Metronidazole Obat untuk Apa? Ini Kegunaan, Aturan Pakai, dan Efek Sampingnya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
Ā·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Metronidazole obat apa? Metronidazole adalah antibiotik yang digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri dan parasit. Jenis obat ini tidak bisa dibeli sembarangan karena dosisnya harus sesuai dengan resep dokter.
Menurut laman Everyday Health, Metronidazole termasuk dalam kelas obat antimikroba nitroimidazole. Obat ini bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri.
Oleh sebab itu, Metronidazole hanya efektif untuk mengobati infeksi bakteri/parasit, bukan untuk menangani infeksi virus, seperti batuk, pilek, atau flu.
Metronidazole tersedia dalam berbagai bentuk sesuai penggunaannya. Ada yang dikonsumsi dalam bentuk tablet dan sirup, ada pula yang berupa gel, krim, atau peluru yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui anus.
Beberapa merek dagang Metronidazole antara lain Flagyl, Progyl, Flasdystin, dan Trichodazoil. Bagi yang ingin tahu lebih jauh mengenai Metronidazole obat untuk apa, simak kegunaan, aturan pakai, dan efek sampingnya berikut ini.
Kegunaan Metronidazole
Seperti yang dijelaskan, manfaat Metronidazole paling utama adalah untuk menangani infeksi bakteri dan parasit. Biasanya keduanya menyerang kulit, vagina, tulang, jantung, darah, perut, hati, persendian, sistem saraf, saluran pernapasan, dan area tubuh lainnya.
Dalam beberapa kondisi, obat ini diresepkan untuk mengobati penyakit menular seksual (PMS). Mengutip situs Drugs, Metronidazole berguna untuk pengobatan vaginosis bakteri, yaitu infeksi yang disebabkan oleh terlalu banyak bakteri berbahaya di vagina.
Metronidazole juga digunakan untuk mengobati trikomoniasis, yakni penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit. Biasanya, kedua pasangan seksual akan dirawat dalam waktu bersamaan, sekalipun salah satunya tidak bergejala.
Aturan Pakai Metronidazole
Metronidazole harus dikonsumsi sesuai dengan petunjuk medis. Biasanya dokter akan memberikan dosis berdasarkan kondisi medis dan respons pasien terhadap pengobatan.
Karena termasuk jenis antibiotik, Metronidazole harus diminum sampai habis, meskipun gejala yang dirasakan sudah hilang sepenuhnya. Pasalnya, menghentikan pengobatan terlalu dini justru berisiko mengakibatkan infeksi datang kembali.
Berdasarkan informasi dari laman WebMD, obat jenis Metronidazole mengandung bahan yang tidak aktif dan dapat menyebabkan reaksi alergi. Jadi, sebelum mengonsumsinya, beri tahu dokter jika Anda memiliki alergi tertentu, terutama alergi terhadap Metronidazole.
Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, yakni:
Informasikan ke dokter jika memiliki riwayat penyakit hati, ginjal, kelainan darah, dan kelainan genetik langka tertentu.
Hindari minuman beralkohol dan produk yang mengandung propilen glikol selama mengonsumsi obat ini dan tiga hari setelah menghabiskannya.
Informasikan kepada dokter mengenai obat apa saja yang sedang dikonsumsi, termasuk obat herbal atau suplemen.
Bagi ibu hamil dan menyusui, diskusikan terlebih dahulu risiko dan efek sampingnya dengan dokter.
Efek Samping Metronidazole
Mengutip National Health Service, Metronidazole yang digunakan dalam bentuk krim atau gel biasanya tidak memiliki efek samping berbahaya.
Namun, untuk bentuk tablet, cairan, suppositoria, atau gel vagina, Metronidazole dapat menyebabkan beberapa efek samping berikut ini:
Pusing
Mual
Muntah
Diare
Nafsu makan hilang
Sembelit
Rasa pahit di mulut
Perubahan warna urine menjadi lebih gelap
Peringatan Sebelum Menggunakan Metronidazole
Sebagai golongan obat keras, Metronidazole hanya boleh digunakan sesuai resep dokter. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan Metronidazole, yaitu:
Jangan menggunakan Metronidazole jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap obat ini. Pastikan untuk memberi tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki sebelum menggunakan obat ini.
Beri tahu dokter jika Anda telah menggunakan Disulfiram dalam 14 hari terakhir. Menggunakan Metronidazole bersamaan dengan Disulfiram dapat menyebabkan reaksi yang serius dan berpotensi membahayakan kesehatan.
Jangan mengonsumsi minuman beralkohol atau makanan, serta obat-obatan yang mengandung propylene glycol dalam rentang waktu 3 hari sebelum menggunakan Metronidazole dan 3 hari setelahnya karena dapat menyebabkan efek samping.
Konsultasikan ke dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit liver, penyakit Crohn, gangguan irama jantung, neuropati perifer (kerusakan saraf pada ekstremitas), kelainan saraf optik, meningitis, ensefalopati, atau kelainan darah seperti leukopenia atau anemia.
Metronidazole tidak boleh digunakan untuk ibu hamil dan menyusui, serta memiliki gangguan fungsi hati dan ginjal.
Konsultasikan ke dokter jika Anda menderita infeksi jamur di vagina, mulut, atau area tubuh lainnya. Dokter perlu mengevaluasi kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh sebelum meresepkan Metronidazole.
