Hegemoni Barat dalam Konflik Gaza: Perspektif Orientalisme Edward Said

Mahasiswa Universitas indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari M Fathulloh Gibran tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
I. Pendahuluan

Konflik Gaza yang kembali memanas sejak 2023 tidak hanya mencerminkan pertarungan militer antara Israel dan Palestina, tetapi juga menunjukkan adanya hegemoni Barat dalam membentuk narasi global. Konflik Gaza tidak bisa dipahami secara netral karena dipengaruhi oleh kepentingan politik internasional, terutama Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel. Dalam konteks ini, Iran juga muncul sebagai aktor penting dalam dinamika konflik Gaza di kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, pendekatan orientalisme dari Edward Said menjadi relevan untuk menganalisis bagaimana Barat merepresentasikan Palestina dan Iran dalam konflik Gaza.
II. Orientalisme Edward Said dalam Konflik Israel Palestina
Dalam karya monumentalnya Orientalism, Edward Said menjelaskan bahwa orientalisme merupakan cara Barat memahami Timur melalui konstruksi yang bias dan hierarkis. Timur direpresentasikan sebagai inferior, irasional, dan berbahaya, sedangkan Barat diposisikan sebagai rasional, modern, dan superior (Said, 1978). Dengan demikian, orientalisme bukan sekadar kajian akademik, tetapi merupakan alat ideologis yang mendukung dominasi Barat terhadap Timur. Dalam perspektif poskolonial, orientalisme juga berfungsi sebagai instrumen imperialisme yang bekerja melalui produksi pengetahuan dan representasi (Cipta & Kurniawan, 2025). Konsep ini berkaitan erat dengan gagasan diskursus, yaitu sistem pengetahuan yang membentuk cara pandang terhadap realitas. Diskursus tidak pernah netral karena selalu terkait dengan relasi kekuasaan. Dalam konteks ini, hegemoni diskursif merujuk pada kemampuan suatu kekuatan untuk mendominasi cara berpikir dan memahami dunia melalui kontrol atas narasi, media, dan pengetahuan. Oleh karena itu, orientalisme dapat dipahami sebagai bentuk hegemoni kultural Barat yang terus direproduksi dalam berbagai konteks, termasuk konflik Gaza.
III. Geopolitik Gaza dan Perang Iran Israel
Konflik Gaza tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang konflik Palestina–Israel yang berakar pada kolonialisme dan perebutan wilayah. Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan respons militer Israel, konflik ini telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar serta mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat memainkan peran penting sebagai pendukung utama Israel, baik secara politik maupun militer (Freilich, 2023). Dinamika kawasan menunjukkan bahwa dominasi Amerika Serikat mulai mengalami penurunan. Tatanan regional yang sebelumnya bersifat unipolar kini berubah menjadi lebih kompleks dengan munculnya aktor-aktor non-negara dan jaringan regional yang memengaruhi jalannya konflik (Krieg, 2024). Dalam situasi ini, Iran muncul sebagai aktor penting yang mendukung kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hezbollah. Konflik Gaza pun menjadi bagian dari persaingan geopolitik yang lebih luas antara kekuatan Barat dan aktor-aktor regional, sehingga memperkuat dimensi global dari konflik tersebut.
IV. Media Barat dan Representasi Palestina di Gaza
Dalam kerangka orientalisme, Palestina sering direpresentasikan sebagai “the Other” yang identik dengan kekerasan dan radikalisme. Representasi ini mengabaikan konteks historis penjajahan, pendudukan, dan ketidakadilan struktural yang dialami oleh rakyat Palestina. Narasi dominan di media Barat cenderung menempatkan Palestina sebagai pihak agresor, sementara Israel diposisikan sebagai korban yang berhak membela diri.
Studi menunjukkan bahwa media global memainkan peran penting dalam membentuk narasi konflik melalui framing dan seleksi informasi (Meranti et al., 2024). Selain itu, pemberitaan media Barat sering kali lebih menonjolkan penderitaan Israel dibandingkan Palestina, serta menyebarkan informasi yang tidak selalu diverifikasi secara kritis (Daher, 2024). Hal ini menunjukkan bahwa media bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga aktor dalam reproduksi hegemoni diskursif. Dengan demikian, representasi Palestina dalam konflik Gaza mencerminkan bagaimana orientalisme bekerja dalam membentuk persepsi global.
