Konten dari Pengguna

Filosofi Keris dalam Budaya Jawa dan Maknanya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Filosofi Keris, Foto:Unsplash/Joshua Kettle
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Filosofi Keris, Foto:Unsplash/Joshua Kettle

Pembahasan mengenai filosofi keris tidak dapat dilepaskan dari perjalanan budaya yang melingkupinya. Sejak dahulu, keris hadir dalam berbagai konteks kehidupan, mulai dari lingkungan kerajaan hingga tradisi masyarakat.

Keberadaannya juga berkembang seiring perubahan zaman, tetapi sejumlah unsur yang melekat pada keris tetap dipertahankan.

Filosofi Keris dalam Tradisi dan Budaya Jawa

Ilustrasi Filosofi Keris, Foto:Unsplash/Mahmur Marganti

Filosofi keris tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang senjata pusaka yang telah dikenal di kawasan Melayu selama lebih dari 600 tahun.

Dikutip dari laman desabotodayaan.gunungkidulkab.go.id, keris merupakan senjata pendek yang memiliki bentuk khas dan ditemukan di berbagai wilayah berpenduduk Melayu, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan, khususnya Mindanao, serta Brunei.

Selain digunakan untuk mempertahankan diri, misalnya dalam bersilat, keris juga menjadi bagian dari alat kebesaran kerajaan sekaligus lambang kedaulatan masyarakat Melayu.

Salah satu keris yang paling terkenal ialah Taming Sari, yang dikenal sebagai senjata Hang Tuah, seorang pahlawan Melayu.

Keris berasal dari Kepulauan Jawa, sementara keris kuno telah digunakan sekitar abad ke-9 hingga abad ke-14. Senjata ini terdiri atas tiga bagian utama, yaitu mata, hulu, dan sarung.

Pada masa lalu, masyarakat Melayu juga mengaitkan keris dengan kekuatan mistis dan meyakini bahwa keris memiliki semangat tersendiri.

Dalam tradisi budaya Melayu, keris dirawat dengan cara diasapi pada waktu tertentu, seperti malam Jumat, serta diasamlimaukan untuk menjaga kondisi logam dan menambah bisanya.

Di Jawa Tengah, keris memiliki kedudukan penting dalam busana adat, terutama pada upacara perkawinan.

Pengantin pria mengenakan busana Jawi jangkep yang terdiri atas kain batik, pakaian pengantin, tutup kepala, dan sebilah keris yang diselipkan di pinggang.

Keris menjadi simbol kejantanan sekaligus pusaka. Bahkan, ketika pengantin pria berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, keris dapat digunakan sebagai perwakilan.

Pemaknaan tersebut berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Jawa tentang filsafat agraris, yaitu menyatunya unsur lelaki dan perempuan sebagai bagian dari awal kehidupan.

Pandangan ini juga berkembang di lingkungan keluarga besar Karaton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Dalam tradisi lainnya, pusaka keraton seperti keris dan tombak dikirab menjelang satu Sura sebagai bagian dari permohonan perlindungan, kebahagiaan, serta kesejahteraan lahir dan batin.

Seiring perubahan zaman, fungsi keris turut mengalami perkembangan. Jika dahulu senjata pusaka digunakan untuk menghadapi musuh atau binatang, pada masa damai keris lebih sering menjadi pelengkap busana dan upacara kebesaran.

Keris kemudian dihias dengan indah, baik pada bagian hulu maupun sarungnya, sehingga memiliki nilai seni dan ekonomi yang tinggi.

Keris pusaka juga dikenal sebagai piyandel, yaitu sesuatu yang dapat menambah keberanian dan kepercayaan diri.

Sementara itu, hubungan antara keris dan sarungnya dimaknai dalam masyarakat Jawa sebagai hubungan yang menyatu untuk mencapai keharmonisan hidup.

Dari pemaknaan tersebut lahir filosofi keris yaitu manunggaling kawula-Gusti, yang menggambarkan hubungan manusia dengan Penciptanya, rakyat dengan pemimpinnya, serta kehidupan yang berjalan selaras sesuai fungsi dan tanggung jawab masing-masing. (KIKI)

Baca juga: Filosofi Tokoh Semar dalam Pewayangan Jawa yang Belum Banyak Diketahui