Sulit Cari Kerja di Negeri Sendiri, Mengapa Banyak Anak Muda Melirik Luar Negri?

Saya seorang mahasiswi Universitas Pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari skmaylstri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia per Mei 2026 mencapai 4,65%, dengan total 7,22 juta orang masih berstatus menganggur menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Angka pengangguran ini mencerminkan betapa ketatnya persaingan mencari kerja di dalam negeri, yang akhirnya mendorong sebagian anak muda melirik peluang kerja di luar negeri. Bagi mereka, bekerja di negara lain bukan hanya tentang mencari pengalaman baru, tetapi juga tentang harapan memperoleh penghasilan yang lebih baik, membantu keluarga, dan membangun masa depan yang lebih stabil.
Persaingan dalam mencari pekerjaan menjadi tantangan yang sangat berat, terutama bagi lulusan baru (fresh graduate). Memiliki ijazah saja tidak lagi menjamin kemudahan mendapat kerja. Fakta mengejutkan dari data BPS menunjukkan bahwa per Mei 2026, proporsi pengangguran lulusan perguruan tinggi (sarjana) justru mencapai 14,3% atau sekitar 1,3 juta orang. Pelamar harus bersaing ketat dalam hal keterampilan spesifik, pengalaman magang, kemampuan berkomunikasi, dan kesesuaian dengan kebutuhan industri yang terus berubah cepat.
Di tengah pasar kerja domestik yang menantang ini, bekerja di luar negeri hadir sebagai alternatif yang kian populer. Menurut data Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), jumlah pekerja migran Indonesia yang ditempatkan ke luar negeri kini menembus kisaran 269 ribu orang, dengan negara tujuan utama meliputi Taiwan, Malaysia, dan Hong Kong. Informasi mengenai gaji dalam mata uang asing, peluang menabung, dan kesempatan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga membuat sebagian anak muda tertarik mencoba peruntungan di negara lain.
Namun, apakah bekerja di luar negeri selalu lebih menguntungkan secara finansial? Untuk menjawabnya, kita tidak cukup hanya melihat angka gaji kotor. Ada variabel biaya hidup, pajak, biaya keberangkatan, dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang wajib dikalkulasi. Di sinilah sudut pandang akuntansi dapat membantu anda mengambil keputusan karier yang lebih rasional dan terukur.
Sulitnya Mencari Pekerjaan Mendorong Anak Muda Mencari Alternatif
Bagi seluruh lululsan baru, mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan ekspektasi gaji bukanlah perkara mudah. Banyak dari mereka yang harus mengirimkan ratusan berkas lamaran, mengikuti berbagai tahapan seleksi melelahkan, hingga menunggu berbulan-bulan tanpa kepastian diterima.
Di sisi lain, kebutuhan hiduo harian tidak bisa ditunda. Biaya transportasi, makan, tempat tinggal, dan kebutuhan pribadi harus tetap dipenuhi, sementara sebagian pencari kerja belum memiliki penghasilan tetap. Situasi mendesak inilah yang mendorong generasi muda untuk memperluas kompas karier mereka hingga linntas negara.
Meski demikian, keputusan ini tidak selalu berarti bahwa semua pekerjaan di Indonesia memiliki upah rendah atau bahwa seluruh pekerja di luar negeri menawarkan kondisi yang ideal. Realitas di lapangan menunjukkan besarnya penghasilan sangat bergantung pada:
Bidang pekerjaan dan tingkat keahlian (skill) khusus pelamar.
Kebijakan upah minimum di negara tujuan bagi tenaga kerja asing.
Ketentuan kontrak kerja serta hak fasilitas perlindungan kerja.
Persoalan utamanya bukan sekedar memilih bekerja di dalam atau luar negeri, melainkan bagaimana menemukan posisi yang memberikan penghasilan layak serta jaminan hidup yang aman.
Gaji Mata Uang Asing Memang Menarik, tapi Jangan Terkecoh Nominal
Salah satu daya tarik terbesar lowongan kerja luar negeri adalah besarnya angka gaji ketika dikonversikan ke rupiah. Penghasilan dalam meta uang Euro, Dolar, Yen, atau Won secara psikologis terlihat jauh lebih besar daripada rata-rata upah minimum di Indonesia.
