Penyebab, Faktor Risiko, dan Gejala Hipotermia yang Dapat Mengancam Nyawa

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hipotermia adalah suatu kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah 95° F. Penurunan suhu ini dapat mengakibatkan komplikasi besar bagi tubuh, termasuk kematian. Gejala hipotermia yang dialami tiap orang bisa berbeda-beda, tergantung pada tingkatannya.
Penyebab umum hipotermia adalah paparan suhu dingin dalam waktu tanpa pakaian pelindung yang menghangatkan tubuh atau tenggelam di dalam air dingin. Hipotermia juga dapat diinduksi secara sengaja, yakni dengan menurunkan temperatur tubuh menjadi 30-32° C.
Suhu tubuh yang rendah bisa memperlambat aktivitas otak, pernapasan, dan detak jantung. Akibatnya, kebingungan dan kelelahan dapat terjadi, sehingga akan menghambat kemampuan seseorang untuk dapat berpikir dengan jernih.
Faktor Risiko Hipotermia
Bayi dan orang lanjut usia sangat rentan mengalami hipotermia. Bayi dapat terkena hipotermia karena memiliki permukaan tubuh lebih luas dibandingkan dengan massa total tubuh, sehingga pelepasan panas lebih mudah terjadi.
Sementara itu, hipotermia pada orang lanjut usia dapat terjadi karena laju metabolisme yang lebih rendah daripada orang yang lebih muda. Karenanya, orang lanjut usia lebih sulit mempertahankan temperatur normal tubuh jika suhu di sekitarnya dingin.
Mengutip buku Prinsip-2 Sains untuk Keperawatan terbitan Erlangga, ada beberapa faktor risiko lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami hipotermia, di antaranya:
1. Penyakit mental dan demensia
Penyakit mental, seperti skizofrenia dan gangguan bipolar, dapat menjadi faktor risiko yang lebih besar seseorang mengalami hipotermia.
Demensia atau kehilangan ingatan yang sering terjadi dengan kesulitan komunikasi dan pemahaman, juga dapat meningkatkan risiko hipotermia.
Orang dengan gangguan mental mungkin bisa saja tidak berpakaian dengan tepat ketika cuaca dingin. Mereka juga mungkin tidak menyadari bahwa mereka kedinginan dan mungkin tinggal di luar dalam suhu dingin terlalu lama.
2. Alkohol dan penggunaan narkoba
Alkohol atau penggunaan narkoba juga dapat merusak penilaian seseorang tentang hipotermia. Seseorang yang mengonsumi narkoba mungkin akan kehilangan kesadaran ketika berada di cuaca dingin yang berbahaya.
Sementara itu, alkohol sangat berbahaya karena memberikan kesan palsu, yakni seakan-akan menghangatkan bagian dalam. Pada kenyataannya, hal itu menyebabkan pembuluh darah melebar dan kulit kehilangan lebih banyak panas.
3. Kondisi medis lainnya
Kondisi medis tertentu dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu panas yang memadai ketika merasa kedinginan. Kondisi medis yang dapat menyebabkan hal ini, antara lain:
Hipotiroidisme, yang terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan terlalu sedikit hormon
Radang sendi
Dehidrasi
Diabetes
Penyakit parkinson, yang merupakan gangguan sistem saraf yang memengaruhi gerakan
Hal-hal berikut juga dapat menyebabkan kurangnya sensitivitas tubuh pada cuaca dingin, yakni:
Stroke
Cedera tulang belakang
Luka bakar
Malnutrisi
4. Mengonsumsi obat-obatan
Beberapa obat antidepresan, obat penenang, dan antipsikotik dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam pengaturan suhu tubuhnya.
Bicaralah dengan dokter jika menggunakan jenis obat tersebut, terutama apabila sering bekerja di luar dalam cuaca dingin atau tinggal di suatu tempat yang memiliki cuaca dingin.
Gejala Hipotermia
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memberitahukan bahwa gejala hipotermia pada bayi berbeda dari gejala pada orang dewasa. Berikut beberapa gejala hipotermia yang dialami pada bayi:
Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi aktif letergis hipotanus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.
Pernafasan megap-megap dan lambat serta menangis lemah.
Timbul skrema kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan.
Muka bayi berwarna pucat.
Sementara gejala hipotermia pada orang dewasa terbagi menjadi beberapa tingkatan. Mengutip Medical News Today, berikut gejala hipotermia yang kerap dialami orang dewasa:
1. Hipotermia ringan
Gejalanya antara lain:
Suhu tubuh 90–95 °F (32–35 °C)
Kelelahan
Gemetaran
Kelaparan
Mual
Kulit yang kering dan pucat dari biasanya
Detak jantung cepat
Peningkatan tonus otot
Peningkatan tekanan darah
Penurunan memori, penilaian, dan kemampuan berpikir
Ucapan tidak jelas
Kehilangan kendali atas gerakan tubuh
Sering buang air kecil
2. Hipotermia sedang
Gejalanya antara lain
Suhu tubuh antara 86–90°F (30–32°C)
Terus menurunnya kemampuan berpikir
Kelesuan
Pupil membesar dan kurang responsif
Tekanan darah rendah
Detak jantung lambat
Laju pernapasan lambat
Menanggalkan atau melepas pakaian
Peningkatan kerentanan terhadap irama jantung yang tidak normal
3. Hipotermia parah
Gejalanya antara lain:
Suhu tubuh kurang dari 82°F (28°C)
Terus menurunnya aliran darah ke otak, menyebabkan tidak responsif
Penurunan tekanan darah, detak jantung, dan curah jantung yang berkelanjutan
Peningkatan kerentanan terhadap irama jantung yang tidak normal
Sesak di paru-paru
Produksi urine dalam jumlah yang sangat sedikit
Hilangnya refleks
Kegagalan fungsi jantung dan paru-paru
Baca Juga: Penyebab Frostbite dan Faktor Risikonya yang Harus Diwaspadai
(NDA)
Frequently Asked Question Section
Apakah penyakit hipotermia berbahaya?

Apakah penyakit hipotermia berbahaya?
Suhu tubuh yang rendah dapat memperlambat aktivitas otak, pernapasan, dan detak jantung. Akibatnya, kebingungan dan kelelahan dapat terjadi, sehingga menghambat kemampuan seseorang untuk memahami apa yang terjadi dan tidak dapat berpikir dengan jernih.
Apa itu gejala hipotermia?

Apa itu gejala hipotermia?
Tanda-tanda hipotermia antara lain kaki teraba dingin, kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata.
Hipotermia disebabkan oleh apa?

Hipotermia disebabkan oleh apa?
Suhu dingin adalah hal utama yang membuat pertahanan otomatis tubuh menurun. Apabila berada di daerah yang bersuhu dingin, berusahalah untuk menghangatkan diri. Jika tidak segera mendapat kehangatan, tubuh pun akan mengalami hipotermia.
