Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen: Mengapa Daya Beli Masyarakat Masih Jadi Sorotan?

Mahasiswa Unpam Viktor dan bekerja di Instansi Sekolah Citra Alam sebagai Shadow Teacher
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nita Ardianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayangkan seseorang menerima kabar bahwa ekonomi Indonesia tumbuh lebih dari 5 persen. Angka tersebut tentu terdengar menggembirakan. Namun, ketika orang yang sama pergi ke pasar, membayar kebutuhan rumah tangga, membeli makanan, membayar transportasi, hingga memenuhi kebutuhan pendidikan anak, pertanyaan yang muncul bisa berbeda: “Kalau ekonomi tumbuh, mengapa pengeluaran sehari-hari berat?"

Pertanyaan sederhana tersebut menjadi penting dalam melihat pembangunan ekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan ekonomi memang menjadi salah satu indikator utama keberhasilan perekonomian. Akan tetapi, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan dalam tingkat yang sama.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, pertanyaan mengenai daya beli masyarakat tetap relevan karena pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup.
Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Berarti Daya Beli Meningkat
Salah satu komponen penting dalam perekonomian adalah konsumsi rumah tangga. Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen secara tahunan. Artinya, konsumsi masyarakat tetap tumbuh dan masih menjadi bagian penting dalam menjaga aktivitas ekonomi.
Namun, pertumbuhan konsumsi perlu dilihat lebih jauh. Masyarakat dapat tetap berbelanja bukan hanya karena pendapatannya meningkat, tetapi juga karena kebutuhan hidup harus terus dipenuhi.
Di sinilah perbedaan antara pertumbuhan ekonomi dan daya beli menjadi penting.
Daya beli berkaitan dengan kemampuan masyarakat memperoleh barang dan jasa menggunakan pendapatan yang dimiliki. Jika pendapatan meningkat tetapi harga kebutuhan pokok dan biaya hidup juga meningkat, peningkatan pendapatan tersebut belum tentu menghasilkan peningkatan daya beli yang besar.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, masih berada dalam kisaran sasaran inflasi. Namun, kelompok volatile food mengalami inflasi 4,06 persen secara tahunan, dengan beberapa komoditas pangan seperti beras, cabai rawit, dan daging ayam turut memberikan tekanan.
Bagi rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah, perubahan harga kebutuhan sehari-hari memiliki dampak yang lebih terasa karena sebagian besar pendapatan digunakan untuk kebutuhan konsumsi.
Dengan demikian, meskipun inflasi secara umum masih terkendali, pengalaman masyarakat terhadap biaya hidup dapat berbeda-beda.
Konsumen Indonesia Masih Optimistis, tetapi Tetap Perlu Diperhatikan
Gambaran mengenai daya beli tidak seluruhnya negatif. Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level 118,5, meningkat dari 116,8 pada Juli 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa secara agregat konsumen masih berada dalam zona optimistis terhadap kondisi ekonomi. Artinya, masyarakat secara umum masih memiliki keyakinan terhadap kondisi ekonomi dan prospek ke depan.
Namun, optimisme konsumen tidak berarti seluruh kelompok masyarakat menghadapi kondisi ekonomi yang sama.
Dewan Ekonomi Nasional dalam laporan September 2026 menyebutkan bahwa konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tetapi tekanan daya beli masyarakat menengah bawah meningkat. Temuan ini menunjukkan adanya persoalan distribusi manfaat pertumbuhan ekonomi.
Ekonomi dapat tumbuh secara nasional, tetapi manfaat pertumbuhan tersebut dapat dirasakan secara berbeda berdasarkan pendapatan, jenis pekerjaan, lokasi tempat tinggal, serta akses masyarakat terhadap kesempatan ekonomi.
Dari Pertumbuhan Menuju Pembangunan yang Inklusif
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada peningkatan angka PDB. Pertumbuhan perlu dikaitkan dengan perubahan kualitas hidup masyarakat.
