Budaya Saling Mengenal Digantikan Budaya Saling Memberi Rating

saya mahasiswa semester 3 universitas Pamulang, prodi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Amiraa virginia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, saya memesan makanan melalui aplikasi.
Seperti kebanyakan orang, saya tidak terlalu lama memilih.
Saya hanya melihat satu hal.
Bintang.
4,9.
Lebih dari tiga ribu ulasan.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung menekan tombol "Pesan".
Belakangan saya menyadari, keputusan itu bukan sekadar soal membeli makanan.
Ia mencerminkan cara baru kita menjalani kehidupan sosial.
Hari ini, hampir semua keputusan diawali dengan melihat rating. Memilih restoran, hotel, pengemudi transportasi daring, toko di marketplace, bahkan jasa profesional. Angka menjadi pintu pertama untuk membangun kepercayaan.
Yang mengkhawatirkan, logika itu perlahan tidak berhenti pada barang dan jasa.
Ia merembes ke cara kita memandang manusia.
Sebelum mengenal seseorang, kita lebih dulu melihat jumlah pengikutnya. Sebelum berbicara dengannya, kita mencari jejak digitalnya. Sebelum memberi kesempatan, kita membaca komentar orang lain.
Tanpa sadar, kita mulai lebih percaya pada penilaian publik daripada pengalaman pribadi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah sistem rating itu bermanfaat.
Pertanyaannya adalah: apa yang terjadi ketika manusia mulai diperlakukan seperti produk yang harus memperoleh ulasan terbaik agar dianggap layak dipercaya?
Kita hidup di era ketika reputasi lebih cepat daripada perkenalan
Dulu, mengenal seseorang membutuhkan waktu.
Kepercayaan lahir dari percakapan, pengalaman bersama, dan kesempatan melihat bagaimana seseorang bersikap dalam berbagai situasi.
Hari ini, semuanya berubah.
Reputasi seseorang sering kali sudah terbentuk bahkan sebelum pertemuan pertama.
Media sosial, ulasan, komentar, jumlah pengikut, hingga potongan video berdurasi beberapa detik dapat membangun kesan yang bertahan lama.
Ironisnya, kita merasa sudah mengenal seseorang, padahal yang kita kenal hanyalah representasi digitalnya.
Kita hidup di zaman ketika algoritma lebih cepat memperkenalkan seseorang daripada percakapan.
Budaya rating melahirkan budaya menghakimi
Sistem rating sejatinya diciptakan untuk meningkatkan kualitas layanan.
Ia memberi ruang bagi konsumen menyampaikan pengalaman dan mendorong penyedia layanan untuk terus berbenah.
Namun, budaya rating juga membawa kebiasaan baru.
Kita semakin terbiasa memberi penilaian secara cepat.
Satu kesalahan kecil dapat menghasilkan ulasan buruk.
Satu potongan video dapat memicu gelombang komentar.
Satu unggahan viral dapat mengubah citra seseorang hanya dalam hitungan jam.
Di ruang digital, proses memahami sering kali kalah cepat dibanding proses menghakimi.
Padahal, manusia tidak pernah sesederhana lima bintang.
Ada konteks yang tidak terlihat.
Ada perjuangan yang tidak terekam kamera.
Ada cerita yang tidak pernah masuk ke kolom ulasan.
Ketika kepercayaan berubah menjadi skor
Dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), kepercayaan merupakan bagian dari modal sosial (social capital). Modal sosial terbentuk melalui hubungan yang berulang, komunikasi, empati, dan pengalaman bersama. Ia menjadi fondasi yang memungkinkan masyarakat bekerja sama, saling membantu, dan membangun solidaritas.
Namun, perkembangan teknologi perlahan menggeser cara kepercayaan itu dibangun.
Hari ini, kepercayaan semakin bergantung pada angka.
Semakin tinggi rating, semakin dipercaya.
Semakin banyak pengikut, semakin dianggap kredibel.
Semakin banyak ulasan positif, semakin dianggap berkualitas.
Padahal, angka tidak selalu mampu menjelaskan integritas.
Popularitas tidak selalu mencerminkan kompetensi.
Dan komentar publik tidak selalu menghadirkan kebenaran.
Ketika kepercayaan direduksi menjadi skor, hubungan sosial kehilangan ruang untuk tumbuh secara alami.
Masyarakat yang semakin terhubung, tetapi belum tentu semakin mengenal
Kita sering mengatakan bahwa teknologi mendekatkan manusia.
Pernyataan itu tidak sepenuhnya keliru.
Kita memang dapat berkomunikasi dengan siapa saja dalam hitungan detik.
Namun, komunikasi yang cepat tidak selalu menghasilkan hubungan yang dalam.
Hari ini kita mengenal lebih banyak akun, tetapi belum tentu lebih banyak manusia.
Kita mengetahui aktivitas seseorang setiap hari, tetapi belum tentu memahami kehidupannya.
Kita melihat unggahannya, membaca komentarnya, bahkan mengetahui ratingnya, tetapi tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Fenomena ini menunjukkan paradoks kehidupan digital.
Jaringan sosial semakin luas.
Kedekatan sosial justru semakin tipis.
Pelajaran penting bagi Pendidikan IPS
Fenomena budaya rating tidak hanya berkaitan dengan teknologi atau ekonomi digital.
Ia adalah persoalan sosial.
Ia mengubah cara masyarakat membangun kepercayaan, membentuk reputasi, dan menjalin hubungan antarmanusia.
Dalam perspektif Pendidikan IPS, perubahan ini penting dipahami karena menunjukkan bahwa teknologi selalu membawa perubahan budaya.
Pertanyaannya bukan apakah teknologi baik atau buruk.
Melainkan, apakah masyarakat masih memiliki ruang untuk membangun empati ketika segala sesuatu diukur dengan angka?
Apakah kita masih memberi kesempatan kepada seseorang untuk menjelaskan dirinya sebelum memberi penilaian?
Ataukah kita semakin nyaman menjadi masyarakat yang cepat memberi skor, tetapi lambat memberi pengertian?
Jangan sampai kita kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia
Sistem rating akan tetap ada.
Teknologi akan terus berkembang.
Algoritma akan semakin canggih.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang.
Kemampuan untuk benar-benar mengenal sesama manusia.
Karena kepercayaan sejatinya tidak lahir dari lima bintang.
Ia lahir dari kejujuran.
Empati.
Percakapan.
Dan waktu yang kita luangkan untuk saling memahami.
Jika suatu hari kita lebih percaya pada angka daripada pengalaman, lebih percaya pada komentar daripada percakapan, dan lebih percaya pada algoritma daripada penilaian kita sendiri, mungkin yang sedang berubah bukan hanya teknologi.
Yang sedang berubah adalah cara kita menjadi manusia.
Dan ketika budaya saling mengenal benar-benar digantikan oleh budaya saling memberi rating, yang hilang bukan sekadar kehangatan dalam hubungan sosial, melainkan fondasi kepercayaan yang selama ini menjaga masyarakat tetap utuh.
