Konten dari Pengguna

Dari Hadhramaut ke Dili: Jejak Arab dalam Lahirnya Timor-Leste

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irsyad Mohammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lintasan sejarah komunitas Arab-Hadhramaut di Timor-Leste. Sumber gambar: gambar buatan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lintasan sejarah komunitas Arab-Hadhramaut di Timor-Leste. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Ketika orang Indonesia membayangkan Timor-Leste, yang terlintas biasanya adalah bekas Provinsi ke-27 Indonesia, Gereja Katolik, bahasa Portugis, serta perjuangan kemerdekaan yang dipimpin Fretilin dan para tokohnya.

Gambaran itu tidak keliru. Namun di balik narasi besar tersebut terdapat sebuah kisah yang jauh lebih jarang dibicarakan: jejak komunitas Arab-Hadhrami yang telah hidup di Dili selama beberapa generasi.

Kisah itu menjadi menarik karena salah satu tokoh terpenting dalam perjuangan kemerdekaan Timor-Leste sekaligus perdana menteri pertama negara tersebut adalah Mari Alkatiri, seorang Muslim keturunan Arab-Hadhramaut. Di negara yang mayoritas penduduknya 97% beragama Katolik, kenyataan ini tampak tidak lazim.

Namun justru dari sanalah muncul sebuah pertanyaan yang lebih besar: bagaimana sebuah komunitas Arab yang relatif kecil dapat ikut meninggalkan jejak dalam lahirnya bangsa Timor-Leste?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu melihat Timor-Leste tidak hanya melalui lensa Portugis, Gereja Katolik, atau Fretilin. Sejarah negara itu juga menyimpan kisah diaspora Arab-Hadhrami yang melalui perdagangan, pendidikan, bahasa, kehidupan keagamaan, dan bahkan politik ikut membentuk ruang sosial yang kelak menjadi bagian dari fondasi bangsa termuda di Asia Tenggara.

Dari Hadhramaut ke Dili

Ilustrasi perjalanan orang-orang Arab-Hadhramaut dari Hadhramaut, Yaman ke Dili, Timor-Leste--ada zaman dahulu kala. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Untuk memahami jejak Arab di Timor-Leste, kita perlu menoleh sejenak ke Hadhramaut, sebuah wilayah bersejarah di bagian selatan Yaman yang menjadi tanah asal banyak keluarga Arab di Indonesia. Dari kawasan inilah para pedagang, ulama, dan perantau Hadhrami berlayar melintasi Samudra Hindia dan membangun komunitas-komunitas diaspora di Afrika Timur, India, Sri Lanka, Singapura, Malaysia, Indonesia, hingga Pulau Timor.

Kapan tepatnya Islam pertama kali tiba di Timor-Leste masih menjadi perdebatan di kalangan komunitas Arab setempat. Dalam bukunya Islam di Timor Timur (1995), Ambarak A. Bazher mencatat beragam ingatan kolektif mengenai kedatangan Islam ke wilayah tersebut. Sebagian menghubungkannya dengan gelombang Islamisasi Nusantara, sebagian lain dengan kedatangan para pedagang Eropa, sementara ada pula yang meyakini Islam telah hadir sejak masa-masa awal penyebarannya dari Jazirah Arab.

Di balik perbedaan pendapat itu, satu hal tampaknya lebih mudah disepakati: jejak komunitas Hadhrami di Dili telah berusia ratusan tahun. Bazher menyebut Habib Umar Muhdlar dan saudaranya sebagai di antara orang Arab pertama yang menetap di Dili pada awal abad ke-17. Sekitar seperempat abad kemudian, gelombang keluarga Hadhrami lainnya mulai berdatangan dan membangun kehidupan baru di kota pelabuhan tersebut.

Dari 26 marga yang tercatat dalam penelusuran Bazher, sejumlah marga masih bertahan hingga hari ini. Nama-nama seperti Alkatiri, Attamimi, Bazher, Basyarewan, Balafif, dan Sagran tidak hanya menjadi bagian dari sejarah komunitas Muslim di Timor-Leste, tetapi juga menjadi saksi bagaimana sebuah diaspora perlahan berakar di tanah yang jauh dari leluhur mereka.

