Konten dari Pengguna

Ekonomi RI Dipangkas Dunia: Apa Artinya Buat Kita?

Andri Yudhi Supriadi

Andri Yudhi Supriadi

Alumni Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia, pemerhati sosial ekonomi

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Yudhi Supriadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi RI_AIGenerated
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi RI_AIGenerated

Bayangkan kamu sedang berlayar dengan kapal besar bernama “Ekonomi Indonesia.” Awalnya, cuaca tampak cerah. Kapten kapal—dalam hal ini pemerintah—yakin arah angin akan mendorong kapal melaju cepat, bahkan menargetkan bisa menembus pertumbuhan 5,2% tahun depan. Tapi tiba-tiba, dari kejauhan, pengamat cuaca seperti Bank Dunia, OECD, dan IMF memberi peringatan: arah angin berubah. Cuaca tak secerah itu. Ketiganya kompak memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia jadi 4,7%. Sekilas, perbedaan 0,5 persen mungkin tampak kecil, tapi dalam skala ekonomi nasional, itu bisa berarti ratusan ribu lapangan kerja yang tak tercipta, pendapatan negara yang terpangkas, hingga peluang investasi yang melayang.

Lalu, apa artinya buat kita? Apakah ini pertanda badai? Atau hanya hembusan angin kencang yang bisa kita atasi bersama?

Pertumbuhan Kita Melambat, Bukan Mandek

Data terbaru dari BPS menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 4,87% pada kuartal I 2025. Angka ini memang masih positif, tapi menurun dibanding kuartal-kuartal sebelumnya yang konsisten di atas 5%. Bahkan, secara kuartalan, ekonomi kita mengalami kontraksi sebesar 0,98%. Artinya, roda ekonomi kita seperti sedang menginjak rem pelan-pelan.

Kenapa ini terjadi? Ternyata jawabannya tidak sesederhana ‘karena ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja’. Ada faktor-faktor lain yang ikut menekan dari dalam negeri, yang kadang luput dibahas dalam perbincangan publik.

Ada yang Terlihat, Ada yang Terabaikan

Kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi, biasanya yang langsung disorot adalah ekspor dan konsumsi. Benar, dua hal ini memang penting. Tapi ada beberapa faktor lain yang diam-diam memegang peran besar.

Misalnya, investasi swasta. Laporan OECD menyebutkan bahwa lesunya investasi di kuartal awal 2025 jadi salah satu alasan kenapa proyeksi pertumbuhan diturunkan. Ini sinyal serius, karena tanpa investasi yang cukup, lapangan kerja sulit tumbuh dan produktivitas tidak naik.

Lalu ada soal konsumsi rumah tangga. Di satu sisi, tingkat pengangguran kita memang turun ke 4,76%—salah satu yang terendah dalam dua dekade terakhir. Tapi di sisi lain, pertumbuhan konsumsi mulai melambat. Ini bisa jadi karena upah yang stagnan, atau tekanan inflasi yang diam-diam menggerogoti daya beli, walau secara resmi inflasi kita masih terkendali di angka 1,60%.

Dan satu lagi: kita terlalu tergantung pada komoditas. Saat harga batu bara, CPO, dan nikel lesu, penerimaan negara pun ikut melemah. Belanja pemerintah tetap tinggi, terutama untuk IKN dan program bantuan sosial, sehingga defisit anggaran diperkirakan melebar hingga 2,5% dari PDB. Tanpa reformasi fiskal, ini bisa jadi beban di tahun-tahun mendatang.

Tantangan Tak Selalu Buruk

Meski banyak tantangan, bukan berarti situasinya suram. Justru, revisi proyeksi ini bisa jadi momen untuk merefleksi dan memperbaiki strategi pembangunan.

Ada beberapa hal yang patut kita syukuri. Pertama, inflasi masih terkendali. Kedua, Bank Indonesia sudah mulai menurunkan suku bunga untuk merangsang konsumsi dan investasi. Ketiga, lapangan kerja masih tumbuh, meski perlahan.

Tapi agar tetap di jalur yang sehat, kita perlu memperbaiki beberapa hal. Terutama soal iklim investasi yang ramah bagi swasta, deregulasi yang konsisten, dan reformasi perpajakan agar fiskal tetap kuat meski pendapatan dari komoditas melemah.

Jangan Lengah, Ini Momen Kritis

Yang jadi soal bukan hanya soal angka. Target 5,2% memang bukan mustahil, tapi akan sulit dicapai kalau tidak ada dorongan kuat dari sektor yang selama ini belum optimal. Kita perlu membuka jalan lebih lebar bagi investasi produktif, meningkatkan kualitas SDM lewat pendidikan dan pelatihan vokasi, serta menjaga kepercayaan pasar lewat stabilitas kebijakan.

Jangan sampai optimisme dalam negeri tidak sejalan dengan pembacaan pasar global. Kalau ekspektasi tidak realistis, dampaknya bisa muncul dalam bentuk kepercayaan investor yang menurun, atau tekanan fiskal yang makin berat.

Waktunya Membenahi Mesin Pertumbuhan

Revisi angka ekonomi dari lembaga internasional bukan sekadar kabar buruk. Ini seperti cermin, yang mengajak kita merenung: sudahkah arah kita benar? Masihkah strategi kita relevan dengan tantangan hari ini?

Saatnya berbenah. Target pertumbuhan 5,2% bukan sekadar angka, tapi harapan bahwa kita bisa tumbuh lebih kuat dan merata. Namun harapan itu butuh fondasi yang kokoh dan kebijakan yang tepat.

Ekonomi bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling siap menghadapi jalan terjal. Kabar baiknya, kita masih punya waktu. Asal kita mau fokus, jaga stabilitas, dan pelan-pelan memperkuat mesin di balik laju ini.

Indonesia bisa tetap melaju. Tapi kali ini, bukan dengan berharap angin membantu. Kita harus mendayung sendiri dengan arah yang jelas, dan tenaga yang sungguh-sungguh.