Konten dari Pengguna

Apa Itu Toxic Positivity? Memahami Arti & Ciri Toxic Positivity

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi toxic positivity. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi toxic positivity. Foto Unsplash.

Toxic positivity kini semakin sering dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di media sosial dan lingkungan kerja. Banyak orang mulai menyadari bahwa dorongan untuk selalu berpikir positif ternyata tidak selalu membawa kebaikan. Pemahaman mendalam tentang apa itu toxic positivity dan ciri-cirinya dapat membantu kita mengelola emosi dengan lebih sehat.

Pengertian Toxic Positivity

Konsep toxic positivity muncul dari kecenderungan untuk menuntut diri sendiri atau orang lain agar tetap berpikir positif, meskipun sedang menghadapi situasi sulit.

Menurut Monica Geaby Rivana Kojongian dan Doddy Hendro Wibowo dalam artikel jurnal “Toxic Positivity: Sisi Lain dari Konsep untuk Selalu Positif dalam Segala Kondisi”, toxic positivity adalah kepercayaan terhadap konsep positif yang berlebihan, yang menuntut seseorang untuk selalu positif dalam segala keadaan dan mengabaikan emosi negatif yang sebenarnya dirasakan.

Definisi dan Asal Konsep

Secara sederhana, toxic positivity adalah anggapan bahwa seseorang harus menekan perasaan negatif dan menggantinya dengan sikap positif. Konsep ini berkembang seiring meningkatnya tren motivasi dan self-improvement, yang terkadang menyepelekan emosi alami manusia.

Toxic Positivity Menurut Penelitian Terkini

Menurut Monica Geaby Rivana Kojongian dan Doddy Hendro Wibowo dalam artikel jurnal “Toxic Positivity: Sisi Lain dari Konsep untuk Selalu Positif dalam Segala Kondisi”, toxic positivity dapat memunculkan invalidasi terhadap emosi negatif, membuat seseorang cenderung diam dan memendam perasaannya, serta menimbulkan dampak negatif baik secara fisik maupun psikologis.

Ciri-Ciri Toxic Positivity

Toxic positivity sering kali tidak disadari kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengenali ciri-cirinya sangat penting agar kita tidak terjebak dalam pola pikir yang kurang sehat.

Tanda-Tanda Umum dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa tanda toxic positivity antara lain menolak mendengarkan keluhan, merasa bersalah saat sedih, atau memaksa orang lain untuk selalu semangat. Kalimat seperti “Sudah, jangan sedih terus” atau “Pasti ada hikmahnya” sering menjadi indikatornya.

Dampak Negatif dari Toxic Positivity

Tekanan untuk selalu bahagia justru memicu stres emosional baru. Seseorang bisa merasa terisolasi atau tidak valid dengan perasaannya sendiri, sehingga proses penyembuhan emosi menjadi terhambat.

Contoh Sikap dan Ungkapan Toxic Positivity

Ungkapan seperti “Semua akan baik-baik saja, kok!” atau “Jangan pikirin masalahnya, fokus yang positif aja” merupakan contoh nyata toxic positivity. Sikap ini sering terlihat dalam interaksi sehari-hari, tanpa disadari dapat melukai perasaan orang lain.

Mengapa Toxic Positivity Perlu Diwaspadai?

Membedakan antara sikap optimis dan toxic positivity sangat penting. Optimisme berarti mampu melihat sisi baik tanpa mengabaikan kenyataan, sedangkan toxic positivity cenderung memaksakan kebahagiaan secara berlebihan.

Perbedaan Antara Optimisme dan Toxic Positivity

Optimisme memberi ruang bagi seseorang untuk menerima dan memproses emosi negatif. Sementara itu, toxic positivity menolak keberadaan perasaan sulit dan menuntut semuanya serba positif.

Implikasi Psikologis Berdasarkan Penelitian

Seperti yang telah dijelaskan pada artikel jurnal sebelumnya, toxic positivity dapat membuat seseorang diam, tertutup, dan memendam perasaannya, sehingga emosi yang diabaikan tidak benar-benar hilang dan dapat menimbulkan dampak negatif secara fisik maupun psikologis.

Kesimpulan

Toxic positivity adalah pola pikir yang perlu diwaspadai agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental. Mengenali ciri-ciri toxic positivity dan memahami perbedaannya dengan optimisme dapat membantu kita mengelola emosi secara sehat. Dengan memahami batas sehat berpikir positif, kita dapat lebih bijak menerima dan memproses perasaan yang muncul dalam berbagai situasi.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Kognitif dan Pola Pikir: Cara Kerja Pikiran yang Membentuk Hidup