V. Iran dalam Narasi Konflik Israel Palestina
Iran juga menjadi objek penting dalam konstruksi orientalisme. Iran sering digambarkan sebagai negara radikal, ancaman global, dan sumber instabilitas di Timur Tengah. Representasi ini memperkuat narasi Barat tentang perlunya intervensi dan pengawasan terhadap kawasan tersebut. Dalam konteks konflik Gaza, Iran diposisikan sebagai aktor yang memperburuk konflik melalui dukungannya terhadap kelompok perlawanan. representasi ini sering kali mengabaikan kompleksitas politik regional serta kepentingan strategis yang melatarbelakangi kebijakan Iran. Narasi yang menyederhanakan Iran sebagai ancaman semata merupakan bagian dari strategi diskursif untuk mempertahankan dominasi Barat. Dengan membangun citra negatif terhadap Iran, Barat dapat melegitimasi kebijakan luar negeri dan intervensi politiknya di kawasan Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa orientalisme tidak hanya berfungsi dalam representasi budaya, tetapi juga dalam praktik politik global.
VI. Relevansi Orientalisme dalam Konflik Kontemporer
Meskipun dikembangkan pada akhir abad ke-20, teori orientalisme tetap relevan dalam memahami konflik kontemporer seperti Gaza. Orientalisme terus hidup dalam bentuk baru melalui media global, teknologi digital, dan produksi informasi yang semakin masif. Narasi tentang Timur sebagai ancaman masih sering digunakan untuk membenarkan kebijakan politik dan militer Barat. Perkembangan media sosial tidak serta-merta menghapus bias orientalis, melainkan justru dapat memperkuatnya melalui penyebaran informasi yang tidak seimbang. Di sisi lain, munculnya media alternatif dan gerakan solidaritas global mulai menantang dominasi narasi Barat dengan menghadirkan perspektif yang lebih beragam. Hal ini menunjukkan bahwa hegemoni diskursif tidak bersifat absolut, tetapi terus diperebutkan dalam ruang publik global.
VII. Kesimpulan
Konflik Gaza tidak hanya merupakan konflik militer, tetapi juga konflik diskursus yang melibatkan perebutan makna dan legitimasi. Melalui teori orientalisme, dapat dipahami bahwa representasi terhadap Palestina dan Iran tidak terlepas dari konstruksi wacana yang dibentuk oleh Barat. Hegemoni diskursif bekerja melalui media, pengetahuan, dan narasi yang cenderung memihak kepentingan politik tertentu. Teori orientalisme tetap relevan untuk membongkar bias dalam narasi global serta mengungkap relasi kekuasaan yang tersembunyi di balik representasi konflik. Bagi penulis sikap kritis dalam memahami informasi dan narasi yang berkembang itu sangat diperlukan guna menghindari jebakan konstruksi hegemonik yang menyesatkan.
Daftar Pustaka
Atran, S., Rodriguez-Gómez, L., Yilmaz, K., & Gómez, Á. (2025). How Gaza Sees the 2023–2025 War and the Future of the Israel-Palestine Conflict. New England Journal of Public Policy, 37(1).
Cipta, S. E., & Kurniawan, P. (2025). Meninjau kembali pemikiran Edward Said tentang studi orientalisme dalam pandangan poskolonial. Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial, 2(3), 292–301.
Daher, J. (2024). Orientalism, imperialism and the Western coverage of Palestine. Al Jazeera.
Freilich, C. (2023). The US, Israel, and the Ongoing War in Gaza. Institute for National Security Studies.
Krieg, A. (2024). The war in Gaza, the decline of US leadership and the emergence of a networked regional order. Taylor & Francis.
Meranti, Isa, D., & Silviana, I. (2024). Masters of the narrative: Culture and power in global media’s take on Palestine-Israel conflict. Communications, 6(2), 180–196.
Said, E. W. (1978). Orientalism. Pantheon Books.