Konsultasikan ke dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit ginjal atau sedang menjalani cuci darah.
Metronidazole tidak dapat digunakan dalam jangka waktu panjang karena dapat menyebabkan komplikasi.
Cara Menggunakan Metronidazole dengan Benar
Metronidazole adalah obat yang efektif untuk mengobati infeksi bakteri dan parasit. Untuk memastikan penggunaan yang tepat dan efektif, berikut cara menggunakan Metronidazole dengan benar:
Pastikan untuk mengikuti petunjuk dosis penggunaan yang telah ditentukan oleh dokter. Jangan mengubah dosis atau jadwal penggunaan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
Untuk penggunaan infus Metronidazole, infus hanya boleh diberikan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Infus biasanya hanya digunakan jika pasien tidak dapat menelan obat tablet.
Untuk penggunaan tablet Metronidazole, tablet dapat diminum dengan air putih. Obat ini dapat dikonsumsi setelah makan untuk mengurangi risiko gangguan pencernaan. Jangan membelah, mengunyah, atau menghancurkan tablet tanpa sepengetahuan dokter.
Untuk penggunaan suspensi Metronidazole, kocok botol terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat. Pastikan untuk mengikuti instruksi penggunaan yang tertera pada kemasan obat. Obat ini dapat dikonsumsi 1 jam sebelum makan.
Untuk penggunaan Metronidazole dalam bentuk supositoria, ikuti petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan obat. Supositoria biasanya dimasukkan ke dalam anus (rektum). Pastikan tangan Anda bersih sebelum dan setelah penggunaan supositoria.
Perlu diingat, jangan menghentikan penggunaan obat sebelum waktu yang ditentukan meski gejala sudah membaik. Sebab, kondisi ini berisiko menyebabkan infeksi kambuh dan sulit diobati karena resistensi antibiotik.
Interaksi Metronidazole dengan Obat Lain
Sama seperti obat-obatan lainnya, Metronidazole dapat berinteraksi dengan beberapa obat lain. Interaksi obat dapat mempengaruhi efektivitas pengobatan, meningkatkan risiko efek samping, atau mengurangi efek obat itu sendiri.
Mengutip laman National Health Service, berikut adalah beberapa interaksi Metronidazole dengan obat lain yang perlu diperhatikan:
Disulfiram, yaitu obat untuk membantu mengatasi kecanduan alkohol. Penggunaan Metronidazole bersamaan dengan Disulfiram dapat meningkatkan risiko timbulnya gejala psikosis, seperti linglung, delusi, atau halusinasi.
Warfarin, yaitu obat untuk mengobati dan mencegah penggumpalan darah. Metronidazole dapat meningkatkan risiko perdarahan jika digunakan bersamaan dengan antikoagulan seperti Warfarin.
Lithium, yaitu obat untuk mengobati beberapa jenis kondisi kesehatan mental. Penggunaan Metronidazole bersama Lithium dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.
Ciclosporin, yaitu obat untuk mengurangi aktivitas sistem kekebelan tubuh. Apabila digunakan bersamaan, Metronidazole dapat meningkatkan risiko efek samping dari obat Ciclosporin.
Phenytoin dan phenobarbital, yaitu obat yang dipakai untuk mengobati epilepsi. Penggunaan Metronidazole bersama Phenytoin atau Phenobarbital dapat menurunkan efektivitas Metronidazole.
Busulfan atau Fluorouracil, yaitu obat yang digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker. Metronidazole dapat meningkatkan risiko efek samping dari obat-obatan seperti Busulfan dan Fluorouracil.
Baca Juga: Bagaimana Keamanan Metronidazole untuk Ibu Menyusui?
Bahaya Metronidazole
Dikutip dari Drug Central, Metronidazole memiliki beberapa efek samping yang dapat muncul setelah mengonsumsi obat ini, di antaranya:
Sakit kepala
Mual dan muntah
Diare
Sakit perut
Mengantuk
Nafsu makan hilang
Rasa pahit di mulut
Selain efek samping di atas, segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami sejumlah efek samping yang lebih serius dan membahayakan kesehatan, seperti:
Hepatitis kolestatik
Urtikaria (biduran)
Anoreksia
Kejang
Nyeri buang air kecil
Peningkatan enzim hati
Sulit berbicara
Sakit kepala berat dan leher terasa kaku
Mati rasa di tangan atau kaki
Gangguan penglihatan, seperti penglihatan buram, nyeri di belakang mata, atau melihat kilatan cahaya
Ataksia (gangguan gerakan tubuh karena ada masalah pada otak)
Vagina terasa gatal dan panas serta nyeri saat berhubungan intim
Luka lepuh di mulut, gusi bengkak, dan kesulitan menelan
Jika merasakan efek samping yang tidak kunjung membaik, segera hentikan pemakaian obat. Konsultasikan kondisi yang dialami kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan medis segera.
(ADS & SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa manfaat obat Metronidazole?

Apa manfaat obat Metronidazole?
Manfaat Metronidazole paling utama adalah untuk menanganiĀ infeksi bakteri dan parasit.
Metronidazole apakah obat keras?

Metronidazole apakah obat keras?
Jenis obat ini tidak bisa dibeli sembarangan karena dosisnya harus sesuai dengan resep dokter yang sudah ditentukan.
Apakah Metronidazole menyebabkan alergi?

Apakah Metronidazole menyebabkan alergi?
Metronidazole mengandung bahan yang tidak aktif dan dapat menyebabkan reaksi alergi.
