Konten dari Pengguna

Menikah di 'Malam Songo': Islam dan Tradisi Masyarakat Jawa

Ardiyani Sekarningrum

Ardiyani Sekarningrum

Member of Muhammadiyah Student Association Junior Researcher at Surabaya Academia Forum

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ardiyani Sekarningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Allah SWT menciptakan manusia hidup berpasangan-pasangan antara pria dengan wanita dan melarang manusia untuk hidup melajang. Menengok pada masa sebelum disahkannya Undang-Undang Perkawinan, hukum yang digunakan dalam hal perkawinan di Indonesia sangat beragam. Apalagi dikalangan umat Islam yang merujuk pada kitab-kitab fikih ulama terdahulu. Tentu dalam memahaminya juga berbeda-beda. Hal ini membuat banyaknya permasalahan yang akan terjadi dimasyarakat.

Realitas Idul Fitri

Kebijakan para wali dalam menyebarkan ajaran Islam di Jawa antaranya dapat dilihat dari bagaimana mereka tidak menghancurkan tradisi yang telah ada bahkan justru tradisi yang telah ada tersebut disesuaikan dengan ajaran atau syariat Islam. Realitas tersebut di atas menjadikan tanah Jawa sebagai daerah yang sangat banyak menyimpan tradisi dengan seluruh warna- warninya dan melestarikannya secara dinamis dalam rentang waktu cukup panjang bahkan hingga sekarang.

Hari raya Idul Fitri erat kaitannya dengan keislaman. Pada zaman dahulu, orang Islam Jawa tradisional tidak mengenal sholat Idul Fitri. Jika dipotret pada momen penyambutan datangnya bulan Ramadan hingga awal bulan Syawal adalah meriahnya berbagai tradisi yang menjadi ciri khas dari masing-masing daerah di Indonesia. Yakni diantaranya, tradisi megengan dan saling memohon maaf di awal Ramadan. Ada tradisi weweh biasanya ditandai dengan selamatan atau kenduri dan mengirim makanan kepada orang tua. malaman seperti pada akhir-akhir bulan Ramadan. Menjelang Syawal hingga setelah shalat Idul Fitri ada lagi tradisi nyadran atau nyekar (berziarah kubur) nenek moyangnya. Kupatan pada tanggal tujuh Syawal menjadi penutup rangkaian tradisi-tradisi itu.

Ilustrasi masyarakat jawa melakukan kenduri sumber: shutterstock.com

Malam-malam kenduri tersebut disebut dalam Bahasa Jawa dengan istilah ‘malam selikur’, ‘malam selawe’, ‘malam pitu, dan ‘malam songo’. Kenduri pada hari-hari tertentu itu dimaksudkan untuk mengingatkan umat Islam akan datangnya lailatul qodar. Jadi masyarakat hanya mengikuti upacara-upacara tersebut secara tradisi. Diantara malam-malam diatas, salah satu malam yang masih dipercayai adalah malam songo.

Malam Songo dan Anggapan Masyarakat Jawa

Di kalangan masyarakat Jawa menikah di Malam Songo masih menjadi tren bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Selain tradisi masyarakat, hal ini juga berkaitan dengan kepercayaan Agama yang cukup tinggi. Dalam Agama Islam, terdapat keyakinan bahwa salah satu malam lailatul qadar adalah jatuh pada malam ke-29 pada bulan Ramadan. Identitas ‘malam keberkahan’ begitu melekat dengan malam ke-29 pada bulan Ramadan. Identitas ‘malam keberkahan’ pada malam songo kemudian diidentikkan sebagai malam yang baik untuk melakukan berbagai hal-hal baik, termasuk dengan pernikahan. Sehingga dalam satu malam saja terdapat ratusan pasangan calon pengantin yang melaksanakan akad nikah.

Ilustrasi akad nikah sumber: shutterstock.com

Selain itu melaksanakan pernikahan di malam songo tidak perlu menghitung neptu atau hitungan penanggalan Jawa pasangan pengantin. Begitu juga hitungan tanggal dilangsungkannya pernikahan. Sehingga nikah di malam songo menjadi pilihan masyarakat Jawa, karena dianggap mudah dan tidak repot menghitung hari.