Konten dari Pengguna

Penjajahan Jepang di Korea, Sejarah Pendudukan dan Dampaknya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penjajahan Jepang di Korea. Foto: Unsplash.com/ Blackcreek Corporate
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penjajahan Jepang di Korea. Foto: Unsplash.com/ Blackcreek Corporate

Penjajahan Jepang di Korea berlangsung dalam periode panjang yang membawa perubahan besar terhadap kehidupan politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya masyarakat Korea.

Penguasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemerintahan, tetapi juga menyentuh penggunaan bahasa, kepemilikan tanah, kegiatan ekonomi, serta ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat.

Perlawanan terhadap pemerintahan kolonial terus berkembang hingga berakhirnya kekuasaan Jepang pada penghujung Perang Dunia II.

35 Tahun Penjajahan Jepang di Korea

Ilustrasi penjajahan Jepang di Korea. Foto: Unsplash.com/Erik Mclean

Dikutip dari britannica.com, penjajahan Jepang di Korea secara resmi dimulai pada 1910 setelah Jepang menganeksasi Korea dan berlangsung hingga 1945.

Selama 35 tahun, pemerintahan kolonial dijalankan melalui sistem gubernur jenderal yang pejabatnya berasal dari kalangan jenderal atau laksamana Jepang dan ditunjuk oleh kaisar.

Ruang kebebasan masyarakat Korea dibatasi secara ketat. Kebebasan berkumpul, berorganisasi, berbicara, dan menerbitkan media dikendalikan oleh pemerintah kolonial.

Sejumlah sekolah swasta juga ditutup karena dianggap tidak memenuhi standar yang ditetapkan penguasa.

Pendidikan digunakan sebagai salah satu sarana untuk mendorong asimilasi dengan Jepang. Bahasa Jepang mendapat posisi utama dalam pendidikan, sementara bahasa dan sejarah Korea disingkirkan dari kurikulum.

Kebijakan tersebut membuat pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana belajar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengubah identitas masyarakat Korea.

Di bidang ekonomi, Jepang membangun jaringan transportasi dan komunikasi serta memperkenalkan sistem keuangan dan mata uang baru.

Perdagangan Jepang di Korea turut dikembangkan, sementara kesempatan bagi pengusaha Korea untuk melakukan kegiatan serupa dibatasi.

Masalah tanah juga menimbulkan dampak besar bagi petani. Pemerintah kolonial menerapkan survei tanah yang mengharuskan pemilik melaporkan ukuran dan luas lahan.

Petani yang gagal memenuhi ketentuan tersebut dapat kehilangan hak atas tanahnya. Lahan yang dikuasai bersama oleh desa atau kelompok keluarga juga dapat diambil karena tidak tercatat atas nama satu orang.

Sebagian tanah yang telah diambil kemudian dijual dengan harga murah kepada pihak Jepang. Kondisi tersebut membuat sejumlah petani kehilangan sumber penghidupan.

Sebagian memilih bertahan dengan menggarap lahan secara sederhana, sedangkan sebagian lainnya berpindah ke Manchuria atau Jepang untuk mencari pekerjaan.

Perlawanan terbuka mencapai titik penting pada 1 Maret 1919 melalui Gerakan 1 Maret. Demonstrasi berlangsung di berbagai wilayah setelah pembacaan deklarasi kemerdekaan di Seoul.

Pelajar dan masyarakat sipil turun ke jalan untuk menuntut kemerdekaan, tetapi aksi tersebut ditindas oleh aparat Jepang. Puluhan ribu orang ditangkap, sementara ribuan lainnya tewas atau terluka.

Tekanan kolonial tidak menghentikan perkembangan gerakan nasionalisme. Surat kabar seperti Dong-A Ilbo dan Chosun Ilbo menyuarakan gagasan patriotisme, sedangkan kalangan akademik mempelajari kebudayaan serta tradisi Korea.

Gerakan mahasiswa juga kembali muncul, salah satunya pemberontakan mahasiswa yang berawal di Gwangju pada 1929 sebagai penolakan terhadap diskriminasi Jepang.

Situasi semakin keras ketika Jepang kembali menerapkan pemerintahan militer pada 1931. Setelah perang meluas di Asia, kebijakan asimilasi diperketat.

Masyarakat Korea dipaksa menggunakan nama bergaya Jepang dan mengikuti ritual di kuil Shinto, sementara lembaga akademik serta media berbahasa Korea ditutup.

Kebutuhan perang juga menyebabkan penduduk Korea dikerahkan untuk kepentingan militer dan industri Jepang.

Ratusan ribu orang dipaksa bekerja di tambang, pabrik, dan pangkalan militer, sedangkan sebagian lainnya direkrut untuk keperluan militer.

Ribuan perempuan Korea juga dipaksa memberikan layanan seksual kepada tentara Jepang sebagai comfort women.

Kekuasaan Jepang berakhir setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945. Pasukan Soviet memasuki Korea bagian utara, sedangkan pasukan Amerika Serikat mengambil alih wilayah selatan dengan garis pemisah di sekitar paralel ke-38.

Pembagian wilayah pendudukan tersebut kemudian berkembang menjadi proses politik yang menghasilkan dua negara Korea pada 1948.

Penjajahan Jepang di Korea meninggalkan perubahan mendalam pada kehidupan masyarakat dan turut membentuk perjalanan politik Korea setelah 1945.

Pengalaman kolonial, gerakan kemerdekaan, serta pembagian semenanjung setelah Jepang menyerah menjadi bagian penting dalam sejarah terbentuknya Korea Utara dan Korea Selatan. (Shofia)

Baca Juga: Apa yang Dipahami tentang Sejarah Kelahiran Pancasila? Ini Penjelasannya