Konten dari Pengguna

Bisakah Kita Berbohong saat Tes Psikologi? Ini yang Sebenarnya Dinilai

Faida Humairah

Faida Humairah

Mahasiswi Psikologi UIN Jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faida Humairah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi 1 : seseorang yang sedang di wawancara oleh psikolog. sumber :freepik
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi 1 : seseorang yang sedang di wawancara oleh psikolog. sumber :freepik

"Jawab yang paling bagus aja biar lolos"

Kalimat itu mungkin pernah muncul di kepala banyak orang saat mengerjakan tes psikologi. Apalagi kalau tes tersebut dipakai untuk seleksi kerja, beasiswa, organisasi, atau kebutuhan lain yang terasa penting. Banyak orang akhirnya mencoba memilih jawaban yang terlihat paling baik agar memberi kesan positif. Tidak sedikit juga yang merasa harus terlihat “sempurna” supaya peluang diterima jadi lebih besar.

Di media sosial, bahkan tidak sulit menemukan konten tentang “jawaban psikotes yang benar” atau tips agar terlihat ideal saat tes kepribadian. Hal seperti ini menunjukkan bahwa masih banyak orang yang menganggap tes psikologi sebagai sesuatu yang harus “ditaklukkan”. Akibatnya, fokus peserta sering kali bukan lagi memahami diri sendiri, melainkan bagaimana caranya terlihat paling baik di mata penilai. Padahal, tes psikologi sebenarnya tidak bekerja sesederhana itu.

Tapi Sebenarnya, Apakah Tes Psikologi Bisa Dibohongi Semudah itu?

Pertanyaan ini menarik, karena sebagian besar tes psikologi memang meminta kita menjelaskan diri sendiri lewat jawaban-jawaban tertentu. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai self-report atau laporan diri. Karena jawaban berasal dari diri sendiri, tentu selalu ada kemungkinan seseorang tidak menjawab sepenuhnya jujur. Ada yang ingin terlihat lebih tenang, lebih disiplin, lebih percaya diri, atau bahkan lebih baik daripada kondisi sebenarnya.

Fenomena ini dikenal dengan istilah social desirability, yaitu kecenderungan seseorang untuk menampilkan dirinya sebaik mungkin di hadapan orang lain. Kondisi seperti ini sering muncul ketika seseorang berada dalam situasi yang dianggap penting atau menegangkan. Misalnya saat tes kerja, seseorang mungkin memilih jawaban yang menurutnya paling disukai perusahaan, bukan jawaban yang benar-benar menggambarkan dirinya. Tanpa sadar, banyak orang akhirnya lebih fokus membangun kesan baik daripada menunjukkan kondisi diri yang sebenarnya (Paulhus, 2002).

Hal tersebut sebenarnya cukup manusiawi. Ketika seseorang berada dalam situasi yang menentukan masa depan atau peluang tertentu, muncul keinginan untuk terlihat lebih baik dari biasanya. Ada orang yang takut dianggap tidak kompeten jika mengaku mudah cemas. Ada juga yang khawatir terlihat lemah jika menjawab dirinya sering merasa sedih atau kewalahan. Akhirnya, jawaban yang dipilih sering kali bukan jawaban paling jujur, melainkan jawaban yang terasa paling aman.

Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa orang memang bisa mencoba memanipulasi jawaban pada tes kepribadian. Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa seseorang dapat memberikan jawaban yang dibuat lebih positif agar terlihat lebih baik, terutama dalam situasi penting seperti seleksi kerja atau proses penerimaan tertentu (Liu et al., 2024). Artinya, kemungkinan untuk fake good dalam tes psikologi memang ada. Namun, hal ini bukan berarti tes psikologi otomatis menjadi tidak berguna atau mudah dikelabui begitu saja.

Sebab, yang dinilai dalam tes psikologi ternyata bukan hanya jawaban “baik” atau “buruk”. Psikolog juga memperhatikan pola jawaban, konsistensi respons, dan bagaimana seseorang menggambarkan dirinya secara keseluruhan. Misalnya, jika seseorang menjawab bahwa dirinya tidak pernah marah, tidak pernah cemas, selalu disiplin, dan selalu sempurna dalam semua situasi, jawaban seperti itu justru bisa terasa kurang realistis. Karena pada kenyataannya, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan atau mengalami emosi negatif.

ilustrasi 2 : seseorang yang merasa cemas saat sedang menjalani wawancara oleh psikolog. sumber : freepik

Lalu, bagaimana cara psikolog menilai?

Banyak orang masih menganggap tes psikologi seperti ujian sekolah yang memiliki jawaban paling benar. Padahal, dalam psikologi, jawaban yang terlalu sempurna justru belum tentu mencerminkan kondisi seseorang secara nyata. Tes psikologi tidak dibuat untuk mencari manusia tanpa kekurangan, melainkan untuk memahami bagaimana seseorang berpikir, merasakan sesuatu, dan menghadapi situasi tertentu dalam hidupnya.

Di sinilah tes psikologi bekerja lebih dalam daripada yang sering dibayangkan banyak orang. Tes psikologi bukan sekadar mencari siapa yang paling sempurna, tetapi mencoba memahami bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri. Kadang, jawaban yang terlalu dibuat-buat justru terlihat tidak konsisten ketika dibandingkan dengan jawaban lain. Oleh karena itu, psikolog biasanya tidak hanya melihat satu jawaban secara terpisah, tetapi membaca keseluruhan pola respons peserta.

Meski begitu, psikolog tidak bisa langsung menyimpulkan seseorang berbohong hanya dari satu jawaban atau satu skor tes saja. Proses asesmen psikologi biasanya dilakukan secara menyeluruh dan hati-hati. Psikolog akan melihat wawancara, observasi perilaku, ekspresi emosi, hingga konsistensi jawaban antarbagian tes. Karena itu, tes psikologi tidak sesederhana menjawab pertanyaan benar atau salah seperti ujian sekolah biasa.

Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan bisa tampak sangat meyakinkan ketika menjawab tes. Namun, pola respons yang terlalu dibuat-buat biasanya tetap meninggalkan tanda tertentu. Misalnya, jawaban yang terlalu ideal, terlalu konsisten, atau justru bertolak belakang dengan respons di bagian lain. Karena itu, psikolog tidak hanya membaca “apa” yang dijawab seseorang, tetapi juga melihat “bagaimana” pola jawaban itu terbentuk.

Pada akhirnya, tes psikologi bukanlah tempat untuk mencari manusia paling sempurna. Tujuan utamanya justru untuk memahami kondisi, karakter, dan kecenderungan seseorang secara lebih utuh. Karena itu, mencoba terlihat sempurna belum tentu membuat hasil tes menjadi lebih baik. Dalam banyak situasi, kejujuran justru membantu memberikan gambaran diri yang lebih akurat dan lebih bermakna.

_______________________________________________

Oleh Faida Humairah, Dr. Rachmat Mulyono M.Si.,Psikolog.