Sebesi, Gerbang Krakatau yang Menolak Jadi Ghost Island

Kepala Liputan Khusus kumparan. Senang berjalan-jalan, melihat-lihat, dan menulis. Berharap masa depan yang lebih baik bagi negeri dan bumi.
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Anggi Kusumadewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebesi. Pulau seluas ±26 km² di utara Selat Sunda ini berdiri di antara Lampung Selatan dan Kepulauan Krakatau. Ia gerbang dan titik perlintasan utama menuju Anak Krakatau. Pulau berpenghuni terdekat dengan gunung itu—dan salah satu yang pertama terdampak erupsinya.
Sebesi dua kali dihantam tsunami, namun selalu dihuni kembali. Di tengah pulau, gunung yang kokoh menjulang, membentengi warga Sebesi dari ganasnya ombak.
Minggu, 16 Agustus 2026, kami berlabuh di Sebesi. Dan yang pertama kali saya pikirkan: mana makanan? Saya lapar.
Panas menyengat. Suhu di Dermaga Sebesi siang itu 33°C namun terasa seperti 40°C. Kapal kami bersandar menjelang pukul 13.00 saat cuaca sedang terik-teriknya. Pun demikian, rasa gerah kalah oleh rasa lapar. Turun dari kapal, kami segera menuju rumah penduduk yang disulap jadi pondok makan prasmanan.
Semua suguhan tersaji sederhana dan masih hangat, melipatgandakan selera makan kami. Sekilas, pondok makan itu lebih mirip dapur umum ketimbang rumah makan. Aneka masakan dihidangkan di meja panjang yang diletakkan di teras rumah warga, dengan terpal biru dibentangkan di atasnya sebagai tenda penghalau terik.
Nasi hangat, tempe, ikan, sayur asam, sambal, kerupuk—semua sederhana namun amat lezat. Kami menyantap rakus sembari duduk bersebelahan di kursi hijau khas acara hajatan. Tak ada meja makan. Piring kami pegang sambil menyuap sampai isinya ludes. Betul-betul seperti sedang menghadiri kondangan—namun tanpa busana formal.
Di seberang tenda makan, seorang ibu sibuk menggoreng ikan. Aromanya menyebar di udara terbuka. Ikan itulah yang kemudian kami lahap. Luar biasa sedap. Makan sambil melihat lauk dimasak—semacam konsep open kitchen nan autentik. Menariknya, ibu juru masak tak menggoreng dengan kompor, melainkan tungku. Tak perlu elpiji, cukup potongan bambu untuk menyalakan api.
Setelah wareg, kami membasuh diri dan mengaso di rumah warga sembari menunggu waktu keberangkatan ke Kepulauan Krakatau.
Pada hari-hari libur panjang alias long weekend, kapal-kapal silih berganti merapat ke Sebesi. Ada kapal yang baru datang dari Dermaga Canti, Lampung Selatan; kapal yang akan berangkat ke Pulau Umang-Umang yang hanya sepelemparan batu dari Sebesi; serta kapal yang hendak bertolak ke Anak Krakatau.
Dan hari saat kami datang adalah salah satu dari long weekend itu. Para pemandu lokal berseliweran dan berkoordinasi dengan penduduk yang rumahnya disulap jadi rumah makan serta penginapan. Motor dan pikap mengantar jemput para pelancong dari dermaga ke penginapan dan sebaliknya.
Sebesi supersibuk. Warganya bahu-membahu menerima seribu lebih pengunjung dalam tiga hari libur panjang yang bertepatan dengan momen 17 Agustus. Bagaimanapun, kunjungan wisatawan adalah pemasukan tambahan. Seisi pulau bak berbagi peran dan berbagi rezeki.
Dalam suasana hektik itu, rumah-rumah penduduk jadi pusat pelayanan dan homestay. Ya, tak ada hotel, vila, atau resor di Sebesi. Akomodasi di pulau itu dikelola gotong royong. Fasilitasnya serbasederhana. Dengan menjadikan rumah warga sebagai penginapan, roda ekonomi dari sektor pariwisata berputar langsung di antara mereka.
Tak ada pembangunan properti komersial seperti hotel dan resor di Sebesi karena lokasi geografisnya yang berdekatan dengan Anak Krakatau, gunung berapi aktif di Selat Sunda. Dengan jarak 10-20 km dari Anak Krakatau, Sebesi masuk zona rawan bencana sehingga berisiko tinggi bagi investasi skala besar.
Diterjang Tsunami Dua Kali
Kapal motor kayu yang kami tumpangi perlu waktu sekitar dua jam dari Anak Krakatau ke Sebesi. Namun, gelombang tsunami merambat jauh lebih cepat tanpa peringatan.
