KDM Syndrome dalam Parenting: Ancaman Barak Tentara dan Luka Psikologis Anak

Bapak-Bapak Biasa, Menulis Karena Hidup Nggak Pernah Biasa - Sedang menyelesaikan Magister Teologi di STAKat Negeri Pontianak - Guru Partikelir Sekolah Katolik di Tangsel.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aris Kurniyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua Hati Orang Tua
Sebagai orang tua dari dua anak, saya pernah berada di titik putus asa. Di tengah kelelahan dan tekanan, saya melontarkan ancaman: “Kalau kamu nakal terus, Ibu titipkan ke barak tentara, seperti kata Kang Dedi Mulyadi.” Saat itu saya kira itu hanya cara menegur—nyatanya, kalimat itu menjadi sumber mimpi buruk, fobia, dan kehancuran rasa aman bagi anak saya.
Anak sulung saya mulai menangis setiap malam, takut melihat tentara di televisi, dan kehilangan kepercayaan pada saya. Ia berkata, “Ibu jahat, Ibu mau menyingkirkan aku.” Kalimat itu menghancurkan hati saya lebih dari apa pun. Saya menyesal, bukan hanya karena telah menakuti, tapi karena saya sadar: kebijakan yang terlihat solutif ternyata bisa menjadi alat kekerasan psikologis ketika sampai di tangan orang tua yang kelelahan dan tidak terlatih.
Curhat ini bukan hanya milik saya. Seorang ayah pun pernah bercerita pada saya, terhenyak mendengar dampak dari kebijakan KDM yang disambut publik secara gegap gempita. Ia pun menyadari, usulan ini ternyata erat dengan budaya maskulinitas toksik: keras, penuh ancaman, dan minim empati. Sementara yang kita butuhkan sebagai orang tua adalah sebaliknya.
Dari pengalaman pahit ini, saya—bersama banyak orang tua lain—mencoba memahami, belajar, dan mengevaluasi. Apa yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak kita? Di sinilah saya ingin mengajak kita merenung lebih dalam
Mendidik dengan Empati, Bukan Ancaman
Sebagai seorang ayah, guru, dan pembelajar parenting, pengalaman saya bukan hanya dari rumah, tapi juga dari ruang kelas dan komunitas orang tua. Saya melihat satu pola berulang: ketika anak berperilaku "tidak sesuai harapan", kita cenderung mencari solusi cepat—dan sayangnya, yang paling mudah adalah mengandalkan ancaman. Saya pun pernah terjebak di dalamnya.
Tapi justru dari pengalaman pribadi saya dan cerita seorang ibu yang anaknya trauma karena ancaman "barak tentara", saya belajar satu hal penting: anak-anak tidak tumbuh karena ditakut-takuti—mereka berkembang ketika merasa aman dan dimengerti.
Menurut psikolog perkembangan, Dr. Rose Mini, ancaman ekstrem seperti ini memicu respons “fight or flight” pada anak. Otak mereka belum mampu membedakan antara ancaman nyata dan hiperbola. Alih-alih patuh, yang muncul justru kecemasan kronis. Saya pun mulai mempelajari: bagaimana cara mendisiplinkan anak tanpa merusak rasa aman mereka?
Menerapkan Disiplin Positif: Belajar dari Montessori dan Pendidikan Karakter
Setelah refleksi panjang, saya mulai menggeser pendekatan saya. Saya terinspirasi dari dua sumber utama: filsafat Montessori dan pendidikan karakter berbasis kekuatan positif.
a. Montessori: Anak Bukan Ember Kosong
Maria Montessori percaya bahwa anak adalah manusia utuh yang sedang berkembang, bukan ember kosong yang harus diisi atau “diluruskan”. Ia menyebut anak sebagai “spiritual embryo”—mereka tumbuh melalui lingkungan yang mendukung eksplorasi, bukan ketakutan.
Jadi saya mulai dengan hal sederhana: menyediakan ruang yang tertata, tenang, dan memberi anak otonomi. Ternyata, anak jauh lebih disiplin saat mereka merasa dipercaya.
Contoh kecil: saat anak saya sering meninggalkan mainannya, saya tidak lagi membentak. Saya sediakan rak kecil, beri contoh merapikan, dan bilang, "Mainanmu juga ingin rumahnya rapi." Ternyata, itu cukup. Mereka mengerti dengan cara yang lebih alami.
b. Pendidikan Karakter: Fokus pada Kekuatan, Bukan Kekurangan
Daripada mengulang-ulang kata "nakal" atau "bandel", saya mulai menggunakan pendekatan positive reinforcement. Saya perhatikan anak-anak lebih responsif saat didekati dengan afirmasi.
Contoh: ketika seorang siswa saya membantu temannya, saya beri pujian spesifik, “Kamu hebat, kamu peduli pada orang lain.” Ini memperkuat karakter empati. Dalam psikologi pendidikan, ini dikenal sebagai pendekatan strength-based education—anak-anak dibangun dari potensinya, bukan dihukum karena celahnya.
Sekolah, Orang Tua, dan Kolaborasi Empatik
Sebagai guru, saya percaya bahwa disiplin bukan tugas eksklusif sekolah atau rumah—tapi hasil kolaborasi keduanya. Maka saya mulai rutin berdialog dengan orang tua murid. Kami tidak membahas “kenakalan”, tapi kebutuhan emosional anak.
Misalnya, ketika ada siswa yang agresif, alih-alih memberi sanksi langsung, kami selidiki: apakah ia sedang mengalami tekanan di rumah? Apakah ia kurang tidur? Lalu kami bentuk pendekatan intervensi yang lembut dan suportif.
Bagi saya, inilah makna sejati dari pendidikan berbasis karakter: melihat anak bukan dari perilakunya di permukaan, tapi dari akar emosinya.
Menolak Ancaman: Kritik terhadap Pendekatan Militeristik
Sebagai ayah dan guru, saya memahami niat baik di balik usulan seperti barak tentara—ingin menciptakan generasi yang disiplin. Tapi pendekatan ini mengabaikan perkembangan otak dan psikologis anak.
Anak usia SD belum mampu memproses konsep disiplin militer secara utuh. Otak limbik mereka belum stabil; mereka belajar lewat keterikatan, bukan intimidasi. Jika kita tanamkan rasa takut sejak dini, yang tumbuh bukan tanggung jawab, melainkan kepatuhan kosong atau trauma.
Penelitian Universitas Harvard (2020) menyebutkan, anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh ancaman memiliki risiko 3x lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan di masa dewasa. Ini bukan sekadar teori—saya melihat langsung bagaimana kebijakan yang dianggap “solusi cepat” justru menjadi bibit masalah jangka panjang.
Saya khawatir ketika negara atau figur publik membenarkan cara-cara semacam ini, kita sedang melegitimasi gaya asuh berbasis ketakutan, padahal yang kita butuhkan hari ini adalah literasi emosional, empati, dan keterhubungan sosial.
Ajakan dari Seorang Ayah dan Guru: Mari Latih Diri Kita, Bukan Takutkan Anak
Kita, para orang tua dan pendidik, sejatinya sedang tumbuh bersama anak-anak. Mereka bukan proyek untuk diselesaikan, melainkan pribadi yang sedang dibentuk—dengan cinta, contoh nyata, dan ruang aman.
Maka, daripada bertanya “bagaimana membuat anak menurut?”, mungkin lebih baik kita bertanya:
“Apa yang dibutuhkan anak agar ia merasa cukup aman untuk belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab?”
Karena dalam pendidikan sejati, disiplin bukan hasil dari takut pada hukuman, melainkan buah dari rasa hormat dan tanggung jawab yang tumbuh dari dalam diri.
Anak Tidak Butuh Barak, Mereka Butuh Bimbingan
Usulan semacam “barak tentara untuk anak nakal” mungkin terdengar solutif bagi sebagian orang. Tapi dari sudut pandang seorang ayah, guru, dan pembelajar parenting, saya percaya kita bisa lebih bijak. Dunia anak bukan ruang untuk eksperimen keras—tapi ladang subur yang menanti kasih sayang, perhatian, dan bimbingan.
Anak bukan pasukan yang harus dilatih tunduk. Mereka adalah pribadi yang sedang tumbuh. Dan kita, orang tua dan guru, punya tanggung jawab besar: bukan untuk membuat mereka takut, tapi membantu mereka menjadi versi terbaik dari dirinya.
Anak-anak bukan prajurit yang perlu “dihancurkan” lalu dibentuk ulang. Mereka adalah tunas yang butuh ditutupi saat hujan, diberi sinar saat gelap, dan dipeluk saat salah.