Investasi, misalnya, memang memiliki peran penting. Investasi dapat meningkatkan kapasitas produksi, membuka lapangan pekerjaan, mendorong pembangunan infrastruktur, dan meningkatkan penerimaan negara maupun daerah.
Namun, pembangunan menjadi lebih bermakna ketika investasi tersebut mampu menciptakan pekerjaan yang produktif dan memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk meningkatkan pendapatan.
Hal yang sama berlaku pada pembangunan infrastruktur. Jalan, kawasan industri, pelabuhan, bendungan, dan berbagai fasilitas publik memang penting bagi aktivitas ekonomi. Tetapi pembangunan fisik perlu berjalan beriringan dengan pembangunan manusia.
Pendidikan, keterampilan kerja, kesehatan, akses pembiayaan, dan kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan teknologi merupakan bagian penting dari pembangunan ekonomi jangka panjang.
Indonesia juga menghadapi tantangan pemerataan pembangunan. BPS mencatat bahwa Pulau Jawa masih mendominasi struktur ekonomi Indonesia dengan kontribusi 56,47 persen pada triwulan II 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih terkonsentrasi cukup besar di Jawa.
Karena itu, pembangunan di luar Jawa tetap memiliki arti strategis. Penguatan infrastruktur, konektivitas, industri pengolahan, UMKM, pertanian, perikanan, pariwisata, dan ekonomi digital di berbagai daerah dapat menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi.
Daya Beli Harus Menjadi Bagian dari Strategi Pembangunan
Jika pemerintah ingin memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan dampak yang lebih luas, persoalan daya beli perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan.
Pertama, stabilitas harga pangan harus terus dijaga. Pangan merupakan kebutuhan dasar yang langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Kedua, penciptaan lapangan kerja perlu diarahkan bukan hanya pada jumlah pekerjaan, tetapi juga kualitas pekerjaan. Pendapatan yang stabil dan produktivitas tenaga kerja merupakan faktor penting dalam memperkuat konsumsi rumah tangga.
Ketiga, UMKM perlu memperoleh ruang untuk berkembang. UMKM tidak hanya berperan sebagai unit usaha, tetapi juga sebagai sumber pendapatan dan lapangan kerja bagi masyarakat.
Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi investasi jangka panjang. Pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri dapat membantu masyarakat memperoleh pekerjaan yang lebih produktif.
Kelima, pembangunan perlu semakin memperhatikan pemerataan antardaerah. Pertumbuhan ekonomi nasional akan lebih kuat jika berbagai wilayah memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjadi pusat kegiatan ekonomi.
Pertumbuhan Ekonomi Bukan Tujuan Akhir
Pada akhirnya, angka pertumbuhan ekonomi tetap penting. Pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II 2026 menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia mampu mempertahankan ekspansinya. Konsumsi rumah tangga juga tetap tumbuh dan keyakinan konsumen berada pada level optimistis.
Namun, angka pertumbuhan tidak seharusnya menjadi satu-satunya cara untuk menilai keberhasilan pembangunan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pertumbuhan tersebut meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup lebih layak? Apakah pekerjaan yang tercipta memberikan pendapatan yang memadai? Apakah pembangunan mampu memperkecil kesenjangan antarwilayah dan antarkelompok masyarakat?
Inilah tantangan pembangunan Indonesia ke depan.
Ekonomi yang tumbuh merupakan modal penting, tetapi pembangunan yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan. Ia membutuhkan kesempatan kerja, harga yang terjangkau, kualitas sumber daya manusia, pemerataan, serta kemampuan masyarakat untuk menikmati hasil pembangunan.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan ekonomi bukan hanya tentang seberapa tinggi angka pertumbuhan tercatat dalam laporan statistik. Keberhasilan pembangunan juga dapat dilihat dari seberapa jauh masyarakat merasakan perubahan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