Sabtu malam, 22 Desember 2018, saat Gunung Anak Krakatau meletus dan memicu runtuhnya lereng bawah lautnya seluas 64 hektare, tsunami menjangkau pulau-pulau terdekat dengan cepat.
Begitu 100-180 juta meter kubik material lereng Gunung Anak Krakatau runtuh ke laut, air laut terdorong hebat dan bergerak menyapu kawasan pesisir pulau-pulau sekitarnya.
Berdasarkan catatan resmi, Anak Krakatau meletus pukul 21.03 WIB, dan gelombang tsunami mencapai pesisir Banten dan Lampung sekitar pukul 21.27 WIB. Sementara Sebesi yang berada lebih dekat ke pusat letusan, jelas diterjang gelombang itu lebih dulu.
Air laut mendadak menerobos daratan Sebesi, naik setinggi kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Tak ada gempa tektonik mendahului seperti yang umum terjadi (pada 80-90% peristiwa tsunami di dunia).
Maka, Tsunami Senyap Selat Sunda 2018 yang dipicu rontoknya lereng Anak Krakatau adalah fenomena langka dan berbahaya.
Pulau-pulau di kawasan itu kena hantam tsunami—mulai dari gugusan kaldera Krakatau (Rakata, Sertung, dan Panjang), pulau berpenghuni terdekat (Sebesi), sampai ke pesisir Taman Nasional Ujung Kulon.
Sehari usai tsunami, Minggu 23 Desember 2018, Sebesi lumpuh total. Ia terisolasi dan diterpa hujan abu. Rumah dan perahu di pesisir hancur, dan jaringan listrik serta seluler mati.
Seharian itu, Anak Krakatau terus erupsi. Semburan abu vulkanik tebal dan aroma menyengat belerang menyelimuti Sebesi. Langit berubah kelabu. Air terkontaminasi abu. Laut bak mengamuk. Gelombang tingginya tak bisa ditembus kapal penyelamat.
Sejak malam tsunami, ratusan warga mengungsi ke Gunung Sebesi yang menjulang 844 meter di atas permukaan laut.
Esoknya, Senin 24 Desember 2018, warga masih menanti bantuan. Perangkat desa meminta tenda, makanan, dan bantuan lain secepatnya. Namun Sebesi terisolasi. Angin dan gelombang masih terlalu kencang bagi kapal untuk mendekat. Warga mengkhawatirkan letusan dan tsunami susulan.
Kapal baru bisa mendekat pada Selasa, 25 Desember. Kapal patroli Kemenhub mengangkut 116 warga keluar pulau.
Keesokannya, Rabu 26 Desember, kapal Pelni KM Sabuk Nusantara 66 tiba pagi hari membawa bantuan dan tim medis. Pada hari itu, lebih dari seribu warga diungsikan ke Lampung daratan, menuju posko di Kalianda.
Kamis, 27 Desember, status Anak Krakatau naik menjadi Siaga. Hampir 500 warga yang sebelumnya enggan pergi akhirnya mau dievakuasi. Mereka diangkut kapal TNI AL. Hingga malam itu, sekitar 2.000 dari 2.800-an penduduk Sebesi sudah dievakuasi, sementara ratusan sisanya belum terangkut.
Jumat, 28 Desember, Sebesi kian sunyi. Sebagian besar permukiman warga senyap. Jalanan dan atap rumah tertutup abu vulkanik tebal. Ternak berkeliaran tak tentu arah. Di bibir pantai, deru ombak bersahutan dengan gemuruh Anak Krakatau.
Sebesi bak pulau hantu. Warga baru mulai dipulangkan lebih dari seminggu kemudian.
Itu bukan kali pertama Sebesi sempat menjelma ghost island. Hal serupa, dalam kondisi jauh lebih mengerikan, pernah terjadi usai letusan besar Krakatau. Kala gunung itu—yang merupakan cikal bakal Anak Krakatau—mengamuk hebat pada Senin pagi, 27 Agustus 1883, gelombang tsunami dahsyat dan luncuran awan panas menyapu Sebesi.
Akibatnya, sedikitnya 36.417 orang tewas di Selat Sunda dan sekitarnya. Sebesi termasuk yang terdekat dari pusat letusan. Menurut penelitian BRIN dan UI, tak ada penduduk yang selamat dari tsunami 1883. Permukiman dan perkebunan hancur lebur.
Pulau itu mati suri. Namun, tanahnya makin subur berkat nutrisi abu vulkanik.
