Latar Belakang Masuknya Bangsa Barat ke Indonesia, Ini Sejarah Nusantara
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Latar belakang masuknya bangsa barat ke Indonesia berkaitan erat dengan perubahan situasi ekonomi, perkembangan ilmu pengetahuan, serta keinginan untuk menemukan jalur perdagangan baru.
Perjalanan menuju wilayah Asia bukanlah hal yang mudah karena para pelaut harus menghadapi berbagai tantangan di lautan luas.
Meski demikian, keinginan memperoleh keuntungan dari perdagangan rempah-rempah membuat penjelajahan terus dilakukan.
Latar Belakang Masuknya Bangsa Barat ke Indonesia, di Antaranya Rempah-Rempah
Dikutip dari laman guru.kemendikdasmen.go.id, latar belakang masuknya bangsa Barat ke Indonesia berkaitan erat dengan kebutuhan rempah-rempah, keinginan memperoleh kekayaan, serta persaingan untuk memperluas kekuasaan.
Pada masa itu, rempah-rempah seperti cengkih, lada, dan pala memiliki nilai jual yang tinggi di Eropa. Selain digunakan sebagai bumbu masakan, rempah-rempah juga dimanfaatkan untuk mengawetkan makanan dan bahan obat-obatan.
Tingginya kebutuhan tersebut mendorong bangsa Eropa mencari jalur perdagangan baru agar dapat memperoleh rempah-rempah langsung dari daerah penghasilnya, termasuk wilayah Nusantara.
Salah satu peristiwa yang mendorong penjelajahan samudra adalah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani pada tahun 1453.
Peristiwa tersebut mengganggu jalur perdagangan antara Asia dan Eropa sehingga bangsa Barat berusaha menemukan jalur alternatif menuju sumber rempah-rempah.
Pada saat yang sama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pelayaran, seperti penggunaan kompas dan teleskop, membantu para pelaut melakukan perjalanan melintasi samudra.
Keadaan ini semakin membuka peluang bagi bangsa Eropa untuk mencapai wilayah Asia.
Kedatangan bangsa Barat juga didorong oleh semboyan 3G, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold berarti keinginan memperoleh kekayaan melalui perdagangan dan penguasaan sumber daya.
Glory merujuk pada usaha meraih kejayaan serta memperluas kekuasaan dan wilayah jajahan. Sementara itu, Gospel berkaitan dengan misi menyebarkan agama Nasrani.
Selain ketiga tujuan tersebut, Revolusi Industri di Eropa meningkatkan kebutuhan akan bahan baku dan daerah pemasaran baru bagi produk-produk industri.
Portugis menjadi salah satu bangsa Eropa yang lebih dahulu datang ke Nusantara. Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511 di bawah pimpinan Alfonso d'Albuquerque, Portugis melanjutkan pelayaran ke Maluku pada tahun 1512 untuk memperoleh rempah-rempah.
Selanjutnya, Spanyol tiba di Tidore, Maluku, pada tahun 1522. Kehadiran kedua bangsa tersebut menimbulkan persaingan dalam perdagangan dan perebutan pengaruh yang kemudian diselesaikan melalui Perjanjian Saragosa.
Inggris juga berusaha memperluas pengaruhnya di Nusantara melalui kongsi dagang East India Company (EIC). Pada masa Thomas Stamford Raffles, Inggris sempat menguasai wilayah Nusantara pada tahun 1811–1816.
Sementara itu, Belanda tiba di Banten pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Untuk memperkuat kedudukannya dalam perdagangan, Belanda membentuk Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602.
Kongsi dagang tersebut berupaya memonopoli perdagangan rempah-rempah sehingga persaingan ant bangsa Eropa semakin berkembang di Nusantara. (KIKI)
Baca juga: Aufklarung adalah Apa? Kenali Pengertian dan Latar Belakangnya