Filosofi Tokoh Semar dalam Pewayangan Jawa yang Belum Banyak Diketahui
Membagikan informasi dari berbagai topik.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka filosofi tokoh semar dalam pewayangan Jawa ternyata berkaitan dengan alam semesta dan seisinya. Semar merupakan tokoh pewayangan yang dibuat oleh pujangga Jawa.
Ia digambarkan memiliki berbagai sifat baik, mulai dari bermental kuat, mudah memaafkan, welas asih kepada sesama, dan tidak mudah terlarut dengan kesenangan maupun kesedihan duniawi.
Makna Filosofi Tokoh Semar dalam Pewayangan Jawa
Mengutip buku Semar Kisah Bestari Pemimpin Para Punakawan Ardian Kresna (2021:23), filosofi tokoh semar dalam pewayangan Jawa sangat kental dengan ajaran kehidupan.
Dalam pementasan wayang kulit, tokoh Semar digambarkan dengan bentuk fisik yang unik, seolah-olah ia merupakan simbol alam semesta.
Bagian tubuhnya yang bulat menggambarkan bumi, sebagai tempat tinggal manusia dan makhluk hidup lainnya.
Bibirnya tampak selalu tersenyum, tetapi matanya tampak selalu sembab. Hal ini menggambarkan bahwa kehidupan dunia akan selalu diwarnai suka dan duka yang datang secara tiba-tiba.
Jika diamati dengan teliti, wajah Semar tampak tua sementara rambutnya kuncung yang tampak lucu layaknya anak-anak. Bentuk tersebut menggambarkan usia tua dan muda.
Jenis kelaminnya adalah laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan yang melambangkan bahwa jenis kelamin manusia dibedakan menjadi dua, yakni laki-laki dan perempuan.
Semar merupakan jelmaan dari Sang Hyang Ismaya yang memilih hidup sebagai rakyat biasa.
Hal ini menjadi simbol kearifan, kerendahan hati, serta filosofi pemimpin sejati yang senantiasa mengayomi rakyatnya tanpa pandang bulu.
Meski Semar hanya berperan sebagai abdi, hanya saja keturunannya setara dengan Prabu Kresna dalam cerita Mahabarata.
Berdasarkan kisah yang beredar, Semar mengabdi pertama kalinya kepada Resi Manumanasa, yakni leluhur para Pandawa.
Sebenarnya, Semar hanya muncul dalam kisah Mahabharata. Namun, tokoh ini sering muncul juga dalam pementasan wayang kulit dan cerita Ramayana.
Tidak heran, jika dalam pementasan wayang kulit apapun tema dan judulnya, Semar akan ditampilkan sebagai tokoh yang sering memberi petuah.
Demikian ulasan tentang filosofi tokoh semar dalam pewayangan Jawa yang ternyata menarik untuk ditelusuri. Siapa sangka jika ciri fisiknya mengandung makna mengenai kehidupan dan alam semesta.(NOV)
Baca juga: Filosofi Gamelan dalam Budaya Jawa yang Perlu Diketahui