Pada 1890-an, lahan Sebesi mulai dibuka kembali. Pun begitu, pulau itu baru benar-benar dihuni lagi setelah 1940-an. Sejak itu, Sebesi berkembang menjadi desa yang tangguh—sampai sekarang.
Gunung yang Membentengi Pulau
Malam sesaat usai tsunami menerjang pada 22 Desember 2018, Gunung Sebesi menjadi tempat warga menyelamatkan diri. Lerengnya yang tinggi dan curam menjauhkan mereka dari jangkauan gelombang, menyisakan ruang aman di tengah krisis.
Hampir semua warga dusun naik ke ketinggian, dan sebagian bertahan berhari-hari di sana sembari menanti bantuan tiba.
Di tengah kecamuk Selat Sunda, Gunung Sebesi yang menjulang di tengah pulau tak ubahnya benteng raksasa—dinding pelindung yang menjaga warga dari amukan laut.
Gunung Anak Krakatau mengamuk, Gunung Sebesi membentengi.
Tak seperti Anak Krakatau yang terus bergejolak, Sebesi tergolong gunung api tua yang tak memiliki catatan letusan dalam sejarah.
Gunung Sebesi menjadi salah satu alasan dihuninya Pulau Sebesi, tidak seperti kebanyakan pulau di Selat Sunda yang tak berpenghuni. Gunung Sebesi adalah sumber air bersih dan tanah subur kaya hara.
Menurut cerita tutur lokal, nama Sebesi kerap dikaitkan dengan kata “besi”—merujuk pada batuan vulkanik hitam pekat yang tersebar di pulau tersebut. Secara geologis, batuan vulkanik ini menjadi bukti kesuburan tanah Sebesi yang kaya akan nutrisi alami.
Konon, sejak era Kesultanan Banten, Sebesi dikenal sebagai pulau yang subur. Ia dikelola para bangsawan dan tokoh adat Lampung yang berafiliasi dengan Kesultanan Banten.
Vegetasi lebat di lereng Sebesi menangkap air hujan dan menyimpannya dalam tanah—menghasilkan aliran air alami dan sungai kecil di kaki gunung.
Sebesi ibarat oasis air tawar. Sementara Kepulauan Krakatau di dekatnya tak punya aliran sungai permanen, Sebesi memiliki sumber air sebagai penopang vital warganya.
Selain itu, material lapukan dari aktivitas vulkanik Gunung Sebesi di masa lampau, plus endapan abu dari letusan Krakatau 1883, menjadikan tanah Sebesi sangat subur.
Kesuburan tanah inilah yang menopang ekonomi warga Sebesi selain sektor perikanan. Di pulau ini, penduduk mengandalkan hasil kebun seperti kakao, kelapa, cengkih, dan pisang yang tumbuh subur melimpah.
Gunung Sebesi yang relatif stabil secara vulkanis menjadikan puncaknya sebagai benteng alam yang aman bagi warga untuk berlindung. Elevasinya pun aman dari terjangan ombak Selat Sunda.
Posisinya menciptakan lekukan pantai dan teluk alami di kaki gunung yang relatif tenang, membuat kapal nelayan bisa bersandar aman. Penduduk pun dapat membangun permukiman tanpa terancam langsung oleh erosi laut harian.
Singkatnya, Gunung Sebesi adalah jantung kehidupan pulau itu. Ia menyediakan air bersih untuk diminum, tanah subur untuk bercocok tanam, dan daratan tinggi untuk berlindung.
Istimewanya lagi, Gunung Sebesi terlihat memesona dari seberang, terutama dari Pulau Umang-Umang yang berjarak sejengkal saja darinya—sekitar 500 meter sampai 1 km.
Hanya dengan berperahu 5-10 menit ke Umang-Umang di sisi selatan, lanskap megah Gunung Sebesi terhampar utuh. Pemandangan ini menjadi salah satu andalan pariwisata Lampung Selatan.
Memandang kecantikan murni Gunung Sebesi yang berpadu dengan biru jernih air laut, bahaya seolah menjauh. Yang terasa hanya ketenangan dan keteduhan.
Siapa sangka, pulau seelok—meski seterik—itu berperan kritis sebagai Gerbang Krakatau.
Hidup Bersama Bahaya
“Jangan tidur enak-enak (terlalu nyenyak) kalau sudah tercium bau-bauan,” itu nasihat yang didengungkan para orang tua di Sebesi kepada anak-anak mereka.
Bau-bauan yang dimaksud adalah bau belerang yang menyengat dari Anak Krakatau. Gas sulfur itu biasanya keluar terus-menerus melalui fumarol—lubang-lubang rekahan kawah.
