Bukan Sekadar Cuan: Kesehatan Mental dan Ketenangan Finansial dalam Perspektif Ekonomi Syariah

Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Ekonomi Syariah
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Anisa Nurrahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kesehatan Mental, Ekonomi Syariah, Tekanan Finansial, Literasi Keuangan, Generasi Muda, Kesejahteraan Finansial, Gaya Hidup Konsumtif, Maqashid Syariah.

Di tengah perkembangan zaman, keberhasilan seseorang sering kali dikaitkan dengan kondisi ekonominya. Memiliki penghasilan besar, membeli barang yang sedang tren, menggunakan produk bermerek, hingga menikmati gaya hidup tertentu seolah menjadi ukuran keberhasilan. Kondisi ini semakin terlihat melalui media sosial yang sering menampilkan kehidupan orang lain dari sisi yang menyenangkan.
Namun, ada satu hal yang terkadang terlupakan, yaitu kesehatan mental. Tidak sedikit orang yang merasa tertekan karena kondisi keuangannya belum sesuai dengan harapan. Ada yang merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain, ada pula yang memaksakan diri memenuhi keinginan meskipun kondisi keuangannya belum memungkinkan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi bukan hanya berkaitan dengan pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga dapat berhubungan dengan kondisi psikologis seseorang. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa kesejahteraan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjalani kehidupannya secara seimbang.
Tekanan Finansial dan Kesehatan Mental Generasi Muda
Generasi muda saat ini menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan ekonomi. Kemudahan berbelanja secara online, penggunaan layanan keuangan digital, serta tren gaya hidup di media sosial dapat memengaruhi cara seseorang mengelola keuangannya.
Salah satu contohnya adalah kebiasaan membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena mengikuti tren atau ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosial. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut dapat membuat pengeluaran menjadi tidak terencana dan menimbulkan tekanan finansial.
Persoalan kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, prevalensi depresi pada penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mencapai 1,4 persen. Sementara itu, pada kelompok usia 15–24 tahun, prevalensinya mencapai 2 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan mental pada kelompok usia muda merupakan persoalan yang perlu diperhatikan. Meskipun angka tersebut tidak membuktikan bahwa tekanan finansial menjadi penyebab langsung depresi, kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun lingkungan kehidupan yang mendukung kesejahteraan generasi muda.
Dalam kehidupan sehari-hari, masalah keuangan seperti kesulitan memenuhi kebutuhan, pengeluaran yang tidak terkendali, dan ketidakmampuan mengatur prioritas dapat menjadi salah satu sumber tekanan. Karena itu, kemampuan mengelola keuangan perlu menjadi bagian dari pengetahuan yang dimiliki generasi muda.
Ekonomi Syariah Bukan Hanya tentang Keuntungan
Selama ini, ekonomi syariah sering kali dipahami sebatas kegiatan perbankan, transaksi halal, larangan riba, dan pembagian keuntungan. Padahal, cakupan ekonomi syariah jauh lebih luas karena juga membahas bagaimana manusia memperoleh, menggunakan, dan mengelola harta secara bertanggung jawab.
Dalam perspektif Islam, harta merupakan amanah yang harus dimanfaatkan dengan baik. Artinya, seseorang tidak dianjurkan untuk menghamburkan harta demi memenuhi keinginan yang berlebihan. Sebaliknya, Islam mengajarkan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan pribadi, menjalankan tanggung jawab sosial, dan memperhatikan kepentingan akhirat.
Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Furqan ayat 67, yang mengajarkan bahwa dalam membelanjakan harta, manusia tidak boleh berlebihan dan tidak pula terlalu kikir, melainkan berada di antara keduanya.
Prinsip tersebut dikenal dengan keseimbangan atau wasathiyah. Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini mengajarkan kita untuk memahami batas kemampuan finansial, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta tidak memaksakan gaya hidup hanya untuk mendapatkan pengakuan orang lain.
Selain itu, konsep maqashid syariah, khususnya hifz al-nafs atau menjaga jiwa, juga dapat menjadi landasan dalam membahas kesejahteraan manusia. Dalam konteks ini, menjaga kehidupan dan kesehatan manusia merupakan bagian penting dari tujuan syariah.
Dengan demikian, ekonomi syariah tidak hanya berorientasi pada keuntungan materi, tetapi juga memperhatikan nilai kemaslahatan, keadilan, dan keseimbangan dalam kehidupan manusia.
Literasi Keuangan Syariah sebagai Bekal Menjaga Ketenangan
Salah satu hal yang perlu diperkuat oleh generasi muda adalah literasi keuangan. Kemampuan mengelola uang bukan hanya tentang mengetahui jumlah pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga memahami risiko dari setiap keputusan keuangan.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang dilakukan OJK bersama BPS, indeks literasi keuangan syariah masyarakat Indonesia mencapai 39,11 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan syariah mencapai 12,88 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah masih perlu ditingkatkan. Padahal, literasi keuangan syariah penting agar masyarakat tidak hanya memahami produk keuangan, tetapi juga mengetahui prinsip dan tanggung jawab di balik setiap transaksi.
Bagi mahasiswa dan generasi muda, literasi keuangan dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana, seperti menyusun anggaran bulanan, menyisihkan uang sesuai kemampuan, menghindari pengeluaran impulsif, serta memahami konsekuensi sebelum mengambil keputusan keuangan.
Selain itu, nilai-nilai ekonomi syariah dapat diterapkan dengan memilih transaksi yang sesuai prinsip syariah, menghindari praktik yang mengandung riba, serta membiasakan perilaku konsumsi yang tidak berlebihan.
Kebiasaan tersebut memang tidak secara otomatis menghilangkan seluruh persoalan kesehatan mental. Namun, pengelolaan keuangan yang lebih terencana dapat membantu seseorang menghadapi kebutuhan ekonomi dengan lebih bijaksana.
Kesejahteraan Bukan Hanya tentang Seberapa Banyak Harta
Pada akhirnya, kita perlu mengubah cara pandang mengenai arti keberhasilan. Memiliki penghasilan besar memang penting untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi bukan berarti seseorang harus selalu mengikuti standar kehidupan orang lain.
Dalam perspektif ekonomi syariah, kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan harta, tetapi juga bagaimana harta tersebut diperoleh dan dimanfaatkan untuk menciptakan kemaslahatan.
Kesehatan mental juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari kehidupan yang seimbang. Ketika menghadapi persoalan finansial maupun tekanan psikologis, seseorang tidak perlu merasa malu untuk mencari dukungan dari keluarga, lingkungan yang dipercaya, ataupun tenaga profesional.
Sebagai generasi muda, kita perlu memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling kaya atau siapa yang memiliki gaya hidup paling tinggi. Ada tanggung jawab yang lebih penting, yaitu bagaimana menjalani kehidupan sesuai kemampuan, mengelola harta dengan bijaksana, dan tetap memperhatikan kesejahteraan diri sendiri.
Sebab, keberhasilan bukan sekadar tentang seberapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu mengelolanya dengan baik tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan, tanggung jawab, dan ketenangan hidup.