Namun, membandingkan tawaran kerja hanya berdasarkan nilai kurs mata uang bisa menjadi jebakan keuangan. Uang yang anda terima di sana harus digunakan untuk memadai hidup di lingkungan dengan standar harga yang berbeda. Biaya sewa kamar, inflasi harga makanan, tarif transportasi publik, premi asurasni wajib, dan potongan pajak penghasilan di negara maju bisa berkali-kali lipat.
Sebagai contoh:
Skenario A: Seseorang mendapat gaji setara 25 juta/bulan di negara X. Namun, jika harga sewa tempat tinggal di kota tersebut mencapai 12 juta dan biaya makan bulanan menghabiskan 8 juta, sisa uang yang bisa disimpan hanya 5 juta.
Skenario B: Seseorang bekerja di dalam negeri dengan gaji 6 juta/ bulan. Karena tinggal bersama orang tua dan membawa bekal sendiri, ia mampu menabung hingga 3 juta.
Berdasarkan perbandingan di atas, besarnya nominal gaji belum menjadi jaminan mutlak. Indikator keuangan yang jauh lebih valid untuk diperhatikan adalah seberapa besar surplus pendapatan yang tersisa setelah semua kewajiban bulanan anda lunasi.
Akuntansi Membantu Menghitung Keuntungan Riil Bekerja
Dalam ilmu akuntansi, total pendapatan (omzet) tidak pernah disamakan dengan keuntungan bersih (net profit). Sebuah entitas bisnis bisa saja mencatatkan pendapatan operasional yang besar, namun berujung rugi jika biaya operasionalnya jauh lebih membengkak. Prinsip dasar akuntansi ini sangat relevan dipublikasikan untuk mengukur profitabilitas keuputusan karier anda. Gaji adalah pendapatan kotor anda, sedangkan potongan wajib dan biaya hidup berperan sebagai pengurang.
Formula perhitungan sederhana yang bisa digunakan:
Pendapatan Bersih yang Tersedia = Gaji Kotor - (Pajak + Potongan) - Biaya Hidup - Pengeluaran Lainnya.
Mari kita bedah mulai simulasi angka berikut:
Gaji kotor yang diterima: Setara Rp 15.000.000
Pajak & asuransi wajib: Rp 1.500.000
Sewa tempat tinggal: Rp 4.000.000
Biaya makan & minum: Rp 2.500.000
Transportasi bulanan: Rp 1.000.000
Kebutuhan logistik & lainnya: Rp 1.000.000
Dengan perhitungan akuntansi sederhana tersebut, sisa dana riil yang menjadi hak anda untuk ditabung atau dikirim ke keluarga di Indonesia (remitasi) adalah Rp 5.000.000/bulan. Melalui pencatatan objektif ini, anda bisa melihat gambaran keuangan yang lebih realists dan terhindar dari espektasi semu.
Biaya Keberangkatan Sebagai Investasi Awal (Capital Expenditure)
Selain mengukur pengeluaran bulanan setelah aktif bekerja, anda wajib memperhitungkan biaya pra-keberangkatan. Dalam dunia keuangan, biaya ini dikategorikan sebagai investasi modal awal (capital expenditure) untuk memulai sebuah proyek. Proses penempatan kerja ke luar negeri melibatkan pos anggaran awal seperti:
Pengurusan dokumen rresmi (Paspor, Visa kerja, legalisasi berkas).
Pemeriksaan kesehatan (Medical Check-Up standar internasional).
Pelatihan bahasa dan sertifikasi kompentensi kerja.
Tiket perjalanan udara dan uang saku darurat awal di negara tujuan.
Dalam analisis manajemen keuangan, biaya modal awal ini perlu disandingkan dengan proyeksi tabungan bulanan untuk menghitung Payback Period atau masa titik impas (Break-Event Point).