Sebagaimana terjadi di berbagai wilayah Nusantara, para perantau Hadhrami yang datang ke Timor umumnya adalah laki-laki. Mereka menikah dengan perempuan setempat, membangun keluarga, dan melahirkan generasi baru yang tumbuh sebagai bagian dari masyarakat Timor. Karena itu, kisah komunitas Arab-Hadhrami di Timor-Leste bukan hanya kisah tentang migrasi, melainkan juga kisah tentang perjumpaan, pembauran, dan lahirnya identitas baru.

Jauh sebelum Timor-Leste berdiri sebagai negara merdeka pada 2002, Dili telah menjadi salah satu simpul kecil dalam jaringan diaspora Hadhrami yang membentang dari Hadhramaut hingga Asia Tenggara. Dari proses panjang itulah kemudian lahir sebuah komunitas yang tidak hanya mempertahankan ingatan tentang tanah leluhurnya, tetapi juga ikut menjadi bagian dari sejarah Timor-Leste.

Kampung Alor sebuah Rumah bagi Orang Arab di Timor-Leste

Ilustrasi Campo Alor pada masa silam. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Jejak paling nyata komunitas Arab-Hadhrami di Dili dapat ditemukan di Kampung Alor, atau Campo Alor dalam bahasa Portugis. Kawasan ini sejak lama menjadi pusat kehidupan masyarakat Muslim di ibu kota Timor-Leste. Di sinilah keluarga-keluarga Arab-Hadhrami membangun rumah, membuka usaha, membesarkan anak-anak mereka, dan menjalin hubungan dengan masyarakat Timor dari berbagai latar belakang.

Namun Kampung Alor bukan sekadar permukiman etnis. Selama berabad-abad, kawasan ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi Hadhrami dan budaya lokal Timor. Sebagaimana komunitas Hadhrami di Nusantara, masyarakat Arab di Dili tidak hidup terpisah dari lingkungan sekitarnya. Mereka berinteraksi dengan masyarakat setempat, menggunakan bahasa yang berkembang di Timor, dan menjadikan Dili sebagai pusat kehidupan mereka.

Dari proses itulah lahir generasi-generasi baru yang tetap mengenal asal-usul keluarganya di Hadhramaut, tetapi tumbuh dengan pengalaman, ingatan, dan aspirasi yang berakar di Timor. Mereka tidak lagi memandang Pulau Timor sebagai tempat persinggahan, melainkan sebagai rumah.

Dalam banyak hal, Kampung Alor memperlihatkan bagaimana sebuah diaspora dapat mempertahankan ingatan tentang leluhurnya tanpa kehilangan keterikatannya dengan tanah tempat ia hidup. Di kawasan inilah identitas Arab dan identitas Timor tidak dipertentangkan, melainkan tumbuh berdampingan selama beberapa generasi.

Masjid An-Nur sebagai Fondasi Komunitas Arab Timor-Leste

Masjid An-Nur Dili, Timor-Leste. Masjid ini berdiri pada tahun 1955 didirikan oleh Imam Haji Hasan bin Abdullah Balatif, seorang imam dan ulama terkemuka di komunitas Muslim Timor-Leste ketika Timor-Leste masih menjadi koloni Portugis dengan nama Timor Portugis. Setelah invasi Indonesi atas Timor-Leste yang kemudian dikenal sebagai "Operasi Seroja" pada 7 Desember 1975, kemudian Timor Portugis menjadi Provinsi ke-27 Republik Indonesia dengan nama Timor Timur atau dikenal sebagai Timtim. Masjid ini kemudian diperluas dan diperbesar pada saat Timor-Leste menjadi Provinsi ke-27 Republik Indonesia. Sumber gambar: Wikipedia.org (gambar bebas hak cipta).

Jika Kampung Alor merupakan jantung kehidupan komunitas Arab-Hadhrami di Dili, maka Masjid An-Nur adalah denyut nadinya.

Masjid yang berdiri di Rua Campo Alor atau Jalan Kampung Alor, didirikan pada 1955 atas prakarsa Imam Haji Hasan bin Abdullah Balatif bersama masyarakat Muslim Dili. Seiring waktu, Masjid An-Nur berkembang menjadi masjid tertua sekaligus terbesar di Timor-Leste dan menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat Muslim setempat.

