Meninjau Ulang Integrasi Artificial Intelligence dalam Pendidikan

Mahasiswa Magister Psikologi Unair.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arief Rahman Nur Fadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, selangkah lagi resmi memasukan AI (Akal Imitasi) ke dalam kurikulum sekolah tepatnya mulai semester depan atau tahun ajaran baru 2025/2026. Materi terkait AI nantinya bukan termasuk mata pelajaran wajib, melainkan hanya mata pelajaran pilihan mulai kelas 5 sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas.
Mendikdasmen menuturkan integrasi AI dalam kurikulum akan segera terealisasi. Pembentukan capaian pembelajaran serta uji publik telah rampung. Pelaksanaan teknisnya tinggal menunggu Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) setelah ada harmonisasi dari Kementerian Hukum.
Integrasi ini sudah diwacanakan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, sejak November 2024 kala memberi sambutan dalam rapat koordinasi evaluasi pendidikan dasar dan menengah. Menurutnya, Indonesia tidak boleh kalah dengan negara lain yang telah lebih dulu melakukan gebrakan serupa. Dirinya menganggap Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga inovator. Sehingga butuh para ahli AI demi terwujudnya generasi emas.
Dilihat dari segi manfaat, AI memang bisa memperbaharui cara siswa belajar, menciptakan karya, dan memecahkan masalah. Siswa juga dapat mempersonalisasi pengalaman belajar sesuai kebutuhan dan gaya belajar termasuk menyesuaikan dengan kecepatan belajar. Sehingga, kemajuan teknologi ini dapat mendukung optimalisasi belajar mandiri siswa.
Terdapat beberapa bukti yang mendukung klaim tersebut. Penelitian yang dilakukan Weng, Li dan Hsu (2021) menunjukan bahwa AI dalam Zenbo Robot memungkinkan siswa sekolah dasar memiliki rekan belajar untuk menyelesaikan dan mereview ulang permasalahan matematika. Meningkatkan hasil belajar berkat pembelajaran mandiri dibantu oleh AI. Selain itu, Napierala dkk (2023) mengembangkan materi menggunakan AI untuk mengajarkan terkait dengan pendidikan komputasi. Materi ini telah diuji dan berhasil meningkatkan pemahaman siswa sekolah dasar.
Kesiapan Siswa Menyambut Teknologi AI
Sayangnya, di Indonesia, penerapan AI masih sangat terbatas lantaran dunia pendidikan masih berkutat dengan berbagai masalah kompleks yang tidak kunjung tampak titik terangnya. Mulai dari infrastruktur, gaji guru, sistem zonasi, hingga kurikulum.
Penggunaan teknologi canggih AI memerlukan kemampuan tingkat tinggi dalam memaksimalkan potensinya agar tepat guna. Dalam hal ini, kesiapan siswa masih menjadi tanda tanya. Kemampuan literasi, sebagai modal kesiapan dasar, pelajar Indonesia masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia menempati peringkat ke-70 dari 80 negara dengan skor literasi membaca 359. Jauh di bawah rata-rata global dengan skor 476.
Rendahnya kemampuan literasi berakibat pada sulitnya siswa dalam memahami bacaan. Menurut Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, sebanyak 75 persen siswa berusia 15 tahun kesulitan dalam memahami secara utuh makna dari apa yang mereka baca. Konsekuensi lainnya, siswa cenderung menelan informasi mentah-mentah. Kondisi ini sangat berbahaya mengingat AI Chatbot cenderung menyajikan informasi tanpa mencantumkan sumber dan sering menyesatkan.
Bila merujuk pada Taksonomi Bloom, teori kognitif populer milik Benjamin Bloom, pelajar Indonesia kebanyakan masih berada di level terendah dari enam level kognitif. Yakni siswa hanya mampu mengingat informasi yang telah diberikan.
Parahnya lagi, meskipun mampu mengingat, ada kemungkinan informasi yang masuk bermasalah akibat rendahnya kemampuan pemahaman. Efeknya siswa kesulitan melakukan proses berpikir lebih tinggi mulai dari mengaplikasikan informasi hingga menciptakan ide. Ini dikarenakan semuanya membutuhkan pondasi pemahaman informasi yang baik.
Penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar juga seringkali disalahgunakan siswa. Akses internet bukan untuk memperkaya pengetahuan, melainkan mencari jawaban instan terutama saat mengerjakan soal-soal analitis seperti matematika. Buktinya dapat langsung dilihat pada situs Brainly, forum tanya jawab soal yang sering disalahgunakan oleh siswa. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana jadinya bila AI, yang saat ini mampu berpikir analitis dan memecahkan masalah, digunakan dengan bebas di sekolah.
Kekhawatiran ini bukan tanpa sebab. Penelitian yang dilakukan oleh Fan dan kawan-kawan pada tahun 2023 menunjukan AI memang mampu meningkatkan kemandirian dan hasil belajar. Namun penggunaan AI seperti Chat GPT juga dapat membuat siswa bergantung terhadap teknologi. Memicu “metacognitive laziness” atau kemalasan berpikir kritis dan mendalam.
Wajib Ditinjau Ulang
Atas berbagai pertimbangan tersebut, integrasi AI dalam kurikulum perlu ditunda dan ditinjau ulang. Utamanya agar mencegah pergeseran orientasi serta dampak yang tidak diinginkan. Alih-alih membantu kemandirian belajar dan meningkatkan kecerdasan, siswa malah memindahkan tanggung jawab kognitif ke perangkat AI.
Kemendikdasmen punya tanggung jawab untuk terlebih dahulu fokus membekali siswa dengan kemampuan literasi dan “kesalehan digital”, kesadaran agar teknologi tidak disalahgunakan. Memang kita harus adaptif dengan perkembangan zaman, namun jawabannya tidak selalu dengan memasukan AI sebagai mata pelajaran.
Misal memberikan pemahaman aplikatif dan kritis tentang bagaimana AI hadir dan berperan dalam kehidupan, khususnya di dunia pendidikan. Seperti bagaimana AI dapat membantu memberikan umpan balik konstruktif dan merekomendasikan materi belajar personal. Sembari diajarkan juga cara bersikap etis dan berpikir kritis dalam penggunaannya tanpa harus jadi ahli AI.
Meninjau ulang bukan berarti menolak. Justru menunjukan kebijaksanaan dalam merespon perkembangan zaman dan tidak terburu-buru alias Fomo (Fear of Missing Out) melihat negara lain. Dengan ini, integrasi AI dalam pendidikan dapat berlangsung lebih bijak dan selaras dengan kebutuhan serta kesiapan peserta didik.