Misalnya, jika total biaya modal keberangkatan resmi menghabiskan dana 15 juta, dan dari hasil perhitungan akuntansi sebelumnya anda bisa menabung bersih 5 juta/bulan, maka anda membutuhkan waktu minimal 3 bulan bekerja hanya untuk mengembalikan modal awal tersebut. Semakin besar biaya penempatan yang dibebankan dan semakin kecil ruang tabungan bulanan anda, maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik balik modal.
Catatan Penting: Waspadai oknum pengirim tenaga kerja yang meminta tarif pembayaran awal di luar batas kewajaran atau menjanjikan keberangkatan instan tanpa kontrak kerja yang transparan di sistem resmi SISKOP2MI.
Menghitung Risiko Finansial dan Manfaat Jangka Panjang
Memilih pekerjaan tidak boleh hanya bertumpu pada lembaran slip gaji bulanan. Risiko ketidakpastian dan aspek keberlanjutan jangka panjang harus masuk dalam matriks penilaian anda. Ada beberapa faktor non-keuangan yang memiliki dampak finansial tidak langsung:
Keamanan Kerja & Kontrak: Kepastian durasi kontrak kerja dan kejelasan sanksi pemutusan hubungan kerja sepihak.
Perlindungan Hukum: Jaminan hak-hak pekerja migran yang terdaftar resmi di bawah hukum negara tujuan.
Akses Layanan Kesehatan: Fasilitas asuransi kesehatan yang menanggung risiko kecelakaan kerja atau sakit.
Peningkatan Nilai Jual (Upskilling): Apakah pekerjaan tersebut memberikan transfer teknologi atau keterampilan baru yang bisa menaikkan nilai tawar anda saat kembali ke Indonesia nanti.
Pekerjaan dengan upah sangat tinggi bisa menjadi keputusan keuangan yang buruk jika memiliki risiko keselamatan yang tinggi atau tidak memiliki payung hukum formal. Sebaliknya, tawaran dengan kompensasi moderat namun memiliki program pelatihan terstruktur serta jenjang karier jelas dapat memberikan keuntungan finansial yang jauh lebih besar dan stabil dalam jangka panjang.
Mengoptimalkan Daya Saing pasar Kerja Domestik
Fenomena tingginya minat anak muda ke luar negeri menjadi sinyal pengingat bagi pasar kerja domestik. Penciptaan lapangan kerja di dalam negeri tidak sekedar berfokus pada kuantitas lowongan yang dibuka, melainkan bagaimana menyediakan pekerjaan yang berkualitas, produktif, serta menawarkan remunerasi yang adil dan layak bagi generasi muda.
Tantangan terbesar saat ini adalah adanya kesenjangan (mismatch) antara kompetensi yang diajarkan di lembaga pendidikan dengan kualifikasi riil yang dibutuhkan oleh dunia industri. Oleh karena itu, penguatan program pelatihan kerja vokasi, sertifikasi keahlian khusus, dan kemudahan akses informasi lowongan kerja menjadi pilar penting yang harus terus dioptimalkan di Indonesia.
Di sisi lain, bagi anda yang memilih tetap meniti karier di dalam negeri maupun yang bersiap ke luar negeri, kecerdasan mengelola keuangan pribadi (financial literacy) adalah harga mati. Kemampuan memisahkan porsi konsumsi dengan porsi investasi akan menentukan tingkat kesejahteraan anda di masa depan, terlepas dari mana mata uang gaji yang anda dapatkan.
Kesimpulan: Bukan di mana Anda Bekerja, Tapi Berapa yang Anda Amankan
Tanttangan mencari kerja di negeri sendiri memang nyata dan menuntut generasi muda untuk berpikir lebih kreatif serta adaptif. Meneliti karier luar negeri merupakan langkah alternatif yang valid dan berpotensi mengakselerasi kondisi finansial keluarga jika direncanakan lewat jalur penempatan resmi yang legal.
Namun, pastikan keputusan besar tersebut tidak diambil hanya karena silau oleh nominal mata uang asing atau sekedar ikut-ikutan tren media sosial. Gunakan pendekatan akuntansi sederhana untuk membedah setiap penawaran: hitung dengan cermat potongan pajaknya, kalkulasikan secara riil biaya hidupnya, dan ukur berapa lama modal keberangkatan anda dapat kembali terbayar.