Namun arti penting Masjid An-Nur jauh melampaui fungsi sebagai tempat ibadah. Di kompleks masjid inilah berlangsung berbagai kegiatan pendidikan, pengajian, dan aktivitas sosial yang menjadikannya salah satu institusi terpenting bagi komunitas Muslim Timor-Leste. Bagi banyak keluarga Arab-Hadhrami, masjid tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga tempat membangun solidaritas dan memelihara ikatan antargenerasi.

Yang menarik, sejarah Masjid An-Nur juga menunjukkan bahwa identitas keagamaan tidak selalu menjadi batas yang memisahkan masyarakat Timor-Leste. Hubungan antara komunitas Muslim dan Katolik di Dili kerap ditandai oleh sikap saling menghormati dan solidaritas sosial.

Ilustrasi halal bihalal terakhir Uskup Belo dengan komunitas Muslim Timor Timur ketika masih menjadi wilayah Indonesia, sebab tahun depannya Timor Timur sudah bukan lagi wilayah Indonesia. Halal bihalal ini terjadi menjelang pelaksanaan Referendum Kemerdekaan Timor Timur 1999 yang diselenggarakan oleh PBB. Situasi saat itu tegang karena umat Islam di Timor Timur jadi sasaran kebencian berbau SARA, karena dianggap antek penjajah Indonesia. Di situ Uskup Belo datang dan meredakan ketegangan, ia berjanji apabila Masjid An-Nur dibakar dia akan pasang badan membela umat Muslim di Timor Timur. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Hal itu terlihat pada masa-masa penuh ketidakpastian menjelang dan sesudah Referendum 1999. Ketika sebagian kalangan khawatir komunitas Muslim akan menjadi sasaran kemarahan akibat identifikasi mereka dengan Indonesia, Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo mengambil sikap tegas. Dalam sebuah pertemuan Idulfitri di kediaman Hassan Balafif, Imam Masjid An-Nur, Belo menyatakan bahwa jika ada pihak yang mengganggu umat Islam atau berupaya membakar Masjid An-Nur, ia akan datang membela mereka.

Pernyataan tersebut bukan sekadar gestur simbolik. Ia mencerminkan kenyataan bahwa komunitas Muslim, termasuk keturunan Arab-Hadhrami di Kampung Alor, telah lama dipandang sebagai bagian dari masyarakat Timor-Leste itu sendiri.

Karena itu, Masjid An-Nur bukan hanya simbol kehadiran Islam di Timor-Leste. Ia juga menjadi simbol bagaimana sebuah komunitas minoritas dapat berakar, diterima, dan ikut membentuk kehidupan sosial sebuah bangsa.

Satu Komunitas, Beragam Pilihan Politik

Mari bin Amude Alkatiri (tulisan namanya bahasa Arab: مرعي بن عمودة الكثيري, transliterasi: Marʿī bin ʿAmūdah al-Kathīrī; lahir 26 November 1949) adalah seorang politikus Timor Leste. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Timor Leste dari Mei 2002 hingga pengunduran dirinya pada 26 Juni 2006 menyusul berminggu-minggu kerusuhan politik di negara tersebut, dan kembali menjabat dari September 2017 hingga Mei 2018. Ia adalah Sekretaris Jenderal Partai Fretilin dan mantan Presiden Daerah Administratif Khusus Oecusse. Ini adalah contoh menarik di mana orang Arab Muslim seperti Mari Alkatiri menjadi Perdana Menteri pertama Timor-Leste dan menjadi satu-satunya orang Arab Muslim yang pernah memimpin negara yang 97% Katolik. Sumber gambar: Wikipedia.org (gambar bebas hak cipta).

Salah satu kesalahan terbesar dalam membaca sejarah Timor-Leste adalah menganggap komunitas Arab-Muslim sebagai kelompok yang memiliki ekspresi politik yang seragam.

Faktanya tidak demikian. Sebagaimana kelompok-kelompok lain dalam masyarakat Timor-Leste, komunitas Arab-Hadhrami juga memiliki pandangan politik yang beragam. Sebagian mendukung integrasi dengan Indonesia karena kesamaan agama dan karena ada saudara mereka sesama komunitas Arab-Hadhrami di Indonesia, seperti Ambarak A. Bazher. Mereka yang mendukung Integrasi, turut mendukung Apodeti sebuah partai pro-Integrasi di Timor-Leste.

