Konten dari Pengguna

Hari Pendidikan Nasional: Masihkah Pendidikan Kita Memerdekakan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agi Julianto Martuah Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen Pribadi

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Panca Dharma Ki Hajar Dewantara di tengah tantangan belajar masa kini.

Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, memaknai Panca Dharma terasa semakin relevan—bukan sebagai konsep lama, tapi sebagai cermin untuk melihat kembali arah pendidikan kita hari ini.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi ada di genggaman, tapi fokus sering hilang. Nilai bisa tinggi, tapi belum tentu paham. Di sinilah Kodrat Alam mengingatkan: setiap siswa punya ritme belajar yang berbeda, dan tidak semua harus dipaksa seragam hanya demi angka.

"Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu."

-Ki Hajar Dewantara

Di sisi lain, banyak siswa merasa belajar itu tekanan. Target, tugas, ekspektasi—semuanya menumpuk. Padahal Kemerdekaan dalam belajar berarti memberi ruang untuk berpikir, mencoba, bahkan gagal. Karena dari situlah proses belajar yang sebenarnya terjadi.

Masuk ke realita hari ini, kita juga tidak bisa lepas dari pengaruh luar—tren, media sosial, gaya hidup. Kebudayaan jadi penting, agar kita tidak kehilangan jati diri. Pendidikan bukan hanya membuat kita “ikut dunia”, tapi juga tetap tahu siapa kita.

Lalu Kebangsaan—yang sering terasa jauh. Padahal sederhana: cara kita belajar dengan sungguh-sungguh hari ini adalah bagian dari kontribusi untuk masa depan Indonesia. Bukan hal besar, tapi berdampak.

Dan akhirnya, Kemanusiaan. Di tengah kompetisi, ranking, dan perbandingan, kita sering lupa untuk saling memahami. Padahal pendidikan yang berhasil bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tapi juga manusia yang peduli.

Refleksi di Hari Pendidikan Nasional ini mungkin sederhana:

apakah kita masih belajar dengan makna, atau hanya sekadar menjalani?

Jika pendidikan belum sepenuhnya menghadirkan makna, maka jangan berhenti di situ—mulailah dari diri sendiri. Belajarlah dengan sadar, hargai proses, dan kejar makna, bukan hanya angka. Karena pada akhirnya, seperti yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang benar-benar tumbuh.