Konten dari Pengguna

Kewajiban Orang Tua yang Sudah Renta dan Pikun Boleh Meninggalkan Puasa

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ILustrasi Orang tua yang sudah renta dan pikun boleh meninggalkan puasa tetapi wajib baginya untuk. Foto: Unsplash/ekrem osmanoglu
zoom-in-whitePerbesar
ILustrasi Orang tua yang sudah renta dan pikun boleh meninggalkan puasa tetapi wajib baginya untuk. Foto: Unsplash/ekrem osmanoglu

Orang tua yang sudah renta dan pikun boleh meninggalkan puasa tetapi wajib baginya untuk tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku dalam ajaran Islam.

Kondisi usia lanjut dapat membuat kemampuan fisik menurun sehingga menjalankan puasa tidak lagi semudah ketika masih sehat dan kuat.

Terlebih, keadaan pikun juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan kewajiban agama secara sempurna. Islam memberikan keringanan dalam kondisi tertentu agar ibadah tetap dapat dijalankan sesuai kemampuan tanpa membahayakan diri.

Orang Tua yang Sudah Renta dan Pikun Boleh Meninggalkan Puasa Tetapi Wajib Membayar Fidyah

ILustrasi Orang tua yang sudah renta dan pikun boleh meninggalkan puasa tetapi wajib baginya untuk. Foto: Unsplash/Maxim Tolchinskiy

Orang tua yang sudah renta dan pikun boleh meninggalkan puasa tetapi wajib baginya untuk membayar fidyah apabila masih berakal dan sudah tidak mampu menjalankan puasa karena usia yang sangat lanjut.

Fidyah diberikan sebagai pengganti puasa yang tidak sanggup dilaksanakan. Jadi, orang tua yang sudah renta tidak perlu memaksakan diri berpuasa apabila kondisi fisiknya memang sudah sangat lemah dan puasa dapat membahayakan atau menimbulkan kesulitan berat.

Mengutip laman baznas.go.id , orang yang sudah tua dan tidak mampu menjalankan puasa karena kelemahan fisik termasuk golongan yang mendapatkan keringanan.

Orang tersebut tidak diwajibkan mengganti puasa dengan puasa di hari lain, tetapi menggantinya dengan fidyah, yaitu memberi makan orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Ketentuan ini merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 184.

Namun, jika yang dimaksud dengan pikun adalah kondisi seseorang sudah kehilangan akal atau tidak lagi mampu memahami kewajiban agama, ketentuannya berbeda.

Orang yang sudah tidak memiliki kemampuan berpikir secara normal tidak dibebani kewajiban syariat seperti orang yang masih berakal.

Sebaliknya, apabila seseorang hanya mengalami penurunan daya ingat tetapi masih sadar, masih memahami kewajiban agama, dan masih mampu menjalankan puasa, maka kewajiban tersebut tetap berlaku.

Dengan demikian, lansia yang masih berakal tetapi tidak mampu berpuasa karena renta wajib membayar fidyah, bukan mengganti puasa di kemudian hari.

Sementara orang yang sudah mengalami kepikunan hingga kehilangan kemampuan akal tidak dibebani kewajiban puasa. Penentuan kondisi tersebut perlu melihat keadaan orang yang bersangkutan secara nyata.(ARIF)

Baca juga: Cara Menerapkan Perilaku Mulia sebagai Bukti Keimanan kepada Hari Akhir