Sebagian juga ada yang mendukung kemerdekaan Timor-Leste, seperti Mari Alkatiri. Sosok Mari Alkatiri menjadi puncak simbolisme perjalanan komunitas Arab-Hadhrami di Timor-Leste. Mari Alkatiri merupaka Perdana Menteri pertama Timor-Leste, salah satu pendiri Fretilin, dan salah satu Bapak Bangsa Timor-Leste. Selama lebih dari dua dekade setelah Referendum Timor Timur 1999, ia juga menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam politik Timor-Leste sebagai Sekretaris Jenderal Fretilin. Kisah lengkap mengenai Mari Alkatiri, dibahas dalam artikel jurnal "A ‘Muslim’ Leader of a ‘Catholic’ Nation? Mari Alkatiri’s Arab-Islamic Identity and its (Inter-)National Contestations (2012)" yang ditulis oleh Melissa Johnston.

Untuk pembahasan lebih mendalam mengenai Maubereisme sebagai narasi kebangsaan yang melampaui sekat etnis, agama, dan identitas politik, saya telah mengulasnya secara akademik dalam artikel “Dari Maubereisme ke Dili Pride Parade: Sekularisme dan Transformasi Ruang Politik di Timor-Leste”, yang diterbitkan dalam Jurnal Terekam Jejak, Vol. 4, No. 1, pada 15 Agustus 2026.

Mari Alkatiri tumbuh di Kampung Alor, pusat kehidupan komunitas Muslim di Dili. Ia mengenyam pendidikan awal di madrasah yang berafiliasi dengan lingkungan Masjid An-Nur sebelum melanjutkan pendidikan formal dalam sistem Portugis. Latar belakang keluarganya mencerminkan proses panjang perjumpaan antara diaspora Hadhrami dan masyarakat Timor. Dari garis ayah, ia mewarisi keturunan Arab-Hadhramaut melalui keluarga Alkatiri yang telah lama menetap di Dili. Ayahnya, Amude Alkatiri, dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat Arab-Timor pada masa kolonial Portugis.

Namun seperti banyak keluarga Hadhrami di Nusantara, keluarga Alkatiri tidak hidup terpisah dari masyarakat setempat. Nenek buyutnya adalah perempuan asli Timor, sementara kakeknya, Hamud Alkatiri, dikenal sebagai tokoh agama dan pemimpin komunitas Muslim yang dihormati pada masa Timor Portugis. Hingga kini, namanya masih dikenang melalui Masjid Alhamud di Distrik Liquiçá. Dari lingkungan keluarga dan komunitas seperti inilah lahir generasi Arab-Hadhrami yang tidak lagi memandang Timor sekadar tempat tinggal, melainkan tanah air mereka sendiri.

Perubahan besar datang setelah Revolusi Anyelir 1974 di Portugal membuka jalan bagi dekolonisasi wilayah-wilayah Portugis, termasuk Timor-Leste. Mulailah berdiri partai-partai politik yang hendak membahas masa depan Timor-Leste seperti UDT, Fretilin, Apodeti, Kota, dan Trabalista. Partai-partai tersebut berdebat tentang masa depan wilayah Timor Portugis—antara kemerdekaan penuh, hubungan khusus dengan Portugal, atau integrasi dengan Indonesia.

Dalam situasi itulah Alkatiri memilih bergabung dan ikut mendirikan Fretilin menjadikannya salah satu tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Timor-Leste. Setelah Indonesia melancarkan Operasi Seroja untuk menginvasi Timor-Leste pada 7 Desember 1975, ia menjalankan diplomasi internasional dari pengasingan di Mozambik dan selama puluhan tahun menjadi salah satu wajah perjuangan kemerdekaan Timor-Leste di dunia internasional. Ketika kemerdekaan akhirnya diraih pada 2002, Alkatiri dipercaya menjadi Perdana Menteri pertama Timor-Leste.

Namun kisah ini menjadi menarik bukan semata-mata karena Alkatiri seorang Arab atau seorang Muslim. Yang lebih penting adalah kenyataan bahwa pilihan politik komunitas Arab-Hadhrami sendiri tidak pernah seragam. Sebagian mendukung integrasi dengan Indonesia, sebagian mendukung kemerdekaan Timor-Leste, sementara yang lain memilih menjauh dari politik praktis. Keragaman itu menunjukkan bahwa identitas etnis maupun agama tidak secara otomatis menentukan orientasi kebangsaan seseorang.

