Mengenal Apa Itu Rematik dan Cara Mendiagnosisnya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit rematik nampaknya tak lagi asing bagi sebagian kaum lansia. Namun, siapa sangka bahwa penyakit ini bisa menyerang berbagai usia. Pembahasan kali ini akan mengulas lebih jauh tentang apa itu rematik.
Rematik atau secara medis dikenal dengan istilah rheumatoid artritis ini biasanya muncul secara perlahan-lahan. Bahkan, awalnya nyeri sendi yang dirasakan penderitanya tak terlalu mengganggu. Namun, lama-kelamaan rasa nyeri itu semakin hebat.
Selama ini rematik lebih dikenal sebagai penyakit yang menyerang sistem otot dan tulang. Padahal, rematik juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ lain seperti jantung, paru-paru, sistem saraf, ginjal, kulit, hingga mata.
Jika tidak segera ditangani, rematik bisa menyebabkan berbagai masalah. Salah satunya timbul rasa tidak nyaman akibat nyeri yang dapat mengganggu aktivitas.
Langsung saja, berikut penjelasan seputar penyakit rematik, komplikasi yang ditimbulkan, hingga upaya mendiagnosisnya.
Apa Itu Rematik?
Mengutip buku Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout karangan Misnadiarly, rematik atau rheumatoid arthritis adalah penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh berbalik menyerang sendi, otot, tulang, dan organ tubuh lainnya.
Rematik termasuk penyakit autoimun. Dalam hal ini, area persendian adalah area yang diserang oleh sistem imun pengidap rheumatoid arthritis. Akibatnya, terjadi peradangan kronik dan rasa nyeri tak tertahankan pada sendi-sendi yang terserang.
Rematik sering kali dikelompokkan dalam penyakit radang sendi atau arthritis. Namun, rematik sendiri sebenarnya juga mencakup banyak kondisi lain seperti osteoarthritis, sindrom sjogren, ankylosing spondylitis, dan lupus.
Sementara itu, menurut situs Cleveland Clinic, penyebab pasti penyakit rematik memang belum diketahui. Namun, sebuah studi menunjukkan ada beberapa hal yang mampu meningkatkan risiko rematik, yakni:
Jenis kelamin wanita;
Usia 40-60 tahun;
Memiliki riwayat keluarga dengan rematik;
Sering terpapar asap rokok.
Komplikasi Rematik
Penyakit rematik yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan beberapa komplikasi serius. Dr. Scott Dougherty dalam buku Acute Rheumatic Fever and Rheumatic Heart Disease menyebutkan beberapa komplikasi rematik berdasarkan jenis penyakit yang dialami pasien, di antaranya:
1. Komplikasi Rheumatoid Arthritis
Carpal tunnel syndrome
Penyakit jantung
Limfoma
Osteoporosis
Insomnia
2. Komplikasi Sindrom Sjogren
Kerusakan mata atau kebutaan
Limfoma non-Hodgkin
Hipotiroidisme
Neuropati perifer
Penyakit ginjal, seperti batu ginjal atau radang ginjal
Fenomena Raynaud
3. Komplikasi Ankylosing Spondylitis
Patah tulang belakang (osteoporosis)
Radang mata (iritis)
Gangguan pada jantung
Sindrom cauda equina
4. Komplikasi Lupus
Gagal ginjal
Pleuritis
Vaskulitis (peradangan pembuluh darah)
Perikarditis
Avaskular nekrosis (kematian jaringan tulang)
Komplikasi kehamilan seperti keguguran, kelahiran prematur, preeklamsia, dan cacat jantung pada janin
5. Komplikasi Artritis Psoriasis
Artritis mutilans yang dapat menyebabkan cacat permanen
Tekanan darah tinggi
Penyakit metabolik
Diabetes
Penyakit jantung
Diagnosis Rematik
Penyakit rematik cukup sulit untuk didiagnosis pada fase awal, karena tanda dan gejalanya menyerupai penyakit-penyakit yang lain. Sebagai langkah awal, dokter akan melakukan tanya jawab dengan pasien terkait keluhan yang dialami.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik di area sendi yang mengalami kemerahan, nyeri, kaku, atau pembengkakan. Dari sinilah dokter akan melanjutkan pemeriksaan penunjang, seperti:
1. Tes Darah
Tes darah utamanya bertujuan untuk mendeteksi tanda peradangan, keberadaan antibodi tertentu, atau gangguan fungsi organ. Selain itu, tes darah juga digunakan untuk:
Mendeteksi keberadaan faktor rheumatoid pada rheumatoid arthritis.
Menilai fungsi hati serta kadar antibodi anti-La dan anti-Ro pada sindrom sjögren.
Pada pasien yang diduga terserang lupus, dokter akan melakukan hitung darah lengkap, tes laju endap darah, dan tes antibodi antinuclear untuk kembali memastikan diagnosisnya.
2. Pemindaian
Pemindaian bertujuan untuk mendeteksi peradangan dan penumpukan cairan, serta perubahan pada tulang dan sendi secara lebih jelas. Jenis pemindaian yang dapat dilakukan oleh dokter bisa berupa rontgen, USG, CT scan, atau MRI.
3. Pemeriksaan Lain
Selain pemeriksaan penunjang di atas, dokter dapat melakukan pemeriksaan lain untuk mendiagnosis jenis penyakit rematik tertentu, yaitu:
1. Pemeriksaan sindrom Sjogren
Adapun pemeriksaannya berupa:
Tes Schirmer dan tear break-up time untuk memeriksa dan mengukur produksi air mata yang dikeluarkan kelenjar air mata.
Tes produksi air liur untuk mengetahui jumlah air liur yang diproduksi.
Biopsi atau pemeriksaan sampel jaringan dari bibir bagian dalam untuk mendeteksi keberadaan limfosit di dalam jaringan.
2. Pemeriksaan lupus
Pemeriksaan penyakit rematik jenis ini dapat ditinjau melalui:
Tes urine
Pemeriksaan fungsi ginjal dan hati
Ekokardiografi
3. Pemeriksaan ankylosing spondylitis
Untuk penyakit rematik jenis ini, pemeriksaan yang dilakukan dengan cara memeriksa gen HLA-B27.
Baca Juga: Tepis Mitos Rematik, Mandi Malam Punya Manfaat Baik untuk Tubuh
(VIO)
Frequently Asked Question Section
Apa itu rematik?

Apa itu rematik?
Rematik atau rheumatoid arthritis adalah penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh berbalik menyerang sendi, otot, tulang, dan organ tubuh lainnya.
Apa faktor risiko rematik?

Apa faktor risiko rematik?
Jenis kelamin wanita, usia 40-60 tahun, memiliki riwayat keluarga dengan rematik, dan sering terpapar asap rokok.
Apa penyebab rematik di usia muda?

Apa penyebab rematik di usia muda?
Rematik termasuk penyakit autoimun. Dalam hal ini, area persendian adalah area yang diserang oleh sistem imun pengidap rheumatoid arthritis. Akibatnya, terjadi peradangan kronik dan rasa nyeri tak tertahankan pada sendi-sendi yang terserang.
