Konten dari Pengguna

Tradisi Paling Langka di Indonesia yang Jarang Diketahui Masyarakat

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi tradisi paling langka di Indonesia. Unsplash/azmar_aso
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi tradisi paling langka di Indonesia. Unsplash/azmar_aso

Tradisi paling langka di Indonesia menjadi salah satu bagian dari kekayaan budaya yang menarik untuk dikenal lebih dekat. Di tengah kehidupan modern yang terus berkembang, masih terdapat berbagai kebiasaan masyarakat yang dipertahankan secara turun-temurun dan hanya dilakukan dalam kondisi atau waktu tertentu.

Sebagian di antaranya mungkin terdengar asing karena tidak banyak dikenal di luar lingkungan masyarakat yang menjaganya.

Tradisi Paling Langka di Indonesia

ilustrasi tradisi paling langka di Indonesia. Unsplash/inakihxz

Tradisi paling langka di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan yang sudah jarang dilakukan, tetapi juga dapat merujuk pada tradisi yang memiliki rangkaian pelaksanaan khas dan diwariskan secara turun-temurun.

Salah satunya adalah Robo-robo, upacara tolak bala yang dilaksanakan oleh masyarakat Mempawah, Kalimantan Barat. Tradisi ini berlangsung pada Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Dikutip dari laman dppkbpppa.pontianak.go.id, Robo-robo pada awalnya digelar untuk menyambut kedatangan Opu Daeng Menambon dari Kerajaan Matan Tanjungpura menuju Kerajaan Mempawah, yang saat itu dikenal sebagai Panembahan Senggaok, pada 1737 M atau 1448 H.

Opu Daeng Menambon merupakan keturunan Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan. Kedatangannya ke Mempawah bertujuan menyebarkan agama Islam sekaligus meneruskan takhta Kerajaan Panembahan Senggaok.

Perjalanan tersebut diiringi sekitar 40 perahu. Saat tiba di Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut meriah oleh masyarakat. Rumah-rumah penduduk di tepian sungai dihiasi kertas dan kain warna-warni, sementara sejumlah warga menyambut menggunakan sampan.

Melihat sambutan tersebut, Opu Daeng Menambon membagikan bekal makanan kepada masyarakat di pinggir sungai. Karena kedatangannya bertepatan dengan Rabu terakhir bulan Safar, rombongan kemudian turun di Kuala Mempawah dan berdoa bersama masyarakat untuk memohon keselamatan serta perlindungan dari bala dan petaka.

Setelah berdoa, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama. Peristiwa tersebut kemudian menjadi awal pelaksanaan Robo-robo yang dilakukan setiap tahun.

Pelaksanaan Robo-robo diawali dengan napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambon dan seremonial pembukaan. Selanjutnya, keluarga Kerajaan Mempawah mengumandangkan azan serta membaca doa tolak bala, kemudian melaksanakan ritual buang-buang.

Setelah rangkaian tersebut selesai, keluarga kerajaan, pejabat daerah, dan masyarakat Mempawah melakukan makan saprahan atau makan bersama di luar rumah.

Masyarakat umum biasanya mengikuti Robo-robo dengan membaca doa tolak bala, kemudian makan bersama di lapangan, tepi jalan, gang permukiman, halaman masjid, dan tempat lainnya.

Kegiatan makan bersama juga dilakukan seminggu sekali selama bulan Safar hingga Robo-robo resmi dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar. Makan bersama menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Robo-robo karena warga saling berbagi tanpa memandang status sosial.

Masyarakat Mempawah juga menganggap Robo-robo sebagai salah satu hari besar sehingga ketupat turut disiapkan, sebagaimana saat Lebaran. Selain sebagai upacara tolak bala, Robo-robo kini juga digelar untuk mengenang hari wafatnya Opu Daeng Menambon.

Perayaannya dimeriahkan hiburan tradisional, seperti jepin, tundang atau pantun berdendang, lomba perahu bidar, serta berbagai penampilan adat dan budaya Melayu Mempawah.

Salah satu tradisi paling langka di Indonesia ada di Kalimantan Barat yang masih memiliki keterikatan dengan Opu Daeng Menambon atau Kerajaan Mempawah juga memperingatinya dengan makan bersama keluarga di halaman rumah. (KIKI)

Baca juga: Kisah Burung Cendrawasih Menurut Rakyat Papua