Konten dari Pengguna

Pancasila Tetap Relevan sebagai Ideologi Bangsa di Era Globalisasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pancasila tetap relevan sebagai ideologi bangsa di era globalisasi. Foto: Unsplash.com/Maranda Vandergriff
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pancasila tetap relevan sebagai ideologi bangsa di era globalisasi. Foto: Unsplash.com/Maranda Vandergriff

Perkembangan teknologi dan keterbukaan dunia membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat, mulai dari cara berkomunikasi hingga kebiasaan sehari-hari. Lalu mengapa Pancasila tetap relevan sebagai ideologi bangsa di era globalisasi dan digitalisasi?

Hal ini berkaitan dengan posisi Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pedoman untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Mengapa Pancasila Tetap Relevan sebagai Ideologi Bangsa di Era Globalisasi dan Digitalisasi?

Ilustrasi Pancasila tetap relevan sebagai ideologi bangsa di era globalisasi. Foto: Unsplash.com/Jackson Schaal

Mengapa Pancasila tetap relevan sebagai ideologi bangsa di era globalisasi dan digitalisasi? Pancasila tetap relevan karena nilai-nilainya dapat menjadi pedoman dalam menyikapi perkembangan dunia, termasuk kemajuan teknologi dan masuknya budaya asing.

Dikutip dari lemhannas.go.id, perubahan zaman tidak menghilangkan kebutuhan masyarakat terhadap sikap toleran, rasa kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.

Globalisasi membuat masyarakat Indonesia lebih mudah mengenal pemikiran, kebiasaan, serta budaya dari negara lain. Pertukaran tersebut dapat memperluas wawasan dan mendorong kemajuan, tetapi tetap perlu disikapi secara kritis.

Pancasila membantu masyarakat menilai pengaruh dari luar agar unsur yang bermanfaat dapat diterima tanpa mengabaikan nilai luhur bangsa.

Dalam era digitalisasi, nilai Pancasila juga diperlukan untuk membangun perilaku yang bertanggung jawab di internet. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, misalnya, mengajarkan penghormatan terhadap martabat setiap orang.

Penerapannya terlihat melalui kebiasaan memeriksa kebenaran berita sebelum membagikannya, menghindari perundungan siber, serta tidak menggunakan media sosial untuk menghina orang lain.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, memiliki peran penting ketika media sosial mempertemukan pengguna dari berbagai suku, agama, dan latar belakang.

Perbedaan pendapat dapat berkembang menjadi konflik apabila disertai provokasi atau kebencian.

Nilai persatuan mendorong masyarakat untuk menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, dan tidak mudah terpecah akibat kabar yang belum terbukti kebenarannya.

Pancasila juga memberikan pedoman dalam menghadapi perubahan budaya dan gaya hidup. Kemudahan mengakses tren global tidak berarti seluruh kebiasaan dari luar harus diikuti.

Masyarakat dapat mempelajari teknologi, ilmu pengetahuan, dan budaya baru sambil tetap melestarikan bahasa daerah, tradisi, serta kesenian Indonesia.

Sikap terbuka yang disertai pertimbangan matang membuat kemajuan tidak harus mengorbankan identitas nasional.

Selain itu, sila keempat mengajarkan pentingnya musyawarah dan penghargaan terhadap pendapat orang lain.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam diskusi daring, pengambilan keputusan di lingkungan sekolah, maupun perdebatan mengenai kebijakan publik.

Sementara itu, sila kelima menekankan keadilan sosial, termasuk pentingnya memperluas akses pendidikan dan teknologi agar manfaat digitalisasi tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu.

Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan melalui pendidikan, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Pembelajaran Pancasila tidak cukup hanya dengan menghafalkan kelima sila, tetapi juga perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.

Penggunaan teknologi secara bijak, sikap toleran, serta kepedulian terhadap sesama merupakan contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila tetap relevan karena mampu menjadi pedoman dalam menghadapi perubahan global tanpa menghilangkan identitas bangsa.

Penerapan nilai-nilainya membantu masyarakat memanfaatkan kemajuan teknologi sekaligus menjaga persatuan, kemanusiaan, dan keadilan sosial.

Oleh karena itu, mengapa Pancasila tetap relevan sebagai ideologi bangsa di era globalisasi dan digitalisasi? Nilai-nilai Pancasila dapat menjadi landasan dalam menyikapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri bangsa. (Shofia)

Baca Juga: Sudahkah Pembaharuan Hukum Pidana Mencerminkan Nilai Pancasila dan Budaya Bangsa