Di sinilah narasi kebangsaan maubereisme menjadi penting untuk dipahami. Dalam tradisi perjuangan kemerdekaan Timor-Leste, Maubere merupakan sebuah narasi kebangsaan dan imajinasi bersama rakyat Timor-Leste (imagined communities) yang melampaui sekat-sekat kelompok, etnis, suku, budaya, dan agama untuk mendukung kemerdekaan Timor-Leste. Saya menjelaskan hal ini dengan sangat detail dalam jurnal saya

Narasi kebangsaan Timor-Leste bukanlah identitas rasial ataupun keagamaan. Kata Maubere sendiri mulanya istilah yang digunakan untuk menyebut etnis Mambai yang tinggal di pegunungan di Timor-Leste, kemudian yang semula digunakan secara peyoratif atau merendahkan oleh pemerintah kolonial Portugis untuk menyebut suku orang-orang asli Timor-Leste–kurang lebih seperti pemerintah kolonial Belanda menyebut kata Inlander untuk penduduk asli Indonesia.

Istilah Maubere kemudian direbut kembali dan ditafsirkan ulang menjadi simbol perjuangan rakyat dan imajinasi bersama Timor-Leste dalam melawan kolonialisme Portugis dan memperjuangkan kemerdekaan dari Indonesia.

Narasi maubereisme berhasil menunjukkan bahwa menjadi Maubere tidak ditentukan oleh darah, warna kulit, agama, ataupun asal-usul leluhur, melainkan oleh keterlibatan dalam perjuangan bersama untuk menentukan masa depan Timor-Leste.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Berita Indonesia pada tahun 2006, Alkatiri pernah mengaitkan kecintaannya kepada Timor-Leste dengan prinsip Islam yang dikenal sebagai hubbul wathan minal iman—cinta tanah air merupakan sebagian dari iman. Terlepas dari bagaimana prinsip itu ditafsirkan, pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa menjadi Muslim tidak bertentangan dengan menjadi nasionalis Timor-Leste.

Di sinilah letak makna sejarah yang lebih besar. Yang penting bukanlah bahwa Mari Alkatiri seorang Arab atau seorang Muslim. Yang lebih penting adalah kenyataan bahwa seorang anak dari komunitas Arab-Hadhrami dapat diterima sebagai salah satu representasi bangsa Timor-Leste.

Jika identitas kebangsaan hanya ditentukan oleh darah, keturunan, atau agama, sulit menjelaskan bagaimana seorang keturunan Arab-Hadhramaut dapat menjadi salah satu Bapak Bangsa Timor-Leste. Namun pengalaman Timor-Leste menunjukkan hal yang berbeda. Kebangsaan tidak dibangun oleh kesamaan asal-usul, melainkan oleh kesediaan untuk berbagi perjuangan dan masa depan yang sama.

Kebangsaan dan Tanah Air

Sejarah komunitas Arab-Hadhrami di Timor-Leste mengingatkan kita bahwa bangsa tidak pernah dibangun oleh mayoritas semata.

Di balik narasi besar tentang Portugis, Gereja Katolik, dan perjuangan Fretilin, terdapat jejak sebuah diaspora kecil yang datang dari Hadhramaut, membangun kehidupan di Kampung Alor, mendirikan Masjid An-Nur, berinteraksi dengan masyarakat setempat, dan akhirnya menjadi bagian dari perjalanan panjang pembentukan bangsa Timor-Leste.

Bagi pembaca Indonesia, kisah ini terasa akrab. Sebab diaspora Hadhrami juga merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia. Namun Timor-Leste memberikan pelajaran tambahan yang tidak kalah berharga: bahwa asal-usul leluhur tidak selalu menentukan arah kebangsaan seseorang.

Di Timor-Leste, menjadi Arab tidak berarti kurang Timor, sebagaimana menjadi Muslim tidak berarti kurang nasionalis. Sejarah komunitas Hadhrami menunjukkan bahwa kebangsaan sering kali lahir dari tanah yang dibagi bersama, bukan dari leluhur yang sama.