Konten dari Pengguna

Tahapan Kompas untuk Skema Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tahapan kompas untuk skema Pancasila menuju Indonesia Emas 2045. Foto: Unsplash.com/Hana
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tahapan kompas untuk skema Pancasila menuju Indonesia Emas 2045. Foto: Unsplash.com/Hana

Dalam skema Pancasila sebagai kompas menuju Indonesia Emas 2045, terdapat tiga tahapan utama yang harus dilalui oleh ASN dan masyarakat. Manakah dari pilihan berikut yang bukan merupakan bagian dari tahapan kompas tersebut berdasarkan dokumen di atas? Pertanyaan tersebut berkaitan dengan penerapan nilai kebangsaan dalam pembangunan nasional berkelanjutan.

Pancasila ditempatkan sebagai pedoman moral yang menjaga arah perjalanan bangsa di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi.

Peran generasi muda serta aparatur negara menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan cita-cita pembangunan menuju masa depan Indonesia.

Penjelasan Tahapan Kompas untuk Skema Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045

Ilustrasi tahapan kompas untuk skema Pancasila menuju Indonesia Emas 2045. Foto: Unsplash.com/Nicolas J Leclercq

Dalam skema Pancasila sebagai kompas menuju Indonesia Emas 2045, terdapat tiga tahapan utama yang harus dilalui oleh ASN dan masyarakat. Manakah dari pilihan berikut yang bukan merupakan bagian dari tahapan kompas tersebut berdasarkan dokumen di atas? Jawabannya adalah setiap pilihan yang tidak termasuk internalisasi nilai moral, transformasi sosial dan SDM, serta inovasi dan teknologi.

Dikutip dari perpustakaan.bappenas.go.id, terdapat tiga tahapan utama yang dijadikan kerangka perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Tahap pertama adalah internalisasi nilai moral.

Tahap ini menempatkan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi karakter dalam kehidupan sehari-hari.

ASN dan masyarakat didorong menjadikan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial sebagai dasar dalam pengambilan keputusan maupun tindakan.

Internalisasi nilai moral tidak hanya berkaitan dengan pemahaman teori. Tahap ini juga menuntut penerapan nilai Pancasila dalam lingkungan keluarga, pendidikan, pekerjaan, serta ruang digital.

Di tengah maraknya penyebaran hoaks, polarisasi sosial, dan krisis identitas, penguatan karakter menjadi kebutuhan yang sangat penting.

Oleh sebab itu, tahapan pertama berfokus pada pembentukan pribadi yang berintegritas dan berlandaskan nilai kebangsaan.

Tahap kedua adalah transformasi sosial dan sumber daya manusia. Fokus utama pada tahap ini meliputi peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, kapasitas sosial, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi memerlukan sumber daya manusia unggul agar mampu bersaing secara global.

Jumlah penduduk usia produktif yang besar tidak akan memberikan manfaat optimal tanpa peningkatan kualitas manusia yang memadai.

Transformasi sosial juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Perkembangan teknologi digital, perubahan pola kerja, serta dinamika ekonomi global menuntut peningkatan kompetensi yang berkelanjutan.

Tahapan ini menjadi jembatan antara penguatan karakter dengan penciptaan sumber daya manusia yang produktif dan kompetitif.

Tahap ketiga adalah inovasi dan teknologi. Pada fase ini, kemampuan riset, kreativitas, serta pemanfaatan teknologi menjadi motor penggerak pembangunan nasional.

Inovasi dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing ekonomi sekaligus menciptakan solusi atas berbagai tantangan masa depan. Pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu kunci menuju Indonesia Emas 2045.

Melalui inovasi dan teknologi, Indonesia diharapkan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dalam berbagai sektor pembangunan.

Kemajuan teknologi tidak hanya dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk memperkuat pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Apabila terdapat pilihan jawaban seperti pembangunan infrastruktur semata, ekspansi politik luar negeri, atau agenda lain yang tidak tercantum dalam tiga tahapan tersebut, maka pilihan tersebut bukan bagian dari skema kompas Pancasila yang dijelaskan dalam dokumen.

Ketiga tahapan yang menjadi acuan hanya terdiri atas internalisasi nilai moral, transformasi sosial dan SDM, serta inovasi dan teknologi.

Tahapan kompas untuk skema Pancasila menuju Indonesia Emas 2045 menegaskan pentingnya keseimbangan antara penguatan karakter, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguasaan teknologi.

Penerapan ketiga tahapan tersebut secara berkelanjutan menjadi fondasi dalam mewujudkan pembangunan nasional yang maju, berdaya saing, dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. (Khoirul)

Baca Juga: Sudahkah Pembaharuan Hukum Pidana Mencerminkan Nilai Pancasila dan Budaya Bangsa