Ketidakpastian AS dan Utang China Pengaruhi Ekonomi Asia

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ilustrasi aktivitas bongkar muat. (Foto: Dok. priokport.co.id)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi aktivitas bongkar muat. (Foto: Dok. priokport.co.id)

Dua lembaga pembiayaan internasional yakni Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia memprediksi ekonomi Asia masih dibayangi ketidakpastian stimulus fiskal Amerika Serikat (AS) dan pertumbuhan utang domestik China yang pesat.

Deputi Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Mitsuhiro Furusawa mengatakan meskipun ekonomi kawasan Asia akan menjadi yang terkuat di dunia pada tahun ini, setimen eksternal diprediksi masih akan terus mengancam.

“Asia Terus menjadi pemimpin dalam pertumbuhan ekonomi dunia, karena didukung oleh permintaan dari luar yang sangat kuat dan kebijakan fiskal maupun moneter yang akomodatif,” katanya, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (6/6).

[Baca juga: Tingkat Pengangguran di AS Turun Jadi 4,3 Persen, Terendah Sejak 2001]

Mitsuhiro menyoroti ketergantungan China pada penyaluran kredit domestiknya. Dia khawatir, di tengah proses reorientasi ekonomi dari industri ekspor menjadi jasa dan konsumsi, potensi terjadinya gelembung (buble) kredit terus terbuka lebar.

Alhasil, laju pemulihan ekonomi yang tengah digenjot oleh pemerintah China akan terganggu atau terhenti.

[Baca juga: RI Naik Peringkat Daftar Negara Paling Kompetitif di Dunia]

Terkait sentimen dari AS, selain rencana stimulus fiskal Presiden Donald Trump yang belum jelas, kenaikan bertahap suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) juga diprediksi akan membebani ekonomi negara berkembang di Asia, salah satunya Indonesia.

Furusawa mencatat kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan dapat membuat nilai tukar dolar AS terlalu kuat terhadap mata uang Asia lainnya. Akibatnya, beban utang negara-negara berkembang Asia dalam bentuk dolar AS akan melambung tinggi.

Meski demikian, Presiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan perekonomian di Kawasan Asia masih cukup kuat. Pemulihan ekonomi yang tengah berlangsung juga diikuti dengan reformasi kelembagaan dan investasi sumber daya manusia.

"Sudah terlalu lama kami telah melihat pertumbuhan yang rendah menghambat kemajuan dalam pengentasan kemiskinan, jadi sangat menggembirakan melihat tanda-tanda bahwa ekonomi global semakin menguat," ujarnya.