Filosofi Gamelan dalam Budaya Jawa yang Perlu Diketahui
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Filosofi gamelan dalam budaya Jawa tidak hanya berkaitan dengan alunan musik yang terdengar dari berbagai instrumennya.
Di balik suara yang berpadu secara teratur, gamelan menyimpan nilai yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Setiap alat memiliki fungsi berbeda, tetapi seluruhnya saling melengkapi ketika dimainkan bersama.
Keberadaan gamelan hingga sekarang menjadi salah satu bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Filosofi Gamelan dalam Budaya Jawa
Filosofi gamelan dalam budaya Jawa dapat dilihat dari nama, fungsi, serta makna yang dikaitkan dengan sejumlah instrumennya.
Mengutip laman desabohol.gunungkidulkab.go.id, istilah gamelan berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul atau menabuh, kemudian mendapat akhiran -an.
Gamelan merujuk pada seperangkat alat musik yang dimainkan secara bersama-sama. Dalam perkembangannya, gamelan menjadi bagian dari berbagai kegiatan budaya masyarakat Jawa dan digunakan dalam sejumlah acara tradisional.
Permainan gamelan membutuhkan keteraturan karena setiap instrumen mempunyai peran masing-masing dalam membentuk sebuah kesatuan bunyi.
Salah satu instrumen dalam gamelan adalah bonang barung dan bonang penerus. Dalam filosofi yang dijelaskan pada sumber tersebut, kata “nang” dikaitkan dengan makna sadar.
Makna ini menggambarkan pentingnya kesadaran dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika menentukan sikap dan mengambil keputusan.
Ada pula kethuk yang dikaitkan dengan kata “manthuk”, yaitu menyetujui atau mengikuti. Maknanya berhubungan dengan sikap patuh terhadap perintah dan larangan Sang Pencipta.
Kendhang mempunyai fungsi untuk mengatur cepat atau lambatnya irama dalam permainan gamelan. Dari sisi filosofi, kendhang dikaitkan dengan ajakan untuk segera melakukan sesuatu yang baik, termasuk menjalankan ibadah.
Sementara itu, kempul memiliki makna yang dikaitkan dengan kata “kumpul”. Makna tersebut menggambarkan pentingnya berkumpul dan menjaga hubungan dengan sesama.
Instrumen lainnya juga mempunyai makna tersendiri. Gambang dikaitkan dengan kata “gamblang” yang berarti jelas. Filosofinya berkaitan dengan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Suling memiliki filosofi “eling” atau mengingat.
Makna tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak melupakan kewajiban dalam menjalani kehidupan. Rebab juga memiliki makna yang berkaitan dengan tujuan atau keinginan dalam melakukan sesuatu.
Berbagai makna tersebut menunjukkan bahwa gamelan mempunyai hubungan erat dengan nilai kehidupan masyarakat Jawa. Keselarasan suara yang muncul dari banyak instrumen dapat menjadi gambaran mengenai pentingnya menjalankan peran masing-masing tanpa mengabaikan keberadaan unsur lainnya.
Tidak ada satu instrumen yang harus mendominasi seluruh permainan karena setiap bagian memiliki fungsi dalam membentuk irama yang utuh.
Pada akhirnya, Filosofi Gamelan dalam Budaya Jawa memperlihatkan bahwa sebuah kesenian dapat menyimpan banyak pesan kehidupan.
Bunyi yang dihasilkan secara bersama-sama mencerminkan nilai kebersamaan, sementara fungsi setiap instrumen menunjukkan pentingnya keteraturan dan keseimbangan.
Karena itu, gamelan menjadi warisan budaya yang tidak hanya menarik untuk dinikmati, tetapi juga memiliki makna yang patut dipahami dan dilestarikan.(Yolan)
Baca juga: Sejarah Lenong Betawi dan Ciri Khas yang Membuatnya Unik