Bapak Pengkhianat Negara?" (Hal. 42)

"Lihat, tuh, janda pengkhianat negara dipanggil Pak Nurdin!" (Hal. 49)

Sebagai mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, apa yang terjadi oleh Alam dapat dikaji melalui pendekatan Psikologi Sastra, bahwa di dalam sebuah karya sastra, terutama novel, seringkali tokoh atau pemerannya memiliki trauma yang muncul sedari kecil atau peristiwa menyedihkan yang telah terjadi di dalam hidupnya.

Tokoh Alam dalam novel Namaku Alam adalah representasi psikologi tokoh yang memiliki mental issue berupa trauma akibat stigma negatif yang muncul dari peristiwa yang dialami oleh bapaknya dan akhirnya menyeretnya, ibunya, serta kedua kakaknya memasuki keadaan yang tidak mudah. Sang penulis sendiri, Leila S. Chudori, dalam sudut pandang psikologi pengarang adalah seseorang yang pernah melewati peristiwa tahun 65 dan memiliki koneksi yang pernah berhubungan dalam tragedi itu.

Terakhir, sebagai seorang pembaca, saya turut bersimpati terhadap trauma dan stigma negatif yang dialami oleh tokoh Alam. Di sisi lain, secara tidak langsung, saya seakan 'diajak' untuk merasakan keadaan pada masa itu serta dampak yang terjadi akibat dari tragedi tersebut.

Demikian ulasan singkat mengenai novel Namaku Alam. Dari poin 1-100, saya memberi rating 95/100 untuk novel ini.