Konten dari Pengguna

Kenapa Debu Vulkanik Bisa Mengganggu Penerbangan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kenapa debu vulkanik bisa mengganggu penerbangan?, Pexels/Ryoka Vertikal
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kenapa debu vulkanik bisa mengganggu penerbangan?, Pexels/Ryoka Vertikal

Kenapa debu vulkanik bisa mengganggu penerbangan? Pertanyaan ini kerap muncul saat penerbangan terpaksa ditunda ketika bencana alam terjadi. Faktanya letusan gunung api tidak hanya menjadi ancaman bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung.

Debu vulkanik yang menyebar ke atmosfer juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan, terutama ketika awan abu berada di jalur penerbangan. Kondisi ini membuat pesawat perlu menghindari wilayah yang terdampak demi menjaga keselamatan penerbangan.

Kenapa Debu Vulkanik Bisa Mengganggu Penerbangan Pesawat?

Ilustrasi kenapa debu vulkanik bisa mengganggu penerbangan?, Pexels/Ridwan Afriandy

Terdapat beberapa kondisi yang bisa menyebabkan penerbangan batal salah satunya adalah debu Vulkanik. Kenapa debu vulkanik bisa mengganggu penerbangan? Simak penjelasannya berikut ini berdasarkan situs web rri.co.id.

Abu vulkanik menjadi salah satu bahaya serius dalam dunia penerbangan. Hal ini disebabkan karena karena keberadaannya di udara tidak selalu mudah diketahui secara visual, tetapi dapat memberikan dampak terhadap pesawat.

Ketika gunung api meletus dan menghasilkan kolom abu yang tinggi. Partikel ini dapat masuk ke jalur penerbangan dan terbawa angin hingga berada jauh dari sumber erupsi.

Kondisi tersebut membuat penerbangan perlu menyesuaikan rute, bahkan dapat menyebabkan bandara ditutup sementara. Salah satu alasan utamanya adalah kandungan abu vulkanik yang bersifat abrasif.

Partikel tersebut dapat mengikis permukaan komponen pesawat, termasuk bagian mesin dan kaca kokpit. Selain itu, abu vulkanik yang mengandung material silikat dapat masuk ke mesin jet.

Pada temperatur tinggi di dalam mesin, material tersebut dapat meleleh dan kemudian menempel pada komponen mesin. Kondisi ini berpotensi mengganggu aliran udara dan kinerja mesin.

Masalah lainnya adalah jarak pandang. Abu vulkanik yang berada di atmosfer dapat mengganggu pandangan pilot dan membuat kondisi penerbangan menjadi lebih berisiko.

Partikel abu juga dapat menggores kaca kokpit dan mengganggu sensor tertentu pada pesawat. Karena itu, pesawat tidak dapat sembarangan melewati wilayah yang diketahui memiliki konsentrasi abu vulkanik.

Dampaknya tidak hanya dirasakan pesawat yang sedang mengudara. Jika sebaran abu mencapai kawasan bandara, aktivitas penerbangan juga dapat terganggu karena abu berpotensi masuk ke mesin pesawat yang berada di darat.

Dalam kasus erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026, sebaran abu bahkan mencapai sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Sebaran yang cukup luas ini dapat berdampak pada operasional penerbangan.

Namun, gunung meletus tidak otomatis berarti semua penerbangan harus dihentikan. Keputusan bergantung pada lokasi dan konsentrasi abu, arah pergerakannya, kondisi bandara, serta jalur penerbangan yang terdampak.

Jika jalur penerbangan aman dan tidak berada di kawasan sebaran abu, penerbangan masih dapat dilakukan. Sebaliknya, jika abu berada di sekitar bandara atau jalur penerbangan, rute dapat dialihkan atau operasional dihentikan sementara demi keselamatan.

Jadi, kenapa debu vulkanik bisa mengganggu penerbangan? Jawabannya adalah gangguan tersebut terjadi karena debu vulkanik mengandung partikel mineral dan batuan yang sangat halus, tetapi tetap bersifat abrasif. (Fia)

Baca juga: Seberapa Jauh Debu Vulkanik Bisa Terbawa Angin? Ini Proses Alamnya