Konten dari Pengguna

Luka Tak Terucap dari Orang Terdekat

Dilla Fara

Dilla Fara

Mahasiswa ilmu komunikasi di swins

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dilla Fara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anime seseorang duduk termenung di bawah cahaya senja, mendengar percakapan orang lain yang menyakitinya dari belakang.Sumber gambar: Unsplash/John Doe).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anime seseorang duduk termenung di bawah cahaya senja, mendengar percakapan orang lain yang menyakitinya dari belakang.Sumber gambar: Unsplash/John Doe).

Rasa kecewa seringkali datang dari hal-hal yang tidak kita duga. Terutama ketika orang yang kita percaya, justru menilai kita diam-diam dari belakang. Kebenaran ini seringkali kita dengar bukan dari mereka langsung, tapi dari mulut orang lain.

Rasanya sulit dijelaskan, ketika orang yang kita percayai ternyata membicarakan kita di belakang. Kecewa itu muncul bukan karena mereka berkata jujur tapi karena mereka menilai tanpa pernah bertanya, menghakimi tanpa mencoba memahami.

Ada kalanya kita mendengar kebenaran dari orang lain, bukan dari mulut mereka langsung. Kata-kata yang sampai ke telinga kita seperti pecahan kaca: tajam, tak terduga, dan menyakitkan. Terlebih jika penilaian itu datang dari orang yang pernah duduk bersama, tertawa bersama, atau bahkan kita bela di hadapan orang lain. Yang menyakitkan bukan sekadar isi omongannya, tapi keberanian mereka untuk menghakimi diam-diam, tanpa tahu perjuangan atau alasan di balik sikap kita. Seolah-olah mereka punya versi tentang kita, tapi tak pernah berani menanyakan kebenarannya langsung dari kita. Dari situ kita belajar Bahwa tidak semua orang yang dekat, benar-benar mengenal. Bahwa tidak semua senyum itu tulus. Dan bahwa kadang, keheningan lebih jujur daripada pujian palsu. Namun, di balik kecewa itu, kita juga belajar batas. Belajar tidak membenci, tapi menjaga jarak. Belajar tidak menyimpan dendam, tapi cukup tahu diri. Dan yang paling penting, belajar memilih siapa yang layak untuk diceritakan tentang kita dan siapa yang lebih baik tidak tahu apa-apa sama sekali.