6 Jenis Benjolan di Payudara yang Perlu Diwaspadai Wanita

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Benjolan di payudara sering kali menimbulkan kekhawatiran, terutama karena dikaitkan dengan risiko kanker. Namun, tak semua jenis benjolan di payudara bersifat ganas.
Beberapa jenis benjolan di payudara bersifat jinak dan tak berbahaya. Meski demikian, penting bagi setiap wanita untuk memahami perbedaan jenis benjolan tersebut agar dapat mengambil tindakan yang tepat.
Artikel ini akan membahas berbagai jenis benjolan di payudara, penyebabnya, serta langkah yang sebaiknya dilakukan jika menemukannya.
Jenis Benjolan di Payudara
Merujuk Mayo Clinic, benjolan di payudara bisa muncul akibat perubahan hormon, infeksi, atau pertumbuhan jaringan abnormal. Beberapa kondisi bisa datang dan pergi seiring siklus menstruasi, tetapi ada pula yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Oleh karena itu, mengenali jenis benjolan di payudara sangat penting untuk mendeteksi dini masalah kesehatan yang mungkin terjadi. Berikut beberapa jenis benjolan di payudara yang umum ditemukan, dikutip dari American Cancer Society.
1. Fibroadenoma
Salah satu jenis benjolan jinak ini paling sering ditemukan pada payudara wanita, khususnya di rentang usia 15 hingga 35 tahun. Benjolan ini cenderung terasa kenyal, padat, bisa digerakkan saat disentuh, dan umumnya tak menimbulkan rasa sakit.
Fibroadenoma terbentuk sebagai respons terhadap hormon estrogen dan sering kali tak memerlukan tindakan medis serius. Namun, jika ukurannya membesar atau menyebabkan ketidaknyamanan, dokter mungkin menyarankan untuk mengangkatnya melalui prosedur pembedahan ringan.
2. Kista payudara
Kista merupakan benjolan berisi cairan yang biasanya terasa bulat dan bisa lunak maupun keras, tergantung pada tekanan di dalamnya. Kista ini lebih sering ditemukan pada wanita berusia 35 hingga 50 tahun, dan cenderung muncul menjelang masa menstruasi akibat fluktuasi hormon.
Beberapa kista bisa menimbulkan rasa nyeri, terutama jika ukurannya cukup besar. Meskipun umumnya tak berbahaya, kista dapat disedot untuk mengeluarkan cairannya jika mengganggu kenyamanan atau menyebabkan kekhawatiran.
3. Mastitis
Ini merupakan kondisi peradangan pada jaringan payudara yang sering dialami oleh ibu menyusui. Peradangan ini disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama ketika saluran ASI tersumbat.
Gejala mastitis meliputi pembengkakan, kemerahan, rasa panas, serta nyeri pada payudara, dan bisa juga disertai demam. Penanganannya dengan cara pemberian antibiotik serta perawatan mandiri seperti kompres hangat dan tetap menyusui untuk membantu mengosongkan saluran susu yang tersumbat.
Baca Juga: 5 Cara Memijat Payudara untuk Melancarkan ASI
4. Lipoma
Lipoma adalah benjolan jinak yang terdiri dari jaringan lemak. Selain terasa lunak saat disentuh, benjolan ini dapat digerakkan dengan mudah dan pertumbuhannya biasanya sangat lambat.
Benjolan ini bisa muncul di berbagai bagian tubuh, termasuk payudara. Meski tak menimbulkan bahaya dan tak berubah menjadi kanker, lipoma bisa diangkat melalui prosedur kecil jika ukurannya besar atau menimbulkan gangguan estetika maupun fisik.
5. Abses payudara
Abses merupakan benjolan yang disebabkan oleh infeksi yang membentuk kantong berisi nanah di jaringan payudara. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit yang signifikan, pembengkakan, kemerahan, dan bisa juga disertai demam.
Abses sering kali terjadi pada ibu menyusui, terutama jika mastitis atau radang pada kelenjar air susu tak ditangani dengan baik. Penanganannya dengan cara membersihkan nanah, baik secara manual maupun melalui prosedur bedah kecil, serta pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi.
6. Kanker payudara
Berbeda dengan benjolan jinak, benjolan akibat kanker biasanya terasa keras, tak dapat digerakkan, dan sering kali tak menimbulkan rasa sakit pada awalnya.
Tanda lain yang menyertainya bisa berupa perubahan bentuk payudara, kulit yang tampak seperti kulit jeruk, puting yang tertarik ke dalam, atau keluarnya cairan abnormal dari puting.
Deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan, sehingga pemeriksaan medis seperti mammografi, USG, dan biopsi sangat dianjurkan jika ditemukan benjolan mencurigakan.
(NDA)