Ketika tekanan di dapur magma meningkat, konsentrasi sulfur yang terlepas ke udara akan melonjak tajam. Dan arah angin Selat Sunda kerap membawa sebaran gas vulkanik itu melintasi perairan sampai ke Pulau Sebesi.
Maka, bagi masyarakat Sebesi, bau pekat belerang adalah petunjuk alam bahwa aktivitas vulkanik di Anak Krakatau sedang meningkat. Penduduk di pesisir Sebesi yang mencium aroma tajam itu lantas menginfokan kepada warga lainnya—yang kemudian sebagian akan berjaga dan tidak tidur.
Kewaspadaan itu belum terlalu lama bertumbuh. Peneliti BRIN Devi Riskianingrum pernah memaparkan perubahan cara pandang warga Sebesi terhadap Anak Krakatau dalam diskusi daring bertajuk “Mengenang Letusan Krakatau 1883: Pengetahuan Lokal dan Upaya Pengurangan Risiko Bencana di Selat Sunda” pada 27 Agustus 2021.
Sebelum 2018, kata Devi, bau belerang, hujan abu, dan dentuman konstan dianggap hal biasa, bukan ancaman. Warga menyebutnya “batuk” si Anak Krakatau. Gunung itu dipandang sebagai berkah: wisatawan datang ingin melihatnya, dan warga mendapat penghasilan tambahan.
Ingatan kolektif akan letusan Krakatau 1883 pun nyaris nihil. Tak ada cerita yang diwarisi dari leluhur, sebab warga Sebesi kebanyakan pendatang.
Semua berubah usai Tsunami 2018. Tak ada peringatan resmi, dan tak ada gempa mendahului. Menurut penuturan Devi, sebagian warga melihat air laut surut dan langsung terbayang Tsunami Aceh 2004. Mereka berteriak “tsunami” dan berlari ke tempat yang lebih tinggi: Gunung Sebesi.
Refleks evakuasi itu menyelamatkan hampir seluruh warga. Penelitian BRIN dan UI menyebut tsunami 2018 hanya merenggut satu korban jiwa di Sebesi meski rumah-rumah dan perahu-perahu di pesisir pulau itu hancur; meski Sebesi lebih dulu kena hantam tsunami sebelum gelombangnya mencapai pesisir Banten dan Lampung.
Rasa trauma itu menetap. Sejak itu, menurut Devi, warga Sebesi juga memandang Anak Krakatau sebagai ancaman. Namun, mereka bertahan karena lahan dan rumah mereka ada di sana. Warga pun merespons ketakutan mereka dengan kewaspadaan sekaligus kepasrahan: ajal bisa menjemput di mana saja.
Kewaspadaan membuat masyarakat Sebesi memperhatikan alam, termasuk ombak. Ada orang tua yang tiap hari mengamati gelombang, terutama saat purnama. Ia dijuluki “datuk ombak”. Kesadaran itulah yang kini diwariskan kepada anak-anak Sebesi.
Mendengar cerita itu, dalam bayangan saya warga Sebesi seperti “penjaga” Selat Sunda—yang terdepan dalam merasakan denyut nadi Krakatau di dekat mereka.
“Sudah biasa,” kata seorang penduduk lokal soal bahaya yang mengintai mereka.
Nada suaranya sama sekali tak meremehkan.
Kini, setiap mendengar kabar Anak Krakatau kembali erupsi, saya mengingat Sebesi dengan takzim.
Pulau itu bukan sekadar gerbang menuju Anak Krakatau. Ia tempat manusia-manusia tangguh memeluk alam apa adanya.
Di antara kepulan asap tungku dapur, dentuman berulang di kejauhan, dan bau belerang yang sewaktu-waktu menyergap, warga Sebesi mengajarkan satu hal sederhana: keberanian bukanlah ketakutan yang hilang, melainkan kewaspadaan yang berpadu dengan kepasrahan.
***
Referensi:
Badan Geologi/PVMBG, ESDM (2018): Rilis letusan dan tsunami Selat Sunda
Simkin & Fiske (1983): Krakatau 1883: The Volcanic Eruption and Its Effects
Oregon State University: Describe the 1883 eruption of Krakatau
Carey dkk. (1996): Pyroclastic flows and surges over water: An example from the 1883 Krakatau eruption, Bulletin of Volcanology
Riskianingrum dkk. (2022): The fading of disaster memory in Pulau Sebesi: A historical construction, E3S Web of Conferences
Riskianingrum dkk. (2024): Risk Culture on Sebesi Island, Proceedings of the Critical Island Studies 2023 Conference (CISC 2023), Atlantis Press
Databoks dan ESDM (2026): Laporan erupsi Anak Krakatau, Agustus-September 2026
