Makanan Viral di Media Sosial: Kenapa Banyak Orang Rela Antre?

Mahasiswa Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari cahya caesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari rasa penasaran hingga takut ketinggalan tren, ada alasan psikologis di balik keinginan kita mencicipi makanan yang sedang viral.
Pernah melihat antrean panjang di sebuah kedai hanya karena makanannya sedang viral? Fenomena ini sering muncul ketika makanan ramai dibicarakan di media sosial. Bahkan, ada pembeli yang rela mengantre lebih dari dua jam demi mencoba hamburg steak viral di Pondok Indah Mall 5, seperti diberitakan KumparanFOOD. Lalu, apa yang membuat orang tertarik mencoba makanan yang sedang populer? Ternyata, fenomena ini dapat dijelaskan melalui perilaku konsumen dan pengaruh media sosial. Media Sosial Membuat Orang Penasaran Video makanan dengan tampilan menarik, ulasan positif, dan jumlah penonton yang tinggi bisa membuat orang ingin ikut mencobanya. Ketika konten yang sama muncul berulang kali, makanan tersebut semakin dikenal dan menarik perhatian calon pembeli. Hal ini sejalan dengan penelitian Xiumei Xiao dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Food Quality and Preference pada 2026. Penelitian berjudul Food Temptation on Social Media: How Likes and Comments Reshape Food Evaluations, Decisions, and EEG Signals menemukan bahwa komentar positif dapat meningkatkan penilaian terhadap makanan dan kemungkinan seseorang memilihnya. Jumlah likes yang tinggi juga meningkatkan pilihan makanan dalam salah satu studi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa respons pengguna lain di media sosial dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam memilih makanan, meskipun pengaruhnya tidak selalu sama pada setiap situasi. FOMO, Takut Ketinggalan Tren Selain rasa penasaran, ada faktor psikologis yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan khawatir tertinggal dari pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Misalnya, ketika teman-teman sudah mencoba makanan viral dan membagikan pengalamannya di media sosial, seseorang mungkin ikut tertarik agar tidak merasa ketinggalan tren. Fenomena ini juga diteliti secara khusus di Indonesia. Studi oleh Fauziah Chairiyati dan rekan-rekannya dalam Journal of Islamic Accounting and Business Research pada 2026 melibatkan 275 responden Gen Z Muslim di Indonesia. Penelitian berjudul The Influence of FoMO on Impulsive Viral Food Buying among Gen Z: Examining the Role of Islamic Religiosity menemukan bahwa FOMO pribadi dan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembelian makanan viral secara impulsif pada responden yang diteliti. Artinya, kekhawatiran tertinggal dari tren berkaitan dengan kecenderungan membeli makanan viral tanpa perencanaan. Namun, penelitian ini mengukur perilaku pembelian, bukan secara khusus alasan seseorang rela mengantre panjang. Antrean Panjang Belum Tentu Menjamin Rasa Ketika sebuah kedai ramai, sebagian orang mungkin menganggap makanan yang dijual lebih menarik atau layak dicoba. Keramaian bisa menjadi salah satu pertimbangan sebelum seseorang memutuskan untuk membeli. Meski begitu, antrean panjang tidak selalu berarti makanannya lebih enak. Kondisi tersebut juga bisa dipengaruhi promosi, kapasitas tempat yang terbatas, atau tingginya permintaan pada waktu tertentu. Selain ingin mengetahui rasa makanan, sebagian orang juga tertarik merasakan pengalaman yang sedang ramai dibicarakan. Mereka mungkin ingin mencoba sendiri, bercerita kepada teman, atau membagikan pengalaman tersebut di media sosial. Perlukah Ikut Mencoba Makanan Viral? Makanan viral tidak selalu cocok untuk semua orang karena setiap orang memiliki selera yang berbeda. Popularitas di media sosial juga belum tentu menjamin kualitas atau pengalaman yang sesuai harapan. Penelitian tentang FOMO dan pengaruh media sosial membantu menjelaskan mengapa tren kuliner dapat memengaruhi keputusan konsumen. Namun, bukan berarti semua orang yang mengantre pasti mengalami FOMO atau membeli makanan hanya karena ikut-ikutan. Pada akhirnya, tidak ada salahnya mencoba makanan viral selama sesuai dengan selera dan anggaran. Kita bisa menikmati tren kuliner tanpa harus merasa wajib mengikuti semua hal yang sedang